Kamis, 27 November 2025

Dampak literasi digital pada kebiasaan membaca buku fisik


Kalau dulu cuma ada dua pilihan: baca buku fisik atau nggak baca sama sekali, sekarang pilihan itu jadi jauh lebih berwarna. Smartphone, tablet, e‑reader, aplikasi bacaan—semuanya bikin dunia literasi makin digital. Lalu bagaimana semua itu berpengaruh ke kebiasaan membaca buku fisik? Apakah digital bikin buku fisik jadi terlupakan, atau malah sebaliknya?

Mari kita ngobrol santai tentang ini, dengan contoh nyata, data, dan sedikit bumbu pengalaman sehari‑hari.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) Tren penurunan minat baca yang bikin kita waspada

Sebelum mengulik soal digital, penting tahu dulu: minat baca terutama di kalangan anak muda sedang menurun di banyak tempat. Contohnya laporan terbaru dari National Literacy Trust di Inggris. Mereka mencatat bahwa pada 2025 hanya sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun yang menikmati membaca di waktu senggang—level terendah dalam 20 tahun. Bahkan yang membaca setiap hari turun di angka terendah sejak survei mereka dimulai. National Literacy Trust

Yang menarik, mereka juga menemukan motivator tertentu: 38% anak muda terdorong membaca saat materi terkait film atau serial favorit, dan 37% karena sesuai minat atau hobi. Satu dari tiga juga terpengaruh oleh sampul atau judul yang menarik. National Literacy Trust

Apa artinya?

·         Penurunan minat baca terjadi, di mana teknologi dan konten digital jelas punya peran.

·         Tapi kalau bacaan digital atau pengaruh media lain disusun dengan cerdas, justru bisa jadi pintu masuk supaya mereka kembali membaca—termasuk buku fisik.

Jadi, bukan cuma tentang digital versus fisik. Ini soal bagaimana kita mengaitkan keduanya agar tetap relevan dengan pembaca muda.

 

2) Literasi digital: bukan musuh buku fisik, tapi bisa jadi pendorong baca

Kalau kamu khawatir digital akan membuat buku fisik kehilangan tempat, ada penelitian lokal yang memberi kabar agak menenangkan. Sebuah studi di Universitas Negeri Jakarta meneliti seberapa sering mahasiswa menggunakan e‑book dan seberapa mudah aksesnya, lalu melihat pengaruhnya terhadap kebiasaan membaca. Hasilnya: frekuensi penggunaan e‑book dan kemudahan akses punya pengaruh positif pada kebiasaan membaca. Lebih menarik lagi, literasi digital memperkuat hubungan antara akses digital dan kebiasaan baca. Proceedings UNESA

Artinya: ketika seseorang punya kemampuan digital yang baik—misalnya tahu cara mencari, memilih, dan memanfaatkan bahan bacaan digital—mereka cenderung punya kebiasaan membaca yang lebih kuat. Dan kebiasaan ini tidak harus berhenti di layar. Banyak dari pembaca digital yang akhirnya mencari buku fisik, karena:

·         Mereka sudah punya ketertarikan dari konten digital.

·         Mereka ingin merasakan pengalaman membaca yang berbeda.

·         Atau sekadar ingin punya catatan fisik, memori visual, atau kenyamanan baca tanpa notifikasi.

Jadi, literasi digital bisa menjadi jembatan menuju buku fisik, bukan hanya pemutus jembatan.

 

3) Kenapa buku fisik tetap punya keunggulan unik di era digital?

Meski ada kemajuan digital, sejumlah penelitian menunjukkan buku fisik punya keuntungan tersendiri, terutama dalam hal pemahaman dan fokus. Artikel dari Psychology Today merangkum penelitian yang menyatakan bahwa pembaca fisik punya tingkat pemahaman hingga 6–8 kali lebih baik dibanding pembaca di e‑reader tertentu. Salah satu alasannya adalah minimnya gangguan digital, serta cara kita memori visual: membalik halaman secara fisik membantu otak memetakan lokasi informasi. Psychology Today

Lebih jauh, pengalaman memegang buku, membalik halaman, atau menyentuh kertas memberi keterlibatan fisik yang berbeda dari layar. Hal ini juga disebutkan sebagai bagian dari bagaimana interaksi dengan objek fisik membantu membangun representasi mental yang lebih koheren. Psychology Today

Selain itu, ada aspek sosial: pergi ke toko buku, bertukar buku dengan teman, atau berbicara dengan pustakawan—semua itu adalah pengalaman sosial yang kerap hilang kalau hanya mengandalkan e‑book saja. Psychology Today

Di Indonesia sendiri, sebuah tulisan di perpustakaan universitas menekankan sensasi dan keterlibatan emosional buku cetak—aroma kertas, tekstur halaman, hingga sensasi membalik lembar—yang bisa meningkatkan daya ingat dan fokus, juga minim gangguan karena tidak ada notifikasi. lib.ub.ac.id

Jadi, kenapa buku fisik masih nge‑hits meski jamannya digital?
Karena buku fisik memberi pengalaman membaca mendalam yang sulit ditiru layar, terutama saat kita ingin fokus, memahami secara dalam, atau mengingat dengan lebih kuat.

 

4) Lalu apa dampak nyata literasi digital pada buku fisik?

Muncul beberapa pola menarik:

a) Lebih banyak pembaca mulai dari layar, lalu lama‑lama pindah ke fisik

Orang yang dulu tidak tertarik membaca mungkin bertemu ebook atau artikel digital yang menarik. Mereka mulai membaca sedikit demi sedikit. Setelah merasa nyaman, mereka ingin melanjutkan dengan versi cetak, apalagi kalau tulisan itu panjang atau ingin disimpan. Digital memicu rasa ingin tahu; buku fisik memberi ruang lebih leluasa untuk menikmati.

b) Baca fisik menjadi pilihan untuk membaca serius

Saat membaca untuk tujuan mendalam—misalnya belajar teori, memahami karya sastra, atau riset—banyak orang merasa buku fisik menawarkan konsentrasi lebih tinggi. Layar memancing rasa ingin cek notifikasi, geser-geser, atau buka aplikasi lain; buku fisik cenderung meredam godaan itu.

c) Penggunaan digital meningkatkan akses sumber bacaan

Literasi digital memudahkan orang menemukan rekomendasi buku fisik, membaca ulasan, atau mencari tempat membeli. Kamu bisa melihat review di platform, tonton video pendek tentang buku, lalu memutuskan membeli versi fisik. Tanpa digital, informasi ini mungkin sulit didapat.

d) Tantangan: konten instan menurunkan stamina baca panjang

Kelemahan literasi digital muncul bila pengguna hanya terbiasa dengan konten super pendek—posting media sosial, video singkat—tanpa latihan fokus membaca panjang. Ini bisa membuat buku fisik terasa berat. Di sinilah peran pendampingan, rekomendasi buku ringan, dan kebiasaan kecil seperti 10 menit membaca buku fisik setiap hari.

 

5) Cara memanfaatkan literasi digital untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku fisik

Kalau sudah tahu digital punya dua sisi—bisa pendorong, tapi juga pengalih perhatian—maka langkah praktisnya:

1.      Gunakan platform digital untuk rekomendasi dan komunitas

o    Buat grup online atau thread diskusi singkat tentang buku fisik.

o    Bagikan kutipan pendek, foto buku, atau pengalaman singkat membaca.

o    Jadi, pembaca digital tahu bahwa ada dunia fisik yang seru menanti.

2.      Tampilkan tantangan membaca ringan dengan dukungan digital

o    Misalnya, challenge baca 1 bab sehari dan bagikan progress di story media sosial.

o    Atau gunakan aplikasi jurnal digital untuk mencatat apa yang kamu pelajari dari buku fisik.

3.      Sediakan konten digital yang mengarahkan ke buku fisik

o    Video review singkat, blog post ringkas, atau podcast yang membahas buku tertentu.

o    Lalu arahkan pembaca ke toko buku atau perpustakaan lokal.

4.      Edukasi literasi digital agar pembaca bisa memilah sumber yang baik

o    Ajarkan cara cek kredibilitas penulis, cek ulasan, atau menemukan versi fisik dari ebook.

o    Dengan begitu, buku fisik bukan lagi korban dari digital yang asal-asalan.

 

6) Sebuah catatan optimis: keduanya bisa berdampingan

Pembaca atau penerbit yang optimis melihat literasi digital dan buku fisik bukan bak dua sisi perang; melainkan dua alat yang bisa saling menguatkan. Buku fisik memberi kedalaman; digital memberi akses dan koneksi. Tradisi buku fisik tidak akan hilang dalam semalam kalau kita bisa menyiasatinya dengan cara modern.

Untuk pembaca, pilihan menjadi lebih luas:

·         Mau membaca cepat di jalan lewat layar? Bisa.

·         Mau menyelami buku tebal dengan damai? Juga bisa.

·         Mau keduanya? Jelas bisa—asal kita tahu kapan dan untuk apa masing-masing dipakai.

Untuk penulis, penerbit, dan komunitas literasi, ada peluang besar:

·         Menggunakan digital untuk memancing ketertarikan.

·         Menyediakan jalur mudah menuju buku fisik.

·         Membuat kegiatan baca yang hybrid: sebagian online, sebagian offline.

 

7) Penutup: yang penting bukan hanya pilihan media, tetapi kebiasaan membaca

Di akhir hari, apa yang membuat literasi hidup bukan hanya di layar atau di rak buku? Kebiasaan membaca. Mau itu dimulai dari swiping di layar atau membalik halaman kertas, yang penting adalah kita terus membaca, terus belajar, dan terus menikmati cerita atau informasi.

Literasi digital punya peran besar di era sekarang: mempercepat akses, menyebarkan info, dan menarik perhatian. Buku fisik punya peran abadi: fokus, pemahaman mendalam, dan pengalaman emosional yang tidak tergantikan. Kalau kita bisa memadukan keduanya dengan cerdas, kebiasaan membaca akan tetap tumbuh—baik di era digital ini, maupun di masa depan.

Jadi, selamat menikmati kedua dunia itu. Baca di mana saja, kapan saja, tapi jangan lupakan sensasi membuka buku fisik yang dulu membentuk banyak pembaca. Semoga literasi digital justru bikin rak buku di rumahmu makin penuh, bukan makin kosong.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar