Tampilkan postingan dengan label Kriteria Kelayakan Substantif dan Akademik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kriteria Kelayakan Substantif dan Akademik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2026

Menjaga Integritas Ilmiah Saat Mengubah Gaya Penulisan

Banyak akademisi mengalami dilema yang sama saat hendak mengubah laporan penelitian menjadi buku atau artikel populer: “Kalau bahasanya saya sederhanakan, apa masih ilmiah?” Atau yang lebih ekstrem: “Jangan-jangan nanti dibilang menurunkan mutu keilmuan.”

Kekhawatiran ini wajar. Di dunia akademik, integritas ilmiah adalah harga mati. Namun di sisi lain, tuntutan untuk menulis dengan gaya yang lebih cair, komunikatif, dan ramah pembaca juga semakin kuat—terutama ketika penelitian ingin dibukukan atau dibaca publik luas.

Artikel ini mengajak dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana memahami satu hal penting: mengubah gaya penulisan tidak sama dengan mengorbankan integritas ilmiah.

 

kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi

Mengapa Gaya Penulisan Perlu Diubah?

Laporan penelitian dan buku memiliki DNA yang berbeda.

Laporan penelitian:

·         ditulis untuk penguji, reviewer, dan komunitas ilmiah terbatas,

·         sangat patuh pada struktur IMRAD,

·         menekankan metodologi dan ketepatan istilah.

Sementara buku—terutama buku umum berbasis penelitian—ditujukan untuk:

·         pembaca lintas disiplin,

·         praktisi,

·         mahasiswa,

·         bahkan masyarakat umum terdidik.

Jika gaya penulisan tidak diubah, buku akan terasa seperti laporan panjang yang melelahkan.

 

Salah Kaprah tentang “Ilmiah”

Salah satu masalah terbesar adalah cara kita mendefinisikan kata ilmiah.

Bagi sebagian orang, ilmiah identik dengan:

·         kalimat panjang,

·         istilah teknis berlapis,

·         dan bahasa yang sulit dipahami.

Padahal, secara esensial, ilmiah berarti jujur secara metodologis, sahih secara data, dan bertanggung jawab secara intelektual—bukan harus rumit secara bahasa.

Ilmu pengetahuan tidak kehilangan martabatnya hanya karena ditulis dengan kalimat yang lebih manusiawi.

 

Apa Itu Integritas Ilmiah?

Sebelum membahas gaya, kita perlu sepakat tentang makna integritas ilmiah.

Integritas ilmiah mencakup:

·         kejujuran dalam penyajian data,

·         keterbukaan metodologis,

·         pengakuan terhadap sumber dan teori,

·         serta konsistensi antara data, analisis, dan kesimpulan.

Selama pilar-pilar ini dijaga, perubahan gaya penulisan tidak melanggar integritas ilmiah.

 

Mengubah Gaya ≠ Mengubah Isi

Kesalahan paling fatal adalah mengira bahwa perubahan gaya berarti perubahan substansi.

Yang diubah dalam konversi penelitian ke buku adalah:

·         struktur penyajian,

·         alur narasi,

·         pilihan diksi,

·         dan cara menjelaskan konsep.

Yang tidak boleh berubah:

·         data utama,

·         temuan penelitian,

·         logika analisis,

·         dan rujukan ilmiah.

Selama batas ini dijaga, integritas tetap utuh.

 

Dari Bahasa Penguji ke Bahasa Pembaca

Laporan penelitian sering ditulis dengan bahasa “antisalah”.

Kalimatnya penuh pagar:

“Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat diasumsikan bahwa…”

Dalam buku, kalimat seperti ini bisa diubah menjadi:

“Data menunjukkan bahwa…”

Maknanya sama. Datanya sama. Tetapi pembaca bernapas lebih lega.

 

Menyederhanakan Istilah Tanpa Mereduksi Makna

Tidak semua istilah teknis harus dihilangkan.

Yang perlu dilakukan adalah:

·         memilih istilah yang benar-benar penting,

·         menjelaskan istilah kunci dengan contoh,

·         dan menghindari jargon berlebihan.

Jika istilah tidak bisa disederhanakan, ia harus dipahamkan.

 

Peran Narasi dalam Menjaga Keutuhan Ilmu

Narasi sering disalahpahami sebagai “cerita bebas”.

Dalam konteks ilmiah, narasi justru membantu:

·         menjelaskan hubungan sebab-akibat,

·         menata alur berpikir,

·         dan menampilkan logika penelitian secara utuh.

Narasi yang baik membuat pembaca mengikuti proses ilmiah, bukan sekadar membaca hasilnya.

 

Risiko Etis Saat Mengubah Gaya Penulisan

Meski sah dilakukan, perubahan gaya tetap memiliki risiko jika tidak hati-hati.

Beberapa jebakan etis yang perlu dihindari:

1. Sensasionalisasi Temuan

Membuat judul atau narasi yang berlebihan demi menarik perhatian dapat merusak kredibilitas ilmiah.

2. Menghilangkan Konteks Metodologis

Metodologi boleh diringkas, tetapi tidak boleh dihilangkan sama sekali.

3. Klaim yang Melampaui Data

Bahasa populer sering menggoda penulis untuk menarik kesimpulan terlalu jauh.

Integritas ilmiah menuntut kita tetap setia pada data.

 

Buku Ilmiah Populer: Jembatan Dua Dunia

Buku ilmiah populer berada di persimpangan:

·         antara dunia akademik dan publik,

·         antara ketepatan dan keterbacaan.

Tugas penulis bukan memilih salah satu, melainkan menjembatani keduanya.

Di sinilah integritas ilmiah diuji—bukan dengan membuat tulisan rumit, tetapi dengan menjaga kejujuran ilmiah di tengah gaya yang lebih santai.

 

Peran Editor dan Penerbit Profesional

Tidak semua penulis mampu menjaga jarak kritis terhadap tulisannya sendiri.

Editor akademik berperan untuk:

·         memastikan data tidak terdistorsi,

·         menjaga konsistensi istilah,

·         dan mengingatkan batas etika ilmiah.

Penerbit yang baik tidak hanya mengejar keterbacaan, tetapi juga melindungi reputasi keilmuan penulis.

 

Integritas Ilmiah sebagai Branding Akademik

Menariknya, akademisi yang mampu menulis dengan jernih justru sering dipandang:

·         lebih matang secara intelektual,

·         lebih percaya diri dengan ilmunya,

·         dan lebih berdampak.

Menjaga integritas sambil menulis komunikatif adalah modal branding keilmuan jangka panjang.

 

Dampak Sosial dari Tulisan yang Berintegritas

Tulisan ilmiah yang mudah dipahami:

·         lebih sering dibaca,

·         lebih sering dirujuk,

·         dan lebih mungkin memengaruhi praktik dan kebijakan.

Integritas ilmiah memastikan bahwa dampak tersebut berdiri di atas fondasi yang kokoh.

 

Penutup: Ilmu Tidak Takut Dibaca

Ilmu pengetahuan tidak rapuh.

Ia tidak runtuh hanya karena ditulis dengan bahasa yang lebih ramah.

Justru sebaliknya, ilmu yang kuat akan semakin bersinar ketika disampaikan dengan jujur, jernih, dan bertanggung jawab.

Menjaga integritas ilmiah saat mengubah gaya penulisan bukan tentang mempertahankan kekakuan, melainkan tentang menjaga kejujuran intelektual di tengah upaya menjangkau lebih banyak pembaca.

Karena pada akhirnya, tujuan ilmu bukan hanya untuk diuji, tetapi untuk dipahami dan memberi makna.

Mengaitkan Temuan Penelitian dengan Isu Terkini


Strategi Agar Riset Tidak Berhenti di Rak, Tapi Hidup di Tengah Masyarakat

Salah satu keluhan klasik di dunia akademik dan penelitian adalah ini:

“Penelitiannya bagus, tapi kok tidak terasa dampaknya di masyarakat?”

Atau versi lainnya:

“Riset sudah selesai, tapi hanya dibaca segelintir orang.”

Masalahnya sering bukan pada kualitas penelitian, melainkan pada cara mengaitkan temuan penelitian dengan isu terkini. Banyak riset berhenti sebagai laporan formal, padahal di dalamnya tersimpan gagasan besar yang sebenarnya sangat relevan dengan kondisi hari ini.

Di sinilah tantangan sekaligus peluangnya:
bagaimana membuat temuan penelitian tetap ilmiah, tapi juga hidup, relevan, dan kontekstual?

 

kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi

Mengapa Penelitian Perlu Dikaitkan dengan Isu Terkini?

Mari kita jujur sebentar.
Masyarakat umum tidak bangun pagi lalu berpikir, “Hari ini saya ingin membaca metodologi penelitian.” 😄

Yang mereka cari adalah:

·         Jawaban atas masalah nyata

·         Penjelasan atas fenomena yang sedang terjadi

·         Sudut pandang ahli terhadap isu aktual

Jika temuan penelitian tidak dikaitkan dengan konteks kekinian, maka:

·         Riset terasa jauh dari realitas

·         Sulit dipahami pembaca non-akademik

·         Kurang menarik untuk dibukukan

Sebaliknya, ketika penelitian dikaitkan dengan isu terkini, hasilnya bisa luar biasa:

·         Lebih mudah dipahami

·         Lebih sering dirujuk

·         Lebih berdampak secara sosial

·         Lebih kuat secara branding keilmuan

 

Isu Terkini Itu Apa Sih?

Isu terkini bukan sekadar “yang viral di media sosial”.

Isu terkini bisa berupa:

·         Perubahan kebijakan publik

·         Fenomena sosial dan budaya

·         Perkembangan teknologi

·         Perubahan pola pendidikan

·         Dinamika dunia kerja

·         Krisis atau tantangan masyarakat

Contohnya:

·         AI dan dampaknya pada pendidikan

·         Kesehatan mental generasi muda

·         Literasi digital dan hoaks

·         Transformasi pembelajaran pascapandemi

·         Perubahan pola komunikasi masyarakat

Isu-isu ini butuh perspektif ilmiah, dan di sinilah penelitian Anda menjadi sangat relevan.

 

Penelitian Tidak Harus Baru untuk Bisa Relevan

Ini poin penting yang sering disalahpahami.

📌 Penelitian tidak harus dilakukan tahun ini agar relevan dengan isu terkini.

Yang penting:

·         Sudut pandangnya tepat

·         Analisisnya diperluas

·         Konteksnya diperbarui

Banyak penelitian lama justru menjadi sangat kuat ketika:

·         Dibandingkan dengan kondisi sekarang

·         Digunakan untuk menjelaskan perubahan

·         Dijadikan dasar refleksi kritis

Riset lama + isu baru = buku yang matang dan bernilai tinggi.

 

Cara Mengaitkan Temuan Penelitian dengan Isu Terkini

1. Temukan Benang Merah antara Temuan dan Fenomena

Langkah pertama bukan mencari isu, tapi memahami inti temuan penelitian Anda.

Tanyakan:

·         Masalah utama apa yang dibahas?

·         Nilai apa yang ditemukan?

·         Dampak apa yang diungkapkan?

Setelah itu, cari fenomena hari ini yang:

·         Memiliki pola serupa

·         Mengalami perkembangan dari temuan lama

·         Menunjukkan relevansi lanjutan

Contoh:
Penelitian tentang pola belajar → dikaitkan dengan pembelajaran digital hari ini.

 

2. Gunakan Pendekatan “Implikasi Kekinian”

Salah satu kalimat paling kuat dalam buku berbasis riset adalah:

“Jika temuan ini dilihat dalam konteks hari ini, maka…”

Pendekatan ini membuat pembaca merasa:

·         Risetnya “hidup”

·         Tidak berhenti di masa lalu

·         Memberi makna bagi situasi sekarang

Implikasi kekinian bisa berupa:

·         Tantangan baru

·         Peluang pengembangan

·         Risiko yang perlu diantisipasi

 

3. Perbarui Data Pendukung, Bukan Mengganti Riset Utama

Banyak penulis takut mengaitkan riset dengan isu terkini karena mengira harus:

·         Riset ulang besar-besaran

·         Mengganti data primer

Padahal tidak selalu demikian.

Cukup dengan:

·         Statistik terbaru

·         Kebijakan terbaru

·         Tren sosial terbaru

·         Referensi mutakhir

Temuan lama tetap menjadi fondasi, sementara isu terkini menjadi konteks pembacaan baru.

 

4. Gunakan Contoh Nyata yang Sedang Terjadi

Isu terkini akan lebih terasa jika:

·         Diberi contoh konkret

·         Dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari

·         Dijelaskan melalui kasus nyata

Ini sangat penting jika penelitian ingin:

·         Dibukukan

·         Dibaca masyarakat luas

·         Digunakan sebagai referensi praktis

Bahasa ilmiah tetap dijaga, tapi cara penyampaiannya lebih membumi.

 

Dari Laporan Penelitian ke Buku yang Relevan

Mengaitkan temuan penelitian dengan isu terkini adalah kunci utama dalam:

·         Transformasi penelitian menjadi buku

·         Perluasan audiens pembaca

·         Peningkatan nilai jual buku

Perubahan yang biasanya dilakukan:

·         Metodologi dipadatkan

·         Temuan diperluas dengan refleksi kontekstual

·         Diskusi diarahkan pada realitas hari ini

·         Bahasa dibuat lebih komunikatif

Buku bukan lagi arsip akademik, tapi alat dialog antara ilmu dan masyarakat.

 

Nilai Strategis untuk Branding Keilmuan

Bagi dosen, peneliti, dan praktisi, kemampuan mengaitkan riset dengan isu terkini akan membangun citra sebagai:

·         Akademisi yang kontekstual

·         Pakar yang peka zaman

·         Peneliti yang relevan secara sosial

Dampaknya:

·         Lebih sering dijadikan rujukan

·         Lebih mudah dipercaya publik

·         Lebih kuat personal brand keilmuan

Buku yang lahir dari pendekatan ini sering menjadi:

·         Bahan diskusi

·         Referensi kebijakan

·         Bacaan wajib di kelas atau komunitas

 

Peran Penerbit dalam Kontekstualisasi Penelitian

Tidak semua penulis mampu melihat sendiri potensi isu terkini dari risetnya.
Di sinilah penerbit profesional berperan penting.

Penerbit yang berpengalaman akan:

·         Membantu memetakan relevansi riset

·         Memberi masukan sudut pandang aktual

·         Mengarahkan struktur buku agar lebih kontekstual

·         Menjaga keseimbangan ilmiah dan popular

Penerbit bukan sekadar pencetak, tapi mitra strategis intelektual.

 

Kesalahan yang Sering Terjadi

Beberapa kesalahan umum:

·         Menyajikan data lama tanpa konteks baru

·         Terlalu fokus pada teori

·         Menghindari isu aktual karena takut kontroversi

·         Tidak menyesuaikan bahasa dengan pembaca

Padahal, justru keberanian mengaitkan riset dengan realitas hari ini yang membuat buku:

·         Lebih bernilai

·         Lebih relevan

·         Lebih dibutuhkan

 

Penutup: Ilmu yang Hidup adalah Ilmu yang Kontekstual

Penelitian sejatinya tidak berhenti ketika laporan selesai.
Ilmu akan benar-benar bermakna ketika:

·         Bisa menjelaskan zaman

·         Bisa membantu memahami perubahan

·         Bisa memberi arah ke depan

Mengaitkan temuan penelitian dengan isu terkini adalah cara terbaik untuk:

·         Menghidupkan kembali riset

·         Memperluas dampak keilmuan

·         Menghasilkan buku yang relevan dan berumur panjang

Jika Anda memiliki penelitian yang ingin:

·         Dibukukan

·         Dibaca lebih luas

·         Memberi dampak nyata

·         Menguatkan branding keilmuan

Pastikan temuan tersebut berdialog dengan isu hari ini, dan diterbitkan melalui proses editorial yang tepat.

Jumat, 30 Januari 2026

Mengapa Penelitian Deskriptif Masih Bisa Jadi Buku?

Di dunia akademik, penelitian deskriptif sering diposisikan sebagai “penelitian tingkat awal”. Ia kerap dianggap kurang bergengsi dibanding penelitian eksperimen, quasi-eksperimen, atau penelitian pengembangan (R&D). Bahkan tidak sedikit dosen dan peneliti yang berkata, “Penelitian saya cuma deskriptif, masa bisa dibukukan?”

Jawabannya singkat: bisa—dan sering kali sangat layak dibukukan.

Artikel ini disusun Cocok dibaca oleh dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana, hingga praktisi pendidikan yang ingin mengubah laporan penelitian deskriptif menjadi buku bernilai akademik dan sosial.

 

kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi

Stigma terhadap Penelitian Deskriptif

Mari jujur. Dalam banyak forum akademik, penelitian deskriptif sering diberi label:

·         “sekadar memotret keadaan”,

·         “tidak menguji hipotesis”,

·         “kurang inovatif”,

·         atau “hanya laporan data”.

Stigma ini membuat banyak peneliti berhenti di tahap laporan. Padahal, jika ditarik lebih jauh, hampir semua ilmu pengetahuan lahir dari deskripsi yang cermat terhadap realitas.

Sebelum ada eksperimen, harus ada pemahaman kondisi awal. Dan di situlah penelitian deskriptif memainkan peran penting.

 

Apa Itu Penelitian Deskriptif, Sebenarnya?

Penelitian deskriptif bertujuan untuk:

·         menggambarkan fenomena apa adanya,

·         memetakan karakteristik subjek atau objek,

·         dan menjelaskan pola yang muncul dari data.

Ia tidak selalu menjawab mengapa atau bagaimana cara memperbaiki, tetapi menjawab pertanyaan fundamental:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Pertanyaan ini justru sangat penting bagi pembaca luas, terutama pembuat kebijakan, praktisi, dan masyarakat umum.

 

Buku Tidak Selalu Butuh Eksperimen

Salah satu kesalahpahaman besar adalah anggapan bahwa buku ilmiah harus berbasis penelitian eksperimental.

Faktanya:

·         banyak buku rujukan kebijakan berbasis penelitian deskriptif,

·         buku pendidikan sering lahir dari pemetaan praktik lapangan,

·         buku sosial-budaya justru kuat karena deskripsi kontekstualnya.

Buku membutuhkan cerita keilmuan yang utuh, bukan sekadar desain metodologis yang rumit.

 

Kekuatan Penelitian Deskriptif untuk Dibukukan

Mengapa penelitian deskriptif justru sering cocok dijadikan buku?

1. Kaya Konteks

Penelitian deskriptif biasanya dekat dengan realitas:

·         ruang kelas,

·         komunitas,

·         institusi,

·         atau praktik sosial tertentu.

Kedekatan ini membuatnya mudah dikembangkan menjadi narasi buku yang relevan dan membumi.

 

2. Mudah Dipahami Pembaca Non-Akademik

Karena tidak sarat statistik kompleks atau perlakuan eksperimen, penelitian deskriptif lebih ramah bagi:

·         guru,

·         praktisi,

·         mahasiswa,

·         hingga pembaca umum terdidik.

Ini adalah modal besar untuk buku umum berbasis ilmiah.

 

3. Menjadi Dasar Penelitian Lanjutan

Buku dari penelitian deskriptif dapat berfungsi sebagai:

·         peta awal masalah,

·         rujukan kebijakan,

·         atau referensi penelitian lanjutan.

Artinya, nilai akademiknya tidak berhenti pada satu publikasi.

 

Contoh Penelitian Deskriptif yang Layak Jadi Buku

Beberapa contoh tema penelitian deskriptif yang sangat potensial dibukukan:

·         Potret literasi membaca di sekolah pedesaan

·         Profil kompetensi guru di daerah 3T

·         Praktik pembelajaran berbasis teknologi di perguruan tinggi

·         Pola penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa

·         Dinamika bahasa lokal di tengah globalisasi

Jika ditulis ulang dengan pendekatan buku, tema-tema ini justru memiliki daya tarik luas.

 

Mengubah Laporan Deskriptif Menjadi Buku

Kunci utamanya adalah mengubah orientasi penulisan.

Laporan penelitian:

·         fokus pada metodologi,

·         kaku secara struktur,

·         ditujukan untuk penguji atau reviewer.

Buku:

·         fokus pada pembaca,

·         naratif dan kontekstual,

·         menonjolkan makna temuan.

Data tetap sama, tetapi cara bercerita berbeda.

 

Dari Tabel ke Cerita

Dalam laporan penelitian deskriptif, data sering disajikan dalam:

·         tabel,

·         grafik,

·         dan persentase.

Dalam buku, data ini perlu:

·         diterjemahkan menjadi cerita,

·         dijelaskan maknanya,

·         dan dihubungkan dengan konteks sosial atau pendidikan.

Angka tidak dihilangkan, tetapi dihidupkan.

 

Menemukan Gagasan Besar di Balik Deskripsi

Setiap penelitian deskriptif memiliki benang merah.

Tugas penulis buku adalah menemukan:

·         pola dominan,

·         kecenderungan utama,

·         atau masalah sistemik.

Dari situlah lahir gagasan besar buku.

Tanpa gagasan besar, buku hanya akan menjadi laporan panjang.

 

Peran Sintesis Teori dalam Buku Deskriptif

Walau bersifat deskriptif, buku tetap membutuhkan kerangka teori.

Bedanya:

·         teori tidak dipajang berlapis-lapis,

·         tetapi digunakan untuk membaca data.

Teori hadir sebagai alat bantu memahami realitas, bukan beban akademik.

 

Nilai Akademik Buku dari Penelitian Deskriptif

Buku berbasis penelitian deskriptif tetap memiliki:

·         kontribusi keilmuan,

·         nilai sitasi,

·         dan relevansi kebijakan.

Dalam konteks BKD dan pengembangan karier dosen, buku semacam ini:

·         sah secara akademik,

·         bernilai angka kredit,

·         dan memperkuat rekam jejak keilmuan.

 

Branding Keilmuan lewat Buku Deskriptif

Banyak akademisi dikenal bukan karena eksperimennya, tetapi karena:

·         ketajaman memotret realitas,

·         kepekaan membaca konteks,

·         dan keberanian bersuara.

Buku dari penelitian deskriptif dapat membangun citra sebagai:

·         ahli konteks lokal,

·         peneliti lapangan yang kuat,

·         atau pengamat pendidikan dan sosial yang kredibel.

 

Peran Penerbit dalam Menguatkan Buku Deskriptif

Tidak semua laporan deskriptif siap dibukukan begitu saja.

Di sinilah layanan penerbitan akademik berperan:

·         membantu menyusun ulang struktur naskah,

·         menyederhanakan bahasa tanpa menghilangkan makna,

·         menajamkan gagasan besar,

·         dan memastikan buku tetap ilmiah tetapi enak dibaca.

Penerbit bukan sekadar mencetak, tetapi menjadi mitra intelektual.

 

Buku Deskriptif dan Dampak Sosial

Salah satu keunggulan penelitian deskriptif adalah daya dampaknya.

Buku semacam ini sering:

·         dibaca oleh praktisi,

·         dijadikan rujukan kebijakan,

·         dan memicu diskusi publik.

Ilmu tidak berhenti di jurnal, tetapi hidup di masyarakat.

 

Penutup: Jangan Remehkan Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif bukan penelitian kelas dua.

Ia adalah fondasi pemahaman ilmiah.

Jika ditulis ulang dengan pendekatan buku:

·         datanya tetap sahih,

·         ilmunya tetap kuat,

·         dan dampaknya justru lebih luas.

Jadi, jika Anda memiliki laporan penelitian deskriptif yang selama ini hanya tersimpan di rak atau folder laptop, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Apakah bisa jadi buku?”, melainkan:

Kapan penelitian ini dibaca lebih banyak orang?.

📘 Layanan Konsultasi Konversi Naskah

Kami menyediakan konsultasi naskah awal (pra-terbit) untuk membantu Anda mengetahui:

  • apakah naskah penelitian Anda layak dikonversi menjadi buku,
  • bagian mana yang perlu direstrukturisasi atau disederhanakan,
  • jenis buku yang paling sesuai (buku umum, referensi, atau populer ilmiah).

💬 Konsultasi bersifat edukatif, profesional, dan kontekstual, bukan sekadar teknis cetak.

 

✍️ Mengapa Bersama CV Cemerlang Publishing?

 Berpengalaman menangani naskah akademik dan penelitian
 Pendampingan dari tahap konsep hingga buku terbit
 Penyuntingan substantif, bukan sekadar layout
 Fokus pada kualitas isi dan dampak keilmuan
 Cocok untuk dosen, peneliti, dan penulis berbasis riset

 

📞 Hubungi Kami Sekarang

📩 Ingin tahu apakah penelitian Anda bisa menjadi buku?
📩 Butuh arahan sebelum mulai menulis ulang naskah?

👉 Hubungi kami sekarang untuk Konsultasi Naskah 
👉 Kirimkan ringkasan atau draf awal penelitian Anda
👉 Mulai perjalanan riset Anda menjadi buku yang berdampak


CV Cemerlang Publishing
Mitra Anda dalam menerbitkan buku berbasis ilmu dan penelitian

085145459727

 Pedoman Konversi Laporan Hasil Penelitian menjadi Buku Umum_001.pdf - Google Drive