Kalau mau ngobrol soal buku, salah satu pertanyaan yang sering muncul
adalah: genre apa sih yang paling banyak dibaca orang? Jawabannya tidak selalu
satu saja, karena tiap daerah, tiap usia, bahkan tiap waktu bisa berbeda. Tapi
kalau kita ngumpulin beberapa data terkini dari berbagai sumber—dari Indonesia
sampai internasional—kita bisa melihat pola yang cukup menarik.
Di bawah ini, kita lihat beberapa genre yang sedang ngetren atau
punya pengaruh besar, plus sedikit cerita kenapa mereka bisa populer. Gaya nonformal,
supaya enak dibaca, tapi tetap pakai data biar nggak cuma tebak-tebakan.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
1) Romance: raja yang sepertinya tak tergoyahkan
Kalau ada genre yang selalu muncul di puncak, romance pantas disebut raja.
Satu laporan tahun 2025 yang mengumpulkan data penjualan genre menunjukkan
bahwa romance menghasilkan sekitar 1,44 miliar dolar AS per
tahun—angka yang jauh lebih besar dibanding genre lain. Book and eBook Publishing Company
Kenapa bisa sebesar itu?
·
Pembaca romance cenderung voracious—mereka
bisa membaca banyak judul dalam sebulan karena cerita yang cepat, emosional,
dan berakhir bahagia.
·
Di era digital, penulis
indie bisa masuk pasar dengan mudah lewat platform seperti Kindle Unlimited,
jadi suplai cerita yang laku sangat beragam.
·
Tren dan hype juga
mendorong pembelian; ketika sebuah judul viral atau ada adaptasi media, pembaca
tambah penasaran.
Selain data penjualan global, ada juga fenomena yang terjadi di Eropa.
Misalnya di Prancis muncul istilah new romance, yang penjualannya
membesar pesat dalam beberapa tahun terakhir. Satu studi menyebut segmen ini
menghasilkan belasan juta euro dari jutaan kopi buku yang terjual, dan
penjualan naik dua kali lipat dari 2022 ke 2023. Le Monde.fr
Fenomena ini menunjukkan: bukan hanya di pasar Inggris atau Amerika, romance
juga kuat di Eropa, dan bentuk atau gaya cerita baru terus muncul. Jadi kalau
kamu pikir genre ini cuma favorit di satu tempat, nyatanya penggemarnya
tersebar luas, dan bahkan merajai penjualan di banyak negara.
2) Mystery / thriller: adrenalin, teka-teki, susah
berhenti baca
Genre kedua yang sering muncul di daftar terlaris adalah mystery atau
thriller. Laporan yang sama mencatat genre ini menghasilkan sekitar 728
juta dolar AS per tahun, jauh di atas banyak genre lain. Book and eBook Publishing Company
Daya tariknya jelas:
·
Cerita berjalan cepat,
sering bikin pembaca merasa harus lanjut satu bab lagi.
·
Konflik dan teka-teki yang
memancing otak untuk menebak, ditambah kadang twist yang bikin kaget.
·
Banyak subgenre: crime,
psychological thriller, noir, bahkan thriller yang dipadu unsur supernatural.
Jadi pembaca punya banyak pilihan sesuai selera.
Genre ini cocok buat pembaca yang ingin sensasi ketegangan tanpa perlu dunia
fantasi terlalu rumit atau cerita romantis yang manis. Karena sifat page-turner-nya,
thriller sering jadi hits di musim liburan atau ketika membaca malam hari.
3) Fantasy: dunia lain
yang menjebak imajinasi
Fantasy sudah lama jadi favorit, tapi belakangan ini namanya makin
besar—terutama gara-gara media sosial dan komunitas pembaca yang heboh. Data
2025 menyebut genre fantasy menghasilkan sekitar 590 juta dolar AS
per tahun, dan tak lagi dianggap niche. Book and eBook Publishing Company
Ada beberapa hal yang membuat fantasy tetap populer:
·
Worldbuilding
yang detail, membuat pembaca betah lama-lama di dunia lain.
·
Banyak seri panjang; satu
pembaca bisa mengikuti 5–7 buku dalam satu dunia yang sama.
·
Terbukanya akses lewat
TikTok, BookTok, dan media lain; judul-judul baru mudah jadi viral, seringkali
dari penulis indie atau luar arus utama.
Meski membutuhkan sedikit usaha untuk membangun dunia dan aturan baru, once
hooked, pembaca fantasy biasanya menjadi sangat loyal pada seri tertentu.
Mereka juga senang berdiskusi dan membuat teori, jadi genre ini punya komunitas
yang aktif dan besar.
4) Young Adult (YA):
bukan cuma untuk remaja—diminati segala usia
YA atau genre untuk pembaca muda ternyata punya pasar yang luas dan bukan
hanya remaja. Laporan yang sama mencatat YA menguasai pasar dengan angka
penjualan besar, bahkan mayoritas pembeli YA adalah orang dewasa. Book and eBook Publishing Company
Alasan YA begitu populer:
·
Tema coming-of-age,
pencarian jati diri, atau konflik emosional yang sebenarnya universal; siapa
pun bisa merasa relate.
·
Cerita sering memadukan
beberapa elemen populer, misalnya romantis ringan, fantasi, atau misteri—jadi
mudah menarik pembaca dari berbagai minat.
·
Ever‑green: beberapa judul
YA tetap terus dibaca bertahun-tahun, terutama jika ada adaptasi film atau serial
yang bikin hype lagi.
Genre ini sering jadi pintu masuk untuk pembaca baru. Anak muda mungkin
mulai dari YA, lalu jika tertarik, mereka bisa eksplor genre lain seperti
fantasy, romance, atau bahkan nonfiksi.
5) Kekuatan lokal dan
preferensi pembaca muda Indonesia
Nilai pasar global memang penting, tapi bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Ada data yang menarik dari survei lokal tentang selera Gen Z di Indonesia. Di
sana, terlihat bahwa banyak Gen Z yang tidak terlalu pilih-pilih genre;
sebagian besar mengaku menyukai semua genre bacaan, meski ada
sedikit perbedaan preferensi berdasarkan gender. GoodStats Data
Detail lain menunjukkan:
·
Genre fiksi cenderung lebih
digemari perempuan dibanding laki-laki dalam survei tersebut, sementara
biografi lebih digemari laki-laki.
·
Nonfiksi mendapat perhatian
juga, dan penggunaan e-book cukup tinggi di kalangan Gen Z—terutama di usia
lebih muda. GoodStats Data
Artinya, di Indonesia ada peluang besar untuk beragam genre. Pembaca muda
tidak menutup kemungkinan membaca fiksi, nonfiksi, biografi, atau bahkan genre
lain sepanjang kontennya relevan dan mudah diakses. Ini penting bagi penerbit
atau komunitas literasi: jangan terlalu terbatas pada satu genre saja; bukalah
berbagai pilihan karena minatnya luas.
6) Self‑help / edukasi: kuat di Asia, termasuk Indonesia
Jika kita lihat survei lain di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, self‑help
atau buku edukasi muncul sebagai genre yang paling banyak dibaca dalam
survei Rakuten Insight tahun 2023. Di Indonesia, 83% responden lebih sering
membaca lewat smartphone, yang menunjukkan kebiasaan baca digital tinggi. Dari
berbagai negara yang disurvei, self‑help berada di posisi teratas dengan
proporsi 34% pembaca. Databoks
Ini menunjukkan beberapa poin:
·
Pembaca Asia, termasuk
Indonesia, punya minat besar terhadap buku yang menawarkan solusi praktis,
pembelajaran, atau pengembangan diri.
·
Kanal digital menjadi jalur
utama; pembaca lebih sering mengakses buku lewat smartphone daripada fisik.
Namun hal ini tidak menutup kemungkinan mereka juga membeli atau membaca versi
cetak.
·
Genre self-help mudah
dikombinasikan dengan promosi online, karena tema-temanya sering sekali dibahas
di media sosial, video pendek, atau artikel.
Untuk penerbit, penulis, atau pegiat literasi di Indonesia, genre ini punya
peluang besar—apalagi dengan ketersediaan platform digital yang memudahkan
distribusi, serta kebutuhan pembaca akan pengetahuan praktis.
7) Genre lain yang juga
punya tempat penting
Selain lima genre yang sering mendominasi data di atas, masih banyak genre
lain yang punya penggemar setia:
·
Historical fiction
yang campur antara sejarah nyata dengan cerita dramatis. Genre ini menarik bagi
pembaca yang ingin menikmati kisah masa lalu dengan sentuhan fiksi.
·
Children’s books
yang terus memupuk pembaca baru dari usia dini.
·
Literary fiction
yang meski pasar lebih kecil, punya pembaca setia dan kritik tinggi.
Walau tidak selalu mendominasi angka penjualan global, genre-genre ini tetap
punya peran penting dalam ekosistem literasi. Mereka menjaga keberagaman tema,
gaya bercerita, dan kualitas sastra.
8) Cara memilih genre
yang pas buat kamu
Kalau kamu pembaca, jangan hanya melihat mana yang paling populer—tapi juga
apa yang kamu ingin rasakan saat membaca. Berikut tips sederhana:
1. Tertarik cerita yang bikin deg‑degan?
Mulai dari mystery atau thriller.
2. Suka cerita cinta atau emosi yang kuat?
Coba romance—banyak variasi, dari ringan sampai intens.
3. Mau pelarian ke dunia lain yang luas?
Fantasy bisa jadi teman lama di malam hari.
4. Ingin cerita yang mudah relate dan sering jadi
pembicaraan?
YA cocok di segala usia.
5. Butuh motivasi, panduan hidup, atau cara kerja otak yang
lebih baik?
Self-help atau edukasi bisa membantu.
6. Penasaran dengan kisah nyata atau tokoh inspiratif?
Coba biografi atau historical fiction.
Tak ada yang salah memilih genre mana pun. Bahkan bisa jadi justru perpaduan
genre yang bikin kamu menemukan buku favorit baru.
Penutup: popularitas
genre berubah, tapi rasa penasaran pembaca tetap inti
Tren genre bisa naik-turun—dipengaruhi media sosial, film atau serial
adaptasi, perubahan minat pembaca, dan faktor budaya lain. Dari romance
raksasa, thriller yang adiktif, fantasy yang magis, hingga self-help yang
praktis, semuanya punya momentum sendiri.
Yang penting, dari data dan fenomena di atas, terlihat bahwa:
·
Pembaca punya ruang luas
untuk memilih.
·
Popularitas genre global
sering beresonansi juga di Indonesia, tapi tetap ada kekhasan lokal.
·
Keberagaman genre justru
memperkaya dunia literasi; makin banyak pilihan, makin banyak orang yang bisa
menemukan kegembiraan membaca.
Jadi, genre apa yang paling populer? Jawabannya bisa satu, bisa banyak—dan
boleh berubah dari waktu ke waktu. Yang pasti, selalu ada genre baru atau
kombinasi menarik yang siap memikat pembaca berikutnya. Selamat melanglang
buana di dunia buku, dan jangan lupa: coba satu genre yang belum pernah kamu
baca, mungkin kamu akan menemukan harta karun tak terduga.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar