Banyak akademisi mengalami dilema yang sama saat hendak mengubah laporan penelitian menjadi buku atau artikel populer: “Kalau bahasanya saya sederhanakan, apa masih ilmiah?” Atau yang lebih ekstrem: “Jangan-jangan nanti dibilang menurunkan mutu keilmuan.”
Kekhawatiran ini wajar. Di dunia akademik, integritas ilmiah
adalah harga mati. Namun di sisi lain, tuntutan untuk menulis dengan gaya yang
lebih cair, komunikatif, dan ramah pembaca juga semakin kuat—terutama ketika
penelitian ingin dibukukan atau dibaca publik luas.
Artikel ini mengajak dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana memahami
satu hal penting: mengubah gaya penulisan tidak sama dengan
mengorbankan integritas ilmiah.
![]() |
| kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi |
Mengapa Gaya Penulisan
Perlu Diubah?
Laporan penelitian dan buku memiliki DNA yang berbeda.
Laporan penelitian:
·
ditulis untuk penguji,
reviewer, dan komunitas ilmiah terbatas,
·
sangat patuh pada struktur
IMRAD,
·
menekankan metodologi dan
ketepatan istilah.
Sementara buku—terutama buku umum berbasis penelitian—ditujukan untuk:
·
pembaca lintas disiplin,
·
praktisi,
·
mahasiswa,
·
bahkan masyarakat umum
terdidik.
Jika gaya penulisan tidak diubah, buku akan terasa seperti laporan panjang
yang melelahkan.
Salah Kaprah tentang “Ilmiah”
Salah satu masalah terbesar adalah cara kita mendefinisikan kata ilmiah.
Bagi sebagian orang, ilmiah identik dengan:
·
kalimat panjang,
·
istilah teknis berlapis,
·
dan bahasa yang sulit
dipahami.
Padahal, secara esensial, ilmiah berarti jujur secara metodologis,
sahih secara data, dan bertanggung jawab secara intelektual—bukan
harus rumit secara bahasa.
Ilmu pengetahuan tidak kehilangan martabatnya hanya karena ditulis dengan
kalimat yang lebih manusiawi.
Apa Itu Integritas
Ilmiah?
Sebelum membahas gaya, kita perlu sepakat tentang makna integritas ilmiah.
Integritas ilmiah mencakup:
·
kejujuran dalam penyajian
data,
·
keterbukaan metodologis,
·
pengakuan terhadap sumber
dan teori,
·
serta konsistensi antara
data, analisis, dan kesimpulan.
Selama pilar-pilar ini dijaga, perubahan gaya penulisan tidak
melanggar integritas ilmiah.
Mengubah Gaya ≠ Mengubah Isi
Kesalahan paling fatal adalah mengira bahwa perubahan gaya berarti perubahan
substansi.
Yang diubah dalam konversi penelitian ke buku adalah:
·
struktur penyajian,
·
alur narasi,
·
pilihan diksi,
·
dan cara menjelaskan
konsep.
Yang tidak boleh berubah:
·
data utama,
·
temuan penelitian,
·
logika analisis,
·
dan rujukan ilmiah.
Selama batas ini dijaga, integritas tetap utuh.
Dari Bahasa Penguji ke
Bahasa Pembaca
Laporan penelitian sering ditulis dengan bahasa “antisalah”.
Kalimatnya penuh pagar:
“Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat diasumsikan bahwa…”
Dalam buku, kalimat seperti ini bisa diubah menjadi:
“Data menunjukkan bahwa…”
Maknanya sama. Datanya sama. Tetapi pembaca bernapas lebih lega.
Menyederhanakan Istilah Tanpa Mereduksi
Makna
Tidak semua istilah teknis harus dihilangkan.
Yang perlu dilakukan adalah:
·
memilih istilah yang
benar-benar penting,
·
menjelaskan istilah kunci
dengan contoh,
·
dan menghindari jargon
berlebihan.
Jika istilah tidak bisa disederhanakan, ia harus dipahamkan.
Peran Narasi dalam
Menjaga Keutuhan Ilmu
Narasi sering disalahpahami sebagai “cerita bebas”.
Dalam konteks ilmiah, narasi justru membantu:
·
menjelaskan hubungan
sebab-akibat,
·
menata alur berpikir,
·
dan menampilkan logika
penelitian secara utuh.
Narasi yang baik membuat pembaca mengikuti proses ilmiah, bukan sekadar
membaca hasilnya.
Risiko Etis Saat Mengubah
Gaya Penulisan
Meski sah dilakukan, perubahan gaya tetap memiliki risiko jika tidak
hati-hati.
Beberapa jebakan etis yang perlu dihindari:
1. Sensasionalisasi Temuan
Membuat judul atau narasi yang berlebihan demi menarik perhatian dapat
merusak kredibilitas ilmiah.
2. Menghilangkan Konteks Metodologis
Metodologi boleh diringkas, tetapi tidak boleh dihilangkan sama sekali.
3. Klaim yang Melampaui Data
Bahasa populer sering menggoda penulis untuk menarik kesimpulan terlalu
jauh.
Integritas ilmiah menuntut kita tetap setia pada data.
Buku Ilmiah Populer:
Jembatan Dua Dunia
Buku ilmiah populer berada di persimpangan:
·
antara dunia akademik dan
publik,
·
antara ketepatan dan
keterbacaan.
Tugas penulis bukan memilih salah satu, melainkan menjembatani
keduanya.
Di sinilah integritas ilmiah diuji—bukan dengan membuat tulisan rumit,
tetapi dengan menjaga kejujuran ilmiah di tengah gaya yang lebih santai.
Peran Editor dan Penerbit
Profesional
Tidak semua penulis mampu menjaga jarak kritis terhadap tulisannya sendiri.
Editor akademik berperan untuk:
·
memastikan data tidak
terdistorsi,
·
menjaga konsistensi
istilah,
·
dan mengingatkan batas
etika ilmiah.
Penerbit yang baik tidak hanya mengejar keterbacaan, tetapi juga melindungi
reputasi keilmuan penulis.
Integritas Ilmiah sebagai Branding Akademik
Menariknya, akademisi yang mampu menulis dengan jernih justru sering
dipandang:
·
lebih matang secara
intelektual,
·
lebih percaya diri dengan
ilmunya,
·
dan lebih berdampak.
Menjaga integritas sambil menulis komunikatif adalah modal
branding keilmuan jangka panjang.
Dampak Sosial dari
Tulisan yang Berintegritas
Tulisan ilmiah yang mudah dipahami:
·
lebih sering dibaca,
·
lebih sering dirujuk,
·
dan lebih mungkin
memengaruhi praktik dan kebijakan.
Integritas ilmiah memastikan bahwa dampak tersebut berdiri di atas fondasi
yang kokoh.
Penutup: Ilmu Tidak Takut Dibaca
Ilmu pengetahuan tidak rapuh.
Ia tidak runtuh hanya karena ditulis dengan bahasa yang lebih ramah.
Justru sebaliknya, ilmu yang kuat akan semakin bersinar
ketika disampaikan dengan jujur, jernih, dan bertanggung jawab.
Menjaga integritas ilmiah saat mengubah gaya penulisan bukan tentang
mempertahankan kekakuan, melainkan tentang menjaga kejujuran intelektual di
tengah upaya menjangkau lebih banyak pembaca.
Karena pada akhirnya, tujuan ilmu bukan hanya untuk diuji, tetapi untuk
dipahami dan memberi makna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar