Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan yang begitu membekas, membuat Anda tersenyum, terharu, atau bahkan terinspirasi untuk bertindak? Di sisi lain, pernahkah Anda menemukan tulisan yang terasa hambar, membingungkan, atau bahkan membuat Anda mengantuk? Perbedaan mendasar antara keduanya sering kali terletak pada satu hal yang tampaknya sederhana namun sangat menentukan: gaya bahasa dan pilihan kata.
Bagi seorang penulis, kata-kata adalah kanvas dan kuas
sekaligus. Setiap kata yang dipilih adalah goresan yang membentuk lukisan makna
di benak pembaca. Sebuah kata yang tepat dapat menerangi gagasan, sementara
kata yang keliru dapat mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Dalam dunia
penerbitan, kemampuan mengolah kata ini menjadi salah satu pembeda antara buku
yang bestseller dan buku yang sekadar memenuhi rak toko.
Lalu, bagaimana kita dapat mengasah kemampuan ini?
Mari kita telusuri bersama.
Memahami Diksi: Lebih dari Sekadar Memilih Kata
Dalam khazanah kebahasaan Indonesia, dikenal
istilah diksi, yang merujuk pada pilihan kata yang tepat dan sesuai
untuk mengungkapkan suatu gagasan. Gorys Keraf, seorang pakar kebahasaan,
mendefinisikan diksi sebagai kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa
makna dari gagasan yang ingin disampaikan, serta kemampuan menemukan bentuk
yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa masyarakat pembaca .
Ini berarti, diksi bukan hanya tentang memilih kata
yang "benar" secara kamus, tetapi juga tentang memilih kata yang
"tepat" untuk konteks tertentu. Ada dua aspek penting dalam diksi
yang perlu kita pahami :
1. Ketepatan Kata
Aspek ini mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk
menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, sesuai dengan apa yang
dipikirkan atau dirasakan oleh penulis . Dengan kata lain, apakah kata
yang kita pilih sudah setepat-tepatnya mewakili maksud kita, sehingga
tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda .
2. Kesesuaian Kata
Selain tepat, kata yang kita pilih juga harus sesuai dengan
situasi dan kondisi. Kesesuaian ini menyangkut apakah pilihan kata dan gaya
bahasa yang digunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan
pembaca . Sebuah kata mungkin tepat secara makna, tetapi tidak cocok
digunakan dalam situasi formal, atau sebaliknya.
Perhatikan perbedaan penggunaan kata dalam contoh
berikut :
- Denotasi vs Konotasi:
- "Rumah itu luasnya 250 meter persegi." (Denotatif: fakta
objektif)
- "Rumah itu luas sekali." (Konotatif: mengandung penilaian
subjektif)
- Kata Umum vs Kata Khusus:
- "Ia membawa bunga." (Umum)
- "Ia membawa mawar merah." (Khusus: lebih jelas dan hidup)
Memahami perbedaan-perbedaan halus seperti ini akan
sangat mempengaruhi kualitas tulisan Anda.
Mengapa Gaya Bahasa dan Pilihan Kata Itu Penting?
Pilihan kata dan gaya bahasa bukanlah sekadar ornamen
dalam tulisan. Ia adalah fondasi komunikasi yang efektif. Berikut beberapa
alasan mengapa kita perlu mencermatinya:
- Menciptakan Komunikasi yang Efektif: Fungsi utama bahasa adalah
komunikasi. Pemilihan kata yang tepat memastikan pesan yang Anda sampaikan
sampai kepada pembaca dengan utuh, tanpa distorsi makna. Ini mencegah
kesalahpahaman dan perbedaan penafsiran yang dapat merugikan .
- Membangun Gaya dan Identitas Penulis: Setiap penulis memiliki
"suara" atau voice yang khas. Gaya bahasa
inilah yang membuat tulisan Anda dikenali dan diingat oleh pembaca.
Seperti yang disarankan oleh penulis terkenal Dee Lestari, temukanlah
"pahlawan" dalam dunia tulis-menulis, tirulah mereka, dan
seiring waktu, Anda akan menemukan gaya Anda sendiri .
- Menarik dan Menjaga Perhatian Pembaca: Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan untuk membuat
tulisan yang menarik adalah sebuah keharusan. Gaya bahasa yang segar dan
pilihan kata yang hidup dapat membuat pembaca betah dan terus ingin
membaca. Menurut Wikipedia, salah satu titik penting gaya penulisan yang
baik adalah menjaga perhatian dan keikutsertaan pembaca, serta membuat
tulisan yang menarik .
- Mempermudah Pemahaman: Dalam konteks penulisan
populer, seperti yang sering diterbitkan oleh CV. Cemerlang Publishing,
bahasa harus ringan, naratif, dan komunikatif. Tujuannya adalah edukasi
publik melalui bahasa yang mudah dipahami, tanpa mengurangi esensi
keilmuan .
Hambatan dalam Menulis Populer dan Cara Mengatasinya
Banyak penulis, terutama yang berlatar belakang
akademis, mengalami hambatan saat mencoba menulis untuk khalayak umum. Salah
satunya adalah "the curse of knowledge" atau
"kutukan pengetahuan", yaitu kesulitan untuk menyederhanakan konsep
rumit karena terlalu ahli di bidangnya . Akibatnya, tulisan terasa kaku,
menggurui, dan sulit dipahami.
Untuk mengatasi ini, seorang penulis populer harus
mampu berempati dengan pembacanya. Posisikan diri Anda sebagai orang awam yang
baru pertama kali mendengar topik tersebut. Gunakanlah analogi atau metafora
untuk menjelaskan konsep yang abstrak . Anda juga perlu melatih diri untuk
membangun narasi atau alur cerita, bukan sekadar memaparkan data dan fakta
kering .
Panduan Praktis Memilih Kata dan Gaya Bahasa
Teori-teori di atas akan lebih bermakna jika kita
aplikasikan. Berikut beberapa panduan praktis yang bisa Anda terapkan,
berdasarkan prinsip-prinsip diksi :
- Membedakan Denotasi dan Konotasi: Gunakan kata denotatif jika
Anda ingin menyampaikan fakta secara lugas dan objektif, terutama dalam
tulisan non-fiksi. Gunakan kata konotatif jika Anda ingin membangkitkan
emosi atau imajinasi pembaca, misalnya dalam tulisan fiksi atau feature .
- Membedakan Kata Sinonim: Kata-kata yang bersinonim
(memiliki makna mirip) tidak selalu dapat saling menggantikan. Perhatikan
nuansa maknanya. Contoh: kata pahit dan getir mungkin
tampak sama, tetapi dalam kalimat "Obat itu sangat pahit" lebih
tepat daripada "Obat itu sangat getir" .
- Hindari Kata-Kata Ciptaan Sendiri: Bahasa memang dinamis, tetapi
menciptakan kata baru seenaknya hanya akan membingungkan pembaca. Kecuali
jika Anda seorang sastrawan ternama, lebih baik gunakan kosakata yang
sudah baku .
- Waspada dengan Kata Asing: Gunakan kata serapan atau
istilah asing jika memang diperlukan dan sudah lazim, tetapi hindari
penggunaannya secara berlebihan, terutama jika ada padanan kata dalam
bahasa Indonesia yang sudah umum .
- Gunakan Kata-Kata Indria: Kata-kata yang merangsang
indra (lihat, dengar, cium, rasa, sentuh) akan membuat tulisan Anda lebih
hidup dan membekas. Bandingkan "udaranya dingin" dengan
"udara pagi menusuk tulang dan membuat bulu kuduk merinding."
Menyunting: Kunci Menyempurnakan Pilihan Kata
Menulis adalah proses, bukan hasil sekali jadi.
Menyunting atau menyunting adalah bagian krusial untuk memastikan pilihan kata
Anda sudah tepat. Dalam bukunya, Bambang Trim (2023) menawarkan beberapa cara
menyunting diksi :
- Menyunting Kata: Ubah kata yang kurang tepat. Contoh:
"Anita selalu mengacuhkan janji" menjadi "Anita selalu
mengabaikan janji."
- Menyunting Bentuk Mubazir: Hilangkan kata-kata yang
berlebihan. Contoh: "agar supaya" cukup "agar" atau
"supaya."
- Menyunting Ungkapan Idiomatik: Pastikan penggunaan kata
depan atau frasa tetap baku. Contoh: "terdiri" menjadi
"terdiri dari", "berdasarkan" menjadi
"berdasarkan pada" (jika diikuti kata benda) .
- Menyunting Kesalahan Ketik: Jangan anggap remeh typo.
"Nabi" dan "babi" adalah dua kata dengan makna yang
sangat berbeda .
Kesimpulan: Kata adalah Jembatan
Gaya bahasa dan pilihan kata yang efektif adalah
jembatan yang menghubungkan ide di kepala penulis dengan pemahaman di benak
pembaca. Untuk CV. Cemerlang Publishing, menguasai keterampilan ini berarti
menghasilkan karya-karya yang tidak hanya informatif tetapi juga menginspirasi
dan membekas. Dengan memahami diksi, menghindari hambatan umum, dan rajin
menyunting, setiap penulis dapat mengasah kemampuannya untuk menciptakan
tulisan yang benar-benar berbicara kepada pembaca.
Selamat menulis dan teruslah berkarya!
Referensi:
Keraf, G. (2010). Diksi dan Gaya Bahasa.
Ende: Nusa Indah.
Trim, B. (2023). Taktis Menyunting.
Jakarta: Penerbit Buku Kompas.