Jumat, 28 November 2025

Mengenal genre buku: mana yang paling populer?


Kalau mau ngobrol soal buku, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: genre apa sih yang paling banyak dibaca orang? Jawabannya tidak selalu satu saja, karena tiap daerah, tiap usia, bahkan tiap waktu bisa berbeda. Tapi kalau kita ngumpulin beberapa data terkini dari berbagai sumber—dari Indonesia sampai internasional—kita bisa melihat pola yang cukup menarik.

Di bawah ini, kita lihat beberapa genre yang sedang ngetren atau punya pengaruh besar, plus sedikit cerita kenapa mereka bisa populer. Gaya nonformal, supaya enak dibaca, tapi tetap pakai data biar nggak cuma tebak-tebakan.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) Romance: raja yang sepertinya tak tergoyahkan

Kalau ada genre yang selalu muncul di puncak, romance pantas disebut raja. Satu laporan tahun 2025 yang mengumpulkan data penjualan genre menunjukkan bahwa romance menghasilkan sekitar 1,44 miliar dolar AS per tahun—angka yang jauh lebih besar dibanding genre lain. Book and eBook Publishing Company

Kenapa bisa sebesar itu?

·         Pembaca romance cenderung voracious—mereka bisa membaca banyak judul dalam sebulan karena cerita yang cepat, emosional, dan berakhir bahagia.

·         Di era digital, penulis indie bisa masuk pasar dengan mudah lewat platform seperti Kindle Unlimited, jadi suplai cerita yang laku sangat beragam.

·         Tren dan hype juga mendorong pembelian; ketika sebuah judul viral atau ada adaptasi media, pembaca tambah penasaran.

Selain data penjualan global, ada juga fenomena yang terjadi di Eropa. Misalnya di Prancis muncul istilah new romance, yang penjualannya membesar pesat dalam beberapa tahun terakhir. Satu studi menyebut segmen ini menghasilkan belasan juta euro dari jutaan kopi buku yang terjual, dan penjualan naik dua kali lipat dari 2022 ke 2023. Le Monde.fr

Fenomena ini menunjukkan: bukan hanya di pasar Inggris atau Amerika, romance juga kuat di Eropa, dan bentuk atau gaya cerita baru terus muncul. Jadi kalau kamu pikir genre ini cuma favorit di satu tempat, nyatanya penggemarnya tersebar luas, dan bahkan merajai penjualan di banyak negara.

 

2) Mystery / thriller: adrenalin, teka-teki, susah berhenti baca

Genre kedua yang sering muncul di daftar terlaris adalah mystery atau thriller. Laporan yang sama mencatat genre ini menghasilkan sekitar 728 juta dolar AS per tahun, jauh di atas banyak genre lain. Book and eBook Publishing Company

Daya tariknya jelas:

·         Cerita berjalan cepat, sering bikin pembaca merasa harus lanjut satu bab lagi.

·         Konflik dan teka-teki yang memancing otak untuk menebak, ditambah kadang twist yang bikin kaget.

·         Banyak subgenre: crime, psychological thriller, noir, bahkan thriller yang dipadu unsur supernatural. Jadi pembaca punya banyak pilihan sesuai selera.

Genre ini cocok buat pembaca yang ingin sensasi ketegangan tanpa perlu dunia fantasi terlalu rumit atau cerita romantis yang manis. Karena sifat page-turner-nya, thriller sering jadi hits di musim liburan atau ketika membaca malam hari.

 

3) Fantasy: dunia lain yang menjebak imajinasi

Fantasy sudah lama jadi favorit, tapi belakangan ini namanya makin besar—terutama gara-gara media sosial dan komunitas pembaca yang heboh. Data 2025 menyebut genre fantasy menghasilkan sekitar 590 juta dolar AS per tahun, dan tak lagi dianggap niche. Book and eBook Publishing Company

Ada beberapa hal yang membuat fantasy tetap populer:

·         Worldbuilding yang detail, membuat pembaca betah lama-lama di dunia lain.

·         Banyak seri panjang; satu pembaca bisa mengikuti 5–7 buku dalam satu dunia yang sama.

·         Terbukanya akses lewat TikTok, BookTok, dan media lain; judul-judul baru mudah jadi viral, seringkali dari penulis indie atau luar arus utama.

Meski membutuhkan sedikit usaha untuk membangun dunia dan aturan baru, once hooked, pembaca fantasy biasanya menjadi sangat loyal pada seri tertentu. Mereka juga senang berdiskusi dan membuat teori, jadi genre ini punya komunitas yang aktif dan besar.

 

4) Young Adult (YA): bukan cuma untuk remaja—diminati segala usia

YA atau genre untuk pembaca muda ternyata punya pasar yang luas dan bukan hanya remaja. Laporan yang sama mencatat YA menguasai pasar dengan angka penjualan besar, bahkan mayoritas pembeli YA adalah orang dewasa. Book and eBook Publishing Company

Alasan YA begitu populer:

·         Tema coming-of-age, pencarian jati diri, atau konflik emosional yang sebenarnya universal; siapa pun bisa merasa relate.

·         Cerita sering memadukan beberapa elemen populer, misalnya romantis ringan, fantasi, atau misteri—jadi mudah menarik pembaca dari berbagai minat.

·         Ever‑green: beberapa judul YA tetap terus dibaca bertahun-tahun, terutama jika ada adaptasi film atau serial yang bikin hype lagi.

Genre ini sering jadi pintu masuk untuk pembaca baru. Anak muda mungkin mulai dari YA, lalu jika tertarik, mereka bisa eksplor genre lain seperti fantasy, romance, atau bahkan nonfiksi.

 

5) Kekuatan lokal dan preferensi pembaca muda Indonesia

Nilai pasar global memang penting, tapi bagaimana dengan Indonesia sendiri? Ada data yang menarik dari survei lokal tentang selera Gen Z di Indonesia. Di sana, terlihat bahwa banyak Gen Z yang tidak terlalu pilih-pilih genre; sebagian besar mengaku menyukai semua genre bacaan, meski ada sedikit perbedaan preferensi berdasarkan gender. GoodStats Data

Detail lain menunjukkan:

·         Genre fiksi cenderung lebih digemari perempuan dibanding laki-laki dalam survei tersebut, sementara biografi lebih digemari laki-laki.

·         Nonfiksi mendapat perhatian juga, dan penggunaan e-book cukup tinggi di kalangan Gen Z—terutama di usia lebih muda. GoodStats Data

Artinya, di Indonesia ada peluang besar untuk beragam genre. Pembaca muda tidak menutup kemungkinan membaca fiksi, nonfiksi, biografi, atau bahkan genre lain sepanjang kontennya relevan dan mudah diakses. Ini penting bagi penerbit atau komunitas literasi: jangan terlalu terbatas pada satu genre saja; bukalah berbagai pilihan karena minatnya luas.

 

6) Self‑help / edukasi: kuat di Asia, termasuk Indonesia

Jika kita lihat survei lain di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, self‑help atau buku edukasi muncul sebagai genre yang paling banyak dibaca dalam survei Rakuten Insight tahun 2023. Di Indonesia, 83% responden lebih sering membaca lewat smartphone, yang menunjukkan kebiasaan baca digital tinggi. Dari berbagai negara yang disurvei, self‑help berada di posisi teratas dengan proporsi 34% pembaca. Databoks

Ini menunjukkan beberapa poin:

·         Pembaca Asia, termasuk Indonesia, punya minat besar terhadap buku yang menawarkan solusi praktis, pembelajaran, atau pengembangan diri.

·         Kanal digital menjadi jalur utama; pembaca lebih sering mengakses buku lewat smartphone daripada fisik. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan mereka juga membeli atau membaca versi cetak.

·         Genre self-help mudah dikombinasikan dengan promosi online, karena tema-temanya sering sekali dibahas di media sosial, video pendek, atau artikel.

Untuk penerbit, penulis, atau pegiat literasi di Indonesia, genre ini punya peluang besar—apalagi dengan ketersediaan platform digital yang memudahkan distribusi, serta kebutuhan pembaca akan pengetahuan praktis.

 

7) Genre lain yang juga punya tempat penting

Selain lima genre yang sering mendominasi data di atas, masih banyak genre lain yang punya penggemar setia:

·         Historical fiction yang campur antara sejarah nyata dengan cerita dramatis. Genre ini menarik bagi pembaca yang ingin menikmati kisah masa lalu dengan sentuhan fiksi.

·         Children’s books yang terus memupuk pembaca baru dari usia dini.

·         Literary fiction yang meski pasar lebih kecil, punya pembaca setia dan kritik tinggi.

Walau tidak selalu mendominasi angka penjualan global, genre-genre ini tetap punya peran penting dalam ekosistem literasi. Mereka menjaga keberagaman tema, gaya bercerita, dan kualitas sastra.

 

8) Cara memilih genre yang pas buat kamu

Kalau kamu pembaca, jangan hanya melihat mana yang paling populer—tapi juga apa yang kamu ingin rasakan saat membaca. Berikut tips sederhana:

1.      Tertarik cerita yang bikin deg‑degan?
Mulai dari mystery atau thriller.

2.      Suka cerita cinta atau emosi yang kuat?
Coba romance—banyak variasi, dari ringan sampai intens.

3.      Mau pelarian ke dunia lain yang luas?
Fantasy bisa jadi teman lama di malam hari.

4.      Ingin cerita yang mudah relate dan sering jadi pembicaraan?
YA cocok di segala usia.

5.      Butuh motivasi, panduan hidup, atau cara kerja otak yang lebih baik?
Self-help atau edukasi bisa membantu.

6.      Penasaran dengan kisah nyata atau tokoh inspiratif?
Coba biografi atau historical fiction.

Tak ada yang salah memilih genre mana pun. Bahkan bisa jadi justru perpaduan genre yang bikin kamu menemukan buku favorit baru.

 

Penutup: popularitas genre berubah, tapi rasa penasaran pembaca tetap inti

Tren genre bisa naik-turun—dipengaruhi media sosial, film atau serial adaptasi, perubahan minat pembaca, dan faktor budaya lain. Dari romance raksasa, thriller yang adiktif, fantasy yang magis, hingga self-help yang praktis, semuanya punya momentum sendiri.

Yang penting, dari data dan fenomena di atas, terlihat bahwa:

·         Pembaca punya ruang luas untuk memilih.

·         Popularitas genre global sering beresonansi juga di Indonesia, tapi tetap ada kekhasan lokal.

·         Keberagaman genre justru memperkaya dunia literasi; makin banyak pilihan, makin banyak orang yang bisa menemukan kegembiraan membaca.

Jadi, genre apa yang paling populer? Jawabannya bisa satu, bisa banyak—dan boleh berubah dari waktu ke waktu. Yang pasti, selalu ada genre baru atau kombinasi menarik yang siap memikat pembaca berikutnya. Selamat melanglang buana di dunia buku, dan jangan lupa: coba satu genre yang belum pernah kamu baca, mungkin kamu akan menemukan harta karun tak terduga.



Kamis, 27 November 2025

Dampak literasi digital pada kebiasaan membaca buku fisik


Kalau dulu cuma ada dua pilihan: baca buku fisik atau nggak baca sama sekali, sekarang pilihan itu jadi jauh lebih berwarna. Smartphone, tablet, e‑reader, aplikasi bacaan—semuanya bikin dunia literasi makin digital. Lalu bagaimana semua itu berpengaruh ke kebiasaan membaca buku fisik? Apakah digital bikin buku fisik jadi terlupakan, atau malah sebaliknya?

Mari kita ngobrol santai tentang ini, dengan contoh nyata, data, dan sedikit bumbu pengalaman sehari‑hari.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) Tren penurunan minat baca yang bikin kita waspada

Sebelum mengulik soal digital, penting tahu dulu: minat baca terutama di kalangan anak muda sedang menurun di banyak tempat. Contohnya laporan terbaru dari National Literacy Trust di Inggris. Mereka mencatat bahwa pada 2025 hanya sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun yang menikmati membaca di waktu senggang—level terendah dalam 20 tahun. Bahkan yang membaca setiap hari turun di angka terendah sejak survei mereka dimulai. National Literacy Trust

Yang menarik, mereka juga menemukan motivator tertentu: 38% anak muda terdorong membaca saat materi terkait film atau serial favorit, dan 37% karena sesuai minat atau hobi. Satu dari tiga juga terpengaruh oleh sampul atau judul yang menarik. National Literacy Trust

Apa artinya?

·         Penurunan minat baca terjadi, di mana teknologi dan konten digital jelas punya peran.

·         Tapi kalau bacaan digital atau pengaruh media lain disusun dengan cerdas, justru bisa jadi pintu masuk supaya mereka kembali membaca—termasuk buku fisik.

Jadi, bukan cuma tentang digital versus fisik. Ini soal bagaimana kita mengaitkan keduanya agar tetap relevan dengan pembaca muda.

 

2) Literasi digital: bukan musuh buku fisik, tapi bisa jadi pendorong baca

Kalau kamu khawatir digital akan membuat buku fisik kehilangan tempat, ada penelitian lokal yang memberi kabar agak menenangkan. Sebuah studi di Universitas Negeri Jakarta meneliti seberapa sering mahasiswa menggunakan e‑book dan seberapa mudah aksesnya, lalu melihat pengaruhnya terhadap kebiasaan membaca. Hasilnya: frekuensi penggunaan e‑book dan kemudahan akses punya pengaruh positif pada kebiasaan membaca. Lebih menarik lagi, literasi digital memperkuat hubungan antara akses digital dan kebiasaan baca. Proceedings UNESA

Artinya: ketika seseorang punya kemampuan digital yang baik—misalnya tahu cara mencari, memilih, dan memanfaatkan bahan bacaan digital—mereka cenderung punya kebiasaan membaca yang lebih kuat. Dan kebiasaan ini tidak harus berhenti di layar. Banyak dari pembaca digital yang akhirnya mencari buku fisik, karena:

·         Mereka sudah punya ketertarikan dari konten digital.

·         Mereka ingin merasakan pengalaman membaca yang berbeda.

·         Atau sekadar ingin punya catatan fisik, memori visual, atau kenyamanan baca tanpa notifikasi.

Jadi, literasi digital bisa menjadi jembatan menuju buku fisik, bukan hanya pemutus jembatan.

 

3) Kenapa buku fisik tetap punya keunggulan unik di era digital?

Meski ada kemajuan digital, sejumlah penelitian menunjukkan buku fisik punya keuntungan tersendiri, terutama dalam hal pemahaman dan fokus. Artikel dari Psychology Today merangkum penelitian yang menyatakan bahwa pembaca fisik punya tingkat pemahaman hingga 6–8 kali lebih baik dibanding pembaca di e‑reader tertentu. Salah satu alasannya adalah minimnya gangguan digital, serta cara kita memori visual: membalik halaman secara fisik membantu otak memetakan lokasi informasi. Psychology Today

Lebih jauh, pengalaman memegang buku, membalik halaman, atau menyentuh kertas memberi keterlibatan fisik yang berbeda dari layar. Hal ini juga disebutkan sebagai bagian dari bagaimana interaksi dengan objek fisik membantu membangun representasi mental yang lebih koheren. Psychology Today

Selain itu, ada aspek sosial: pergi ke toko buku, bertukar buku dengan teman, atau berbicara dengan pustakawan—semua itu adalah pengalaman sosial yang kerap hilang kalau hanya mengandalkan e‑book saja. Psychology Today

Di Indonesia sendiri, sebuah tulisan di perpustakaan universitas menekankan sensasi dan keterlibatan emosional buku cetak—aroma kertas, tekstur halaman, hingga sensasi membalik lembar—yang bisa meningkatkan daya ingat dan fokus, juga minim gangguan karena tidak ada notifikasi. lib.ub.ac.id

Jadi, kenapa buku fisik masih nge‑hits meski jamannya digital?
Karena buku fisik memberi pengalaman membaca mendalam yang sulit ditiru layar, terutama saat kita ingin fokus, memahami secara dalam, atau mengingat dengan lebih kuat.

 

4) Lalu apa dampak nyata literasi digital pada buku fisik?

Muncul beberapa pola menarik:

a) Lebih banyak pembaca mulai dari layar, lalu lama‑lama pindah ke fisik

Orang yang dulu tidak tertarik membaca mungkin bertemu ebook atau artikel digital yang menarik. Mereka mulai membaca sedikit demi sedikit. Setelah merasa nyaman, mereka ingin melanjutkan dengan versi cetak, apalagi kalau tulisan itu panjang atau ingin disimpan. Digital memicu rasa ingin tahu; buku fisik memberi ruang lebih leluasa untuk menikmati.

b) Baca fisik menjadi pilihan untuk membaca serius

Saat membaca untuk tujuan mendalam—misalnya belajar teori, memahami karya sastra, atau riset—banyak orang merasa buku fisik menawarkan konsentrasi lebih tinggi. Layar memancing rasa ingin cek notifikasi, geser-geser, atau buka aplikasi lain; buku fisik cenderung meredam godaan itu.

c) Penggunaan digital meningkatkan akses sumber bacaan

Literasi digital memudahkan orang menemukan rekomendasi buku fisik, membaca ulasan, atau mencari tempat membeli. Kamu bisa melihat review di platform, tonton video pendek tentang buku, lalu memutuskan membeli versi fisik. Tanpa digital, informasi ini mungkin sulit didapat.

d) Tantangan: konten instan menurunkan stamina baca panjang

Kelemahan literasi digital muncul bila pengguna hanya terbiasa dengan konten super pendek—posting media sosial, video singkat—tanpa latihan fokus membaca panjang. Ini bisa membuat buku fisik terasa berat. Di sinilah peran pendampingan, rekomendasi buku ringan, dan kebiasaan kecil seperti 10 menit membaca buku fisik setiap hari.

 

5) Cara memanfaatkan literasi digital untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku fisik

Kalau sudah tahu digital punya dua sisi—bisa pendorong, tapi juga pengalih perhatian—maka langkah praktisnya:

1.      Gunakan platform digital untuk rekomendasi dan komunitas

o    Buat grup online atau thread diskusi singkat tentang buku fisik.

o    Bagikan kutipan pendek, foto buku, atau pengalaman singkat membaca.

o    Jadi, pembaca digital tahu bahwa ada dunia fisik yang seru menanti.

2.      Tampilkan tantangan membaca ringan dengan dukungan digital

o    Misalnya, challenge baca 1 bab sehari dan bagikan progress di story media sosial.

o    Atau gunakan aplikasi jurnal digital untuk mencatat apa yang kamu pelajari dari buku fisik.

3.      Sediakan konten digital yang mengarahkan ke buku fisik

o    Video review singkat, blog post ringkas, atau podcast yang membahas buku tertentu.

o    Lalu arahkan pembaca ke toko buku atau perpustakaan lokal.

4.      Edukasi literasi digital agar pembaca bisa memilah sumber yang baik

o    Ajarkan cara cek kredibilitas penulis, cek ulasan, atau menemukan versi fisik dari ebook.

o    Dengan begitu, buku fisik bukan lagi korban dari digital yang asal-asalan.

 

6) Sebuah catatan optimis: keduanya bisa berdampingan

Pembaca atau penerbit yang optimis melihat literasi digital dan buku fisik bukan bak dua sisi perang; melainkan dua alat yang bisa saling menguatkan. Buku fisik memberi kedalaman; digital memberi akses dan koneksi. Tradisi buku fisik tidak akan hilang dalam semalam kalau kita bisa menyiasatinya dengan cara modern.

Untuk pembaca, pilihan menjadi lebih luas:

·         Mau membaca cepat di jalan lewat layar? Bisa.

·         Mau menyelami buku tebal dengan damai? Juga bisa.

·         Mau keduanya? Jelas bisa—asal kita tahu kapan dan untuk apa masing-masing dipakai.

Untuk penulis, penerbit, dan komunitas literasi, ada peluang besar:

·         Menggunakan digital untuk memancing ketertarikan.

·         Menyediakan jalur mudah menuju buku fisik.

·         Membuat kegiatan baca yang hybrid: sebagian online, sebagian offline.

 

7) Penutup: yang penting bukan hanya pilihan media, tetapi kebiasaan membaca

Di akhir hari, apa yang membuat literasi hidup bukan hanya di layar atau di rak buku? Kebiasaan membaca. Mau itu dimulai dari swiping di layar atau membalik halaman kertas, yang penting adalah kita terus membaca, terus belajar, dan terus menikmati cerita atau informasi.

Literasi digital punya peran besar di era sekarang: mempercepat akses, menyebarkan info, dan menarik perhatian. Buku fisik punya peran abadi: fokus, pemahaman mendalam, dan pengalaman emosional yang tidak tergantikan. Kalau kita bisa memadukan keduanya dengan cerdas, kebiasaan membaca akan tetap tumbuh—baik di era digital ini, maupun di masa depan.

Jadi, selamat menikmati kedua dunia itu. Baca di mana saja, kapan saja, tapi jangan lupakan sensasi membuka buku fisik yang dulu membentuk banyak pembaca. Semoga literasi digital justru bikin rak buku di rumahmu makin penuh, bukan makin kosong.