Kenapa Buku yang Relevan dengan Zaman Lebih Dicari, Dibaca, dan Diingat
Di tengah banjir informasi seperti sekarang, satu pertanyaan penting muncul
bagi penulis buku umum:
“Apakah topik buku saya masih relevan dengan kondisi hari ini?”
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tapi dampaknya besar. Banyak buku
yang sebenarnya ditulis dengan serius, bahasanya rapi, bahkan isinya
berkualitas—namun sepi pembaca. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya
aktualitas topik.
Di era digital, pembaca tidak lagi hanya mencari buku yang “pintar”, tetapi
buku yang nyambung dengan realitas hidup mereka
saat ini. Inilah mengapa aktualitas topik menjadi kunci penting
dalam dunia perbukuan modern, khususnya buku umum dan nonfiksi populer.
![]() |
| kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi |
Apa Itu Aktualitas Topik dalam Buku
Umum?
Aktualitas topik adalah tingkat keterkaitan isi buku dengan isu,
kebutuhan, atau fenomena yang sedang terjadi di masyarakat.
Aktual bukan berarti ikut-ikutan tren dangkal,
tetapi:
·
Menjawab persoalan nyata
·
Relevan dengan konteks
zaman
·
Bisa digunakan atau
dipikirkan sekarang, bukan nanti
Contoh sederhana:
·
Buku motivasi yang membahas
dunia kerja tanpa menyinggung remote working
→ terasa ketinggalan.
·
Buku pendidikan yang
mengabaikan AI, literasi digital, dan media
interaktif → cepat ditinggalkan.
·
Buku sosial yang tidak
menyentuh media sosial, disrupsi budaya, atau
krisis identitas → kurang menggugah.
Mengapa Buku Umum Harus
Aktual?
1. Pembaca Modern Lebih Kritis dan Selektif
Pembaca hari ini tidak kekurangan bacaan. Mereka bisa:
·
Membandingkan isi buku
dengan konten internet
·
Mengecek relevansi topik
hanya dari sinopsis
·
Menilai apakah buku itu
“worth it” sebelum membeli
Buku yang tidak aktual biasanya:
·
Terasa terlalu teoritis
·
Kurang aplikatif
·
Tidak menjawab kebutuhan
pembaca
Sebaliknya, buku dengan topik aktual memberi kesan:
“Ini buku yang saya butuhkan sekarang.”
2. Aktualitas Meningkatkan Daya Jual Buku
Dalam dunia penerbitan, aktualitas topik berkaitan langsung dengan nilai
komersial buku.
Topik yang:
·
Sedang dibicarakan
·
Berkaitan dengan isu sosial,
pendidikan, teknologi, atau gaya hidup
·
Menjawab keresahan publik
➡️ lebih mudah dipasarkan,
baik secara online maupun offline.
Buku aktual:
·
Lebih gampang masuk katalog
toko buku
·
Lebih menarik untuk dibedah
di media
·
Lebih potensial viral di
media sosial
3. Membantu Branding Keilmuan Penulis
Bagi akademisi, praktisi, atau profesional, buku umum bukan sekadar karya
tulis—tetapi alat branding keilmuan.
Penulis yang mengangkat topik aktual akan dipersepsikan sebagai:
·
Peka terhadap perkembangan
zaman
·
Memahami realitas lapangan
·
Tidak terjebak pada teori
lama
Akibatnya:
·
Lebih sering diundang
sebagai narasumber
·
Lebih dipercaya sebagai
pakar
·
Lebih mudah membangun
personal brand intelektual
Aktualitas ≠ Tren Sesaat
Ini poin penting.
Aktual bukan berarti ikut tren musiman tanpa
kedalaman.
Perbedaan utama:
·
Tren
sesaat → cepat naik, cepat tenggelam
·
Topik
aktual yang kuat → relevan hari ini, tetap berguna beberapa
tahun ke depan
Contoh topik aktual yang berkelanjutan:
·
Literasi digital
·
Pendidikan berbasis
teknologi
·
Kesehatan mental
·
Transformasi dunia kerja
·
Etika penggunaan AI
·
Perubahan sosial akibat
media digital
Topik-topik ini tidak basi, karena
dibahas dari sudut pandang mendalam dan kontekstual.
Ciri Buku Umum dengan Topik Aktual
Sebuah buku bisa dikatakan aktual jika memiliki beberapa ciri berikut:
✅ Mengaitkan Teori dengan Realitas
Bukan hanya “apa kata ahli”, tapi:
·
Apa yang terjadi di
masyarakat
·
Apa yang dialami pembaca
·
Apa implikasinya bagi
kehidupan sehari-hari
✅ Menggunakan Contoh Kekinian
Misalnya:
·
Media sosial
·
Fenomena digital
·
Kasus nyata
·
Pengalaman lapangan
✅ Bahasanya Kontekstual
Tidak terlalu kaku, tidak terlalu akademik, dan:
·
Bisa dipahami pembaca umum
·
Tetap bernas dan
bertanggung jawab
Tantangan Penulis dalam
Menentukan Topik Aktual
Banyak penulis sebenarnya punya ide bagus, tetapi:
·
Ragu apakah topiknya masih
relevan
·
Terjebak pada kerangka lama
·
Takut keluar dari zona
nyaman
Di sinilah peran penerbit profesional
menjadi sangat penting.
Penerbit yang baik tidak hanya mencetak buku, tetapi:
·
Membantu memetakan potensi
topik
·
Memberi masukan tren pasar
buku
·
Mengarahkan sudut pandang
penulisan
Strategi Menulis Buku Umum yang Aktual
Berikut beberapa strategi praktis:
1. Mulai dari Masalah Nyata
Tanyakan:
·
Masalah apa yang sering
dibicarakan?
·
Apa keresahan masyarakat
hari ini?
·
Isu apa yang sering muncul
di ruang publik?
2. Gabungkan Keilmuan dengan Fenomena
Keahlian Anda + isu aktual = buku yang kuat.
Contoh:
·
Dosen pendidikan → bahas
pembelajaran digital
·
Praktisi komunikasi → bahas
krisis atensi di era media sosial
·
Guru → bahas literasi dan
generasi Z
3. Gunakan Bahasa yang Membumi
Buku umum bukan jurnal ilmiah.
Aktualitas akan lebih terasa jika bahasanya:
·
Mengalir
·
Akrab
·
Dialogis
Peran Penerbit dalam
Menjaga Aktualitas Buku
Tidak semua penerbit peduli pada relevansi isi.
Namun penerbit profesional akan:
·
Mengkaji kelayakan topik
·
Memberi masukan editorial
strategis
·
Menyesuaikan gaya penulisan
dengan target pembaca
·
Membantu positioning buku
di pasar
Penerbit seperti ini tidak hanya mencetak buku, tapi membantu
penulis menghasilkan karya yang hidup dan berdampak.
Buku Aktual = Buku yang Berumur Panjang
Ironisnya, buku yang paling “kekinian” justru sering:
·
Lebih sering dicetak ulang
·
Lebih lama dibicarakan
·
Lebih banyak direferensikan
Karena aktualitas bukan soal tanggal, tapi kedekatan dengan
realitas manusia.
Penutup: Menulis Buku yang Hadir di Zamannya
Menulis buku umum hari ini bukan sekadar menuangkan gagasan, tapi:
·
Membaca zaman
·
Memahami pembaca
·
Menyampaikan ilmu dengan
cara yang relevan
Buku yang aktual adalah buku yang:
Tidak hanya dibaca, tapi dirasakan.
Jika Anda ingin menerbitkan buku umum yang:
·
Relevan
·
Bermakna
·
Punya nilai jual
·
Membangun branding keilmuan
Pastikan topiknya hadir di zamannya, dan
diterbitkan bersama penerbit yang memahami arah perkembangan dunia perbukuan.
