📘 Pendidikan Politik: Membangun Kesadaran Warga Negara di Era Demokrasi
![]() |
| Pendidikan Politik |
Di tengah dinamika demokrasi Indonesia yang terus bergerak—dari hiruk-pikuk pemilu, perdebatan di ruang digital, hingga menguatnya politik identitas—pendidikan politik menjadi tema yang tidak pernah kehilangan urgensinya. Buku karya Agustinus Sudi yang diterbitkan oleh CV. Cemerlang Publishing pada Juli 2024 ini hadir sebagai ikhtiar untuk menata ulang pemahaman kita tentang pendidikan politik, bukan sekadar sebagai materi akademik, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran warga negara. Daya tarik buku ini terletak pada keberaniannya memposisikan pendidikan politik sebagai fondasi kehidupan demokratis, bukan pelengkap kurikulum.
Sejak awal,
buku ini memperlihatkan satu gagasan besar yang konsisten: politik tidak boleh
dipahami sebatas perebutan kekuasaan, melainkan sebagai ruang partisipasi warga
dalam menentukan arah kehidupan bersama. Dalam kerangka itu, pendidikan politik
dipandang sebagai proses memanusiakan warga agar mampu berpikir kritis,
memahami hak dan kewajibannya, serta terlibat secara sadar dalam sistem
demokrasi. Penulis tampak ingin menggeser paradigma yang selama ini cenderung
melihat politik sebagai sesuatu yang kotor atau elitis. Ia mengajak pembaca
untuk melihat politik sebagai ruang etis yang memerlukan kecerdasan dan
tanggung jawab.
Benang merah
pemikiran buku ini bergerak dari pemahaman konseptual menuju refleksi
kontekstual. Pendidikan politik tidak ditempatkan sebagai wacana abstrak,
melainkan sebagai praktik sosial yang berlangsung di berbagai ruang: sekolah,
keluarga, organisasi masyarakat, hingga media massa. Pendekatan ini
memperlihatkan kesadaran bahwa pembentukan kesadaran politik tidak pernah
terjadi dalam ruang hampa. Ia selalu dipengaruhi oleh budaya, nilai, dan
dinamika sosial yang melingkupinya.
Dalam konteks
Indonesia, buku ini terasa relevan karena berupaya membaca sejarah dan
kebijakan pendidikan politik secara kritis. Pendidikan politik di negeri ini
memiliki perjalanan yang tidak selalu linier. Ia pernah menjadi alat legitimasi
kekuasaan, pernah pula diabaikan dalam kurikulum formal. Dengan menghadirkan
refleksi historis dan kebijakan, buku ini mengingatkan bahwa pendidikan politik
selalu terkait dengan konfigurasi kekuasaan yang berlaku. Kesadaran semacam ini
penting agar pendidikan politik tidak terjebak menjadi indoktrinasi.
Salah satu
kekuatan buku ini adalah keluasan perspektifnya. Penulis tidak membatasi
pendidikan politik hanya pada ruang kelas atau institusi formal. Ia menyoroti
peran keluarga dalam membentuk sikap politik anak, pentingnya organisasi
masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif, serta peran media—termasuk media
sosial—dalam membentuk opini publik. Pendekatan multidimensional ini membuat
pembahasan terasa komprehensif dan realistis. Dalam era digital, ketika
informasi politik beredar tanpa batas, pendidikan politik memang tidak bisa
lagi dimonopoli oleh lembaga formal.
Selain itu,
buku ini juga memberi perhatian pada isu-isu substantif seperti hak asasi
manusia, demokrasi, representasi politik, dan kesetaraan gender. Dengan
demikian, pendidikan politik dipahami bukan hanya sebagai transfer pengetahuan
tentang sistem pemerintahan, tetapi juga sebagai pembentukan nilai. Di sini
tampak bahwa penulis memandang pendidikan politik sebagai proyek
kebudayaan—upaya menanamkan nilai-nilai demokratis yang menghargai perbedaan
dan menjunjung keadilan.
Secara
argumentatif, kekuatan buku ini terletak pada keseimbangan antara teori dan
praktik. Penulis tidak hanya memaparkan konsep-konsep klasik pendidikan
politik, tetapi juga mengaitkannya dengan metode dan strategi implementasi. Ada
kesan bahwa buku ini ditujukan tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi
praktisi pendidikan, aktivis, dan pemangku kebijakan. Kerangka berpikir yang
sistematis memudahkan pembaca memahami relasi antara konsep, metode, dan
tujuan.
Kekuatan
lainnya adalah keberanian menyoroti tantangan pendidikan politik di Indonesia.
Polarisasi politik, rendahnya literasi politik, penyebaran disinformasi, serta
pragmatisme elektoral merupakan realitas yang tidak bisa diabaikan. Dengan
mengangkat tantangan tersebut, buku ini tidak terjebak dalam optimisme kosong.
Ia justru mengajak pembaca untuk bersikap realistis sekaligus konstruktif.
Pendidikan politik dipandang sebagai proses jangka panjang yang memerlukan
konsistensi dan inovasi.
Meski demikian,
sebagai karya yang mencoba merangkum banyak dimensi, buku ini terkadang terasa
padat secara konseptual. Pembaca umum yang belum memiliki latar belakang ilmu
politik mungkin membutuhkan pendampingan atau pembacaan perlahan agar dapat
menyerap keseluruhan gagasan. Selain itu, pengayaan dengan lebih banyak
ilustrasi kasus empiris kontemporer—misalnya fenomena politik digital atau
gerakan sipil terbaru—akan membuat pembahasan semakin hidup dan kontekstual.
Namun catatan
tersebut tidak mengurangi signifikansi buku ini sebagai referensi pendidikan
politik yang komprehensif. Justru dalam kepadatan itulah terlihat keseriusan
penulis dalam merumuskan pendidikan politik sebagai bidang yang utuh. Buku ini
tidak sekadar menjelaskan apa itu pendidikan politik, tetapi berusaha
merumuskan arah masa depannya.
Secara
reflektif, membaca buku ini mengajak kita merenungkan kembali kualitas
demokrasi yang kita jalani. Demokrasi bukan hanya soal prosedur pemilihan umum,
tetapi soal kualitas partisipasi dan kedewasaan warga. Pendidikan politik
menjadi jembatan antara sistem dan warga negara. Tanpa pendidikan politik yang
memadai, demokrasi mudah terjebak pada populisme, manipulasi emosi, dan politik
transaksional. Buku ini, dengan segala argumennya, mengingatkan bahwa membangun
demokrasi berarti membangun kesadaran.
Bagi mahasiswa
ilmu politik, buku ini dapat menjadi landasan konseptual yang solid. Bagi guru
atau dosen, ia menawarkan perspektif dalam merancang pembelajaran yang lebih
reflektif. Bagi aktivis dan penggerak masyarakat, buku ini memberi kerangka
untuk memahami peran mereka dalam membentuk kesadaran kolektif. Bahkan bagi
pembaca umum, buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami politik secara
lebih rasional dan bermartabat.
Pada akhirnya,
karya Agustinus Sudi ini menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam:
pendidikan politik adalah investasi jangka panjang bagi peradaban. Ia tidak
menghasilkan perubahan instan, tetapi menumbuhkan kesadaran yang perlahan
mengakar. Di tengah tantangan demokrasi modern, pesan tersebut terasa semakin
penting. Buku ini bukan hanya bacaan akademik, melainkan ajakan untuk berpikir,
berdialog, dan berpartisipasi secara lebih dewasa dalam kehidupan politik.
Sebuah kontribusi yang layak diapresiasi dalam upaya memperkuat fondasi
demokrasi Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar