Kalau dulu cuma ada dua pilihan: baca buku fisik atau nggak baca sama
sekali, sekarang pilihan itu jadi jauh lebih berwarna. Smartphone, tablet, e‑reader,
aplikasi bacaan—semuanya bikin dunia literasi makin digital. Lalu bagaimana
semua itu berpengaruh ke kebiasaan membaca buku fisik? Apakah digital bikin
buku fisik jadi terlupakan, atau malah sebaliknya?
Mari kita ngobrol santai tentang ini, dengan contoh nyata, data, dan sedikit
bumbu pengalaman sehari‑hari.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
1) Tren penurunan minat baca yang bikin
kita waspada
Sebelum mengulik soal digital, penting tahu dulu: minat baca terutama di
kalangan anak muda sedang menurun di banyak tempat. Contohnya laporan terbaru
dari National Literacy Trust di Inggris. Mereka mencatat bahwa pada 2025 hanya
sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun
yang menikmati membaca di waktu senggang—level terendah dalam 20 tahun. Bahkan
yang membaca setiap hari turun di angka terendah sejak survei mereka dimulai. National
Literacy Trust
Yang menarik, mereka juga menemukan motivator tertentu: 38% anak muda
terdorong membaca saat materi terkait film atau serial favorit, dan 37% karena
sesuai minat atau hobi. Satu dari tiga juga terpengaruh oleh sampul atau judul
yang menarik. National
Literacy Trust
Apa artinya?
·
Penurunan minat baca
terjadi, di mana teknologi dan konten digital jelas punya peran.
·
Tapi kalau bacaan digital
atau pengaruh media lain disusun dengan cerdas, justru bisa jadi pintu masuk
supaya mereka kembali membaca—termasuk buku fisik.
Jadi, bukan cuma tentang digital versus fisik. Ini soal bagaimana
kita mengaitkan keduanya agar tetap relevan dengan pembaca muda.
2) Literasi digital:
bukan musuh buku fisik, tapi bisa jadi pendorong baca
Kalau kamu khawatir digital akan membuat buku fisik kehilangan tempat, ada
penelitian lokal yang memberi kabar agak menenangkan. Sebuah studi di
Universitas Negeri Jakarta meneliti seberapa sering mahasiswa menggunakan e‑book
dan seberapa mudah aksesnya, lalu melihat pengaruhnya terhadap kebiasaan
membaca. Hasilnya: frekuensi penggunaan e‑book dan kemudahan akses punya
pengaruh positif pada kebiasaan membaca. Lebih menarik lagi, literasi
digital memperkuat hubungan antara akses digital dan kebiasaan
baca. Proceedings
UNESA
Artinya: ketika seseorang punya kemampuan digital yang baik—misalnya tahu
cara mencari, memilih, dan memanfaatkan bahan bacaan digital—mereka cenderung
punya kebiasaan membaca yang lebih kuat. Dan kebiasaan ini tidak harus berhenti
di layar. Banyak dari pembaca digital yang akhirnya mencari buku fisik, karena:
·
Mereka sudah punya
ketertarikan dari konten digital.
·
Mereka ingin merasakan
pengalaman membaca yang berbeda.
·
Atau sekadar ingin punya
catatan fisik, memori visual, atau kenyamanan baca tanpa notifikasi.
Jadi, literasi digital bisa menjadi jembatan menuju buku fisik,
bukan hanya pemutus jembatan.
3) Kenapa buku fisik
tetap punya keunggulan unik di era digital?
Meski ada kemajuan digital, sejumlah penelitian menunjukkan buku fisik punya
keuntungan tersendiri, terutama dalam hal pemahaman dan fokus. Artikel dari
Psychology Today merangkum penelitian yang menyatakan bahwa pembaca fisik punya
tingkat pemahaman hingga 6–8 kali lebih baik
dibanding pembaca di e‑reader tertentu. Salah satu alasannya adalah minimnya
gangguan digital, serta cara kita memori visual: membalik halaman secara fisik
membantu otak memetakan lokasi informasi. Psychology
Today
Lebih jauh, pengalaman memegang buku, membalik halaman, atau menyentuh
kertas memberi keterlibatan fisik yang berbeda dari layar. Hal ini
juga disebutkan sebagai bagian dari bagaimana interaksi dengan objek fisik
membantu membangun representasi mental yang lebih koheren. Psychology
Today
Selain itu, ada aspek sosial: pergi ke toko buku, bertukar buku dengan
teman, atau berbicara dengan pustakawan—semua itu adalah pengalaman sosial yang
kerap hilang kalau hanya mengandalkan e‑book saja. Psychology
Today
Di Indonesia sendiri, sebuah tulisan di perpustakaan universitas menekankan
sensasi dan keterlibatan emosional buku cetak—aroma kertas, tekstur halaman,
hingga sensasi membalik lembar—yang bisa meningkatkan daya ingat dan fokus,
juga minim gangguan karena tidak ada notifikasi. lib.ub.ac.id
Jadi, kenapa buku fisik masih nge‑hits meski jamannya digital?
Karena buku fisik memberi pengalaman membaca mendalam yang sulit ditiru layar,
terutama saat kita ingin fokus, memahami secara dalam, atau mengingat dengan
lebih kuat.
4) Lalu apa dampak nyata
literasi digital pada buku fisik?
Muncul beberapa pola menarik:
a) Lebih banyak pembaca mulai dari layar, lalu lama‑lama pindah ke fisik
Orang yang dulu tidak tertarik membaca mungkin bertemu ebook atau artikel
digital yang menarik. Mereka mulai membaca sedikit demi sedikit. Setelah merasa
nyaman, mereka ingin melanjutkan dengan versi cetak, apalagi kalau tulisan itu
panjang atau ingin disimpan. Digital memicu rasa ingin tahu; buku fisik memberi
ruang lebih leluasa untuk menikmati.
b) Baca fisik menjadi pilihan untuk membaca serius
Saat membaca untuk tujuan mendalam—misalnya belajar teori, memahami karya
sastra, atau riset—banyak orang merasa buku fisik menawarkan konsentrasi lebih
tinggi. Layar memancing rasa ingin cek notifikasi, geser-geser, atau buka
aplikasi lain; buku fisik cenderung meredam godaan itu.
c) Penggunaan digital meningkatkan akses sumber bacaan
Literasi digital memudahkan orang menemukan rekomendasi buku fisik, membaca
ulasan, atau mencari tempat membeli. Kamu bisa melihat review di platform,
tonton video pendek tentang buku, lalu memutuskan membeli versi fisik. Tanpa
digital, informasi ini mungkin sulit didapat.
d) Tantangan: konten instan menurunkan stamina baca panjang
Kelemahan literasi digital muncul bila pengguna hanya terbiasa dengan konten
super pendek—posting media sosial, video singkat—tanpa latihan fokus membaca
panjang. Ini bisa membuat buku fisik terasa berat. Di sinilah peran
pendampingan, rekomendasi buku ringan, dan kebiasaan kecil seperti 10 menit
membaca buku fisik setiap hari.
5) Cara memanfaatkan
literasi digital untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku fisik
Kalau sudah tahu digital punya dua sisi—bisa pendorong, tapi juga pengalih
perhatian—maka langkah praktisnya:
1. Gunakan platform digital untuk
rekomendasi dan komunitas
o
Buat grup online atau
thread diskusi singkat tentang buku fisik.
o
Bagikan kutipan pendek,
foto buku, atau pengalaman singkat membaca.
o
Jadi, pembaca digital tahu
bahwa ada dunia fisik yang seru menanti.
2. Tampilkan tantangan membaca ringan dengan
dukungan digital
o
Misalnya, challenge baca 1
bab sehari dan bagikan progress di story media sosial.
o
Atau gunakan aplikasi
jurnal digital untuk mencatat apa yang kamu pelajari dari buku fisik.
3. Sediakan konten digital yang mengarahkan
ke buku fisik
o
Video review singkat, blog
post ringkas, atau podcast yang membahas buku tertentu.
o
Lalu arahkan pembaca ke
toko buku atau perpustakaan lokal.
4. Edukasi literasi digital agar pembaca
bisa memilah sumber yang baik
o
Ajarkan cara cek
kredibilitas penulis, cek ulasan, atau menemukan versi fisik dari ebook.
o
Dengan begitu, buku fisik
bukan lagi korban dari digital yang asal-asalan.
6) Sebuah catatan
optimis: keduanya bisa berdampingan
Pembaca atau penerbit yang optimis melihat literasi digital dan buku fisik
bukan bak dua sisi perang; melainkan dua alat yang bisa saling menguatkan. Buku
fisik memberi kedalaman; digital memberi akses dan koneksi. Tradisi buku fisik
tidak akan hilang dalam semalam kalau kita bisa menyiasatinya dengan cara
modern.
Untuk pembaca, pilihan menjadi lebih luas:
·
Mau membaca cepat di jalan
lewat layar? Bisa.
·
Mau menyelami buku tebal
dengan damai? Juga bisa.
·
Mau keduanya? Jelas
bisa—asal kita tahu kapan dan untuk apa masing-masing dipakai.
Untuk penulis, penerbit, dan komunitas literasi, ada peluang besar:
·
Menggunakan digital untuk
memancing ketertarikan.
·
Menyediakan jalur mudah
menuju buku fisik.
·
Membuat kegiatan baca yang
hybrid: sebagian online, sebagian offline.
7) Penutup: yang penting bukan hanya
pilihan media, tetapi kebiasaan membaca
Di akhir hari, apa yang membuat literasi hidup bukan hanya di layar atau di
rak buku? Kebiasaan membaca. Mau
itu dimulai dari swiping di layar atau membalik halaman kertas, yang penting
adalah kita terus membaca, terus belajar, dan terus menikmati cerita atau
informasi.
Literasi digital punya peran besar di era sekarang: mempercepat akses,
menyebarkan info, dan menarik perhatian. Buku fisik punya peran abadi: fokus,
pemahaman mendalam, dan pengalaman emosional yang tidak tergantikan. Kalau kita
bisa memadukan keduanya dengan cerdas, kebiasaan membaca akan tetap tumbuh—baik
di era digital ini, maupun di masa depan.
Jadi, selamat menikmati kedua dunia itu. Baca di mana saja, kapan saja, tapi
jangan lupakan sensasi membuka buku fisik yang dulu membentuk banyak pembaca.
Semoga literasi digital justru bikin rak buku di rumahmu makin penuh, bukan
makin kosong.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar