Sabtu, 29 Maret 2025

Sejarah dan Perkembangan Linguistik Terapan bagian 1

1.     Akademisi pertama di Amerika Serikat dan Inggris yang menyandang gelar profesor linguistik terapan.

 

Linguistik terapan merupakan bidang studi yang berkembang pesat pada abad ke-20, dengan fokus pada penerapan teori linguistik dalam konteks dunia nyata, seperti pembelajaran bahasa, penerjemahan, dan komunikasi lintas budaya. Meskipun linguistik sebagai disiplin ilmu telah ada selama berabad-abad, pengakuan linguistik terapan sebagai bidang akademik yang terpisah terjadi relatif baru, terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Seiring dengan perkembangan ini, beberapa akademisi menjadi tokoh kunci dalam membangun dan memperluas cakupan linguistik terapan, termasuk mereka yang pertama kali memperoleh gelar profesor dalam bidang ini.

Amerika Serikat: Robert Lado dan Awal Linguistik Terapan

Di Amerika Serikat, Robert Lado (1915–1995) dikenal sebagai salah satu akademisi pertama yang menyandang gelar profesor linguistik terapan. Lado adalah seorang ahli dalam pembelajaran bahasa kedua dan merupakan pendiri program linguistik terapan di Georgetown University. Dalam bukunya yang berpengaruh, Linguistics Across Cultures (1957), ia menekankan pentingnya analisis kontrasif dalam pembelajaran bahasa kedua.

Menurut Lado (1957), "individuals tend to transfer the forms and meanings, and the distribution of forms and meanings of their native language and culture to the foreign language and culture" (p. 2). Pandangan ini menjadi dasar bagi teori analisis kontrasif, yang memainkan peran penting dalam metodologi pengajaran bahasa pada saat itu.

Robert Lado tidak hanya berkontribusi dalam pengajaran bahasa tetapi juga dalam pengembangan program akademik linguistik terapan. Pada tahun 1960-an, ia menjadi salah satu profesor pertama yang secara resmi diakui dalam bidang linguistik terapan di Amerika Serikat. Keberadaannya di Georgetown University membantu memperkuat status linguistik terapan sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari linguistik teoretis.

Selain Lado, seorang akademisi lain yang berperan penting dalam pengembangan linguistik terapan adalah Charles A. Ferguson (1921–1998). Ferguson dikenal atas kontribusinya dalam sosiolinguistik dan analisis variasi bahasa. Meskipun fokus utamanya bukan semata-mata pada linguistik terapan, pendekatannya terhadap penggunaan bahasa dalam konteks sosial memberikan dasar bagi perkembangan bidang ini di Amerika Serikat.

Inggris: Christopher Brumfit dan Pengakuan Akademik Linguistik Terapan

Di Inggris, salah satu akademisi pertama yang menyandang gelar profesor linguistik terapan adalah Christopher Brumfit (1940–2006). Brumfit memainkan peran utama dalam pengembangan linguistik terapan sebagai disiplin akademik yang terpisah di Inggris, terutama melalui pekerjaannya di University of Southampton. Ia menekankan pentingnya hubungan antara teori dan praktik dalam pembelajaran bahasa, serta perlunya pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa asing.

Dalam salah satu karyanya, Brumfit (1984) menyatakan bahwa "applied linguistics must serve as a bridge between linguistic theory and language teaching practice" (p. 27). Pendekatan ini kemudian menjadi dasar bagi banyak metode pengajaran bahasa yang berkembang di akhir abad ke-20.

Brumfit juga dikenal sebagai editor beberapa jurnal akademik yang berpengaruh dalam linguistik terapan, termasuk Applied Linguistics, yang menjadi salah satu publikasi utama dalam bidang ini. Melalui perannya sebagai profesor dan editor, Brumfit membantu membangun komunitas akademik linguistik terapan yang kuat di Inggris.

Selain Brumfit, Henry Widdowson juga merupakan tokoh penting dalam linguistik terapan di Inggris. Widdowson dikenal atas kontribusinya dalam analisis wacana dan metodologi pengajaran bahasa. Ia menulis banyak buku yang menjadi rujukan utama dalam studi linguistik terapan dan bahasa kedua, termasuk Teaching Language as Communication (1978).

Robert Lado di Amerika Serikat dan Christopher Brumfit di Inggris adalah dua akademisi pertama yang secara resmi menyandang gelar profesor linguistik terapan dan memainkan peran penting dalam pengembangan disiplin ini. Lado dikenal atas pendekatan analisis kontrasif dalam pembelajaran bahasa, sementara Brumfit menekankan pentingnya hubungan antara teori linguistik dan praktik pengajaran bahasa. Kedua tokoh ini, bersama dengan akademisi lain seperti Ferguson dan Widdowson, membantu membangun fondasi linguistik terapan sebagai bidang akademik yang diakui secara luas.

Dengan semakin berkembangnya linguistik terapan, warisan dari para akademisi ini terus mempengaruhi cara bahasa diajarkan dan dipelajari di seluruh dunia. Studi mereka tetap menjadi referensi utama bagi peneliti dan praktisi di bidang ini, menjadikan linguistik terapan sebagai bidang yang terus berkembang dengan berbagai perspektif baru.

Jumat, 28 Maret 2025

Implikasi dan Kritik Bagian 5

 

1.     Solusi potensial untuk mengurangi dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik di bidang linguistik terapan?

Dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik, khususnya di bidang linguistik terapan, telah menjadi perhatian global. Meskipun bahasa Inggris memberikan akses komunikasi ilmiah yang luas, dominasi ini juga menimbulkan tantangan bagi akademisi dari berbagai latar belakang bahasa. Banyak penelitian dalam bahasa selain Inggris kurang mendapatkan perhatian, sehingga menciptakan ketimpangan dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan solusi potensial untuk mengurangi dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik agar lebih inklusif dan mewakili keberagaman linguistik di dunia.

Faktor-Faktor yang Memperkuat Dominasi Bahasa Inggris

Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami faktor-faktor yang memperkuat dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik:

1.      Kebijakan Jurnal Akademik Banyak jurnal internasional terkemuka hanya menerima publikasi dalam bahasa Inggris, yang menyebabkan penelitian dalam bahasa lain kurang mendapat tempat (Lillis & Curry, 2010).

2.      Standar Akademik yang Berbasis Bahasa Inggris Akademisi sering kali diharuskan menulis dalam bahasa Inggris agar penelitian mereka memiliki dampak yang lebih luas. Pennycook (2010) menyatakan bahwa "penggunaan bahasa Inggris sebagai standar akademik menciptakan batasan bagi ilmuwan dari negara non-Inggris" (p. 88).

3.      Kurangnya Infrastruktur untuk Publikasi Multibahasa Banyak penerbit dan jurnal tidak memiliki sistem yang mendukung publikasi dalam berbagai bahasa, yang menyebabkan penelitian dalam bahasa lain kurang dikenal (Salager-Meyer, 2014).

4.      Kebutuhan Karier Akademik Banyak universitas dan lembaga akademik menggunakan publikasi dalam jurnal berbahasa Inggris sebagai ukuran kinerja akademik, sehingga peneliti terpaksa mengikuti tren ini untuk meningkatkan karier mereka (Curry & Lillis, 2018).

Solusi Potensial untuk Mengurangi Dominasi Bahasa Inggris

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mengurangi dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik di bidang linguistik terapan. Berikut beberapa solusi potensial:

1.      Mendorong Publikasi dalam Bahasa Lokal Salah satu langkah utama adalah meningkatkan jumlah jurnal akademik yang menerbitkan artikel dalam berbagai bahasa. Jurnal harus lebih terbuka terhadap publikasi dalam bahasa selain Inggris untuk mendukung keberagaman akademik (Canagarajah, 2005).

2.      Membangun Jurnal Multibahasa Penerbit jurnal dapat mengembangkan model publikasi multibahasa, di mana artikel tersedia dalam lebih dari satu bahasa. PĂ©rez-Llantada (2012) menekankan bahwa "jurnal akademik harus menyediakan abstrak dan terjemahan dalam beberapa bahasa untuk meningkatkan visibilitas penelitian non-Inggris" (p. 142).

3.      Meningkatkan Aksesibilitas Jurnal Non-Inggris Banyak jurnal dalam bahasa lain memiliki keterbatasan akses. Dengan membuat repositori penelitian terbuka yang mendukung berbagai bahasa, penelitian dalam bahasa lain dapat lebih dikenal (Kirkpatrick, 2007).

4.      Penyediaan Dukungan untuk Akademisi Non-Inggris Akademisi yang tidak menulis dalam bahasa Inggris perlu mendapatkan dukungan lebih dalam bentuk pelatihan menulis akademik dalam berbagai bahasa. Lillis dan Curry (2010) menyarankan bahwa "bimbingan menulis akademik yang lebih inklusif dapat membantu meningkatkan kualitas penelitian dalam berbagai bahasa" (p. 72).

5.      Kolaborasi Internasional yang Lebih Beragam Kolaborasi antar akademisi dari berbagai negara dapat membantu meningkatkan visibilitas penelitian dalam bahasa lokal. Pennycook (2010) berpendapat bahwa "dengan kolaborasi global, akademisi dari negara berbeda dapat berbagi perspektif dan meningkatkan keseimbangan bahasa dalam publikasi ilmiah" (p. 95).

6.      Mendukung Kebijakan Akademik yang Inklusif Lembaga akademik harus mengakui nilai penelitian dalam bahasa lain. Universitas dan pemerintah perlu mengembangkan kebijakan yang memberikan penghargaan yang sama bagi publikasi dalam berbagai bahasa (Salager-Meyer, 2014).

7.      Meningkatkan Penggunaan Teknologi untuk Penerjemahan Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung publikasi dalam berbagai bahasa. Penerbit jurnal dapat menyediakan sistem terjemahan otomatis untuk membantu pembaca mengakses penelitian dalam bahasa yang berbeda (Pennycook, 2010).

Mengurangi dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik di bidang linguistik terapan adalah tantangan besar yang memerlukan pendekatan multilevel. Meskipun bahasa Inggris tetap menjadi alat komunikasi ilmiah yang penting, langkah-langkah seperti mendorong publikasi multibahasa, membangun jurnal yang lebih inklusif, dan meningkatkan dukungan bagi akademisi non-Inggris dapat membantu menciptakan ekosistem akademik yang lebih adil dan beragam.

Dengan penerapan strategi ini, dunia akademik dapat lebih mencerminkan keberagaman linguistik global dan memungkinkan lebih banyak perspektif untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.