Rabu, 18 Februari 2026

Pendidikan Politik: Membangun Kesadaran Warga Negara di Era Demokrasi

📘 Pendidikan Politik: Membangun Kesadaran Warga Negara di Era Demokrasi

Pendidikan Politik

Di tengah dinamika demokrasi Indonesia yang terus bergerak—dari hiruk-pikuk pemilu, perdebatan di ruang digital, hingga menguatnya politik identitas—pendidikan politik menjadi tema yang tidak pernah kehilangan urgensinya. Buku karya Agustinus Sudi yang diterbitkan oleh CV. Cemerlang Publishing pada Juli 2024 ini hadir sebagai ikhtiar untuk menata ulang pemahaman kita tentang pendidikan politik, bukan sekadar sebagai materi akademik, tetapi sebagai proses pembentukan kesadaran warga negara. Daya tarik buku ini terletak pada keberaniannya memposisikan pendidikan politik sebagai fondasi kehidupan demokratis, bukan pelengkap kurikulum.

Sejak awal, buku ini memperlihatkan satu gagasan besar yang konsisten: politik tidak boleh dipahami sebatas perebutan kekuasaan, melainkan sebagai ruang partisipasi warga dalam menentukan arah kehidupan bersama. Dalam kerangka itu, pendidikan politik dipandang sebagai proses memanusiakan warga agar mampu berpikir kritis, memahami hak dan kewajibannya, serta terlibat secara sadar dalam sistem demokrasi. Penulis tampak ingin menggeser paradigma yang selama ini cenderung melihat politik sebagai sesuatu yang kotor atau elitis. Ia mengajak pembaca untuk melihat politik sebagai ruang etis yang memerlukan kecerdasan dan tanggung jawab.

Benang merah pemikiran buku ini bergerak dari pemahaman konseptual menuju refleksi kontekstual. Pendidikan politik tidak ditempatkan sebagai wacana abstrak, melainkan sebagai praktik sosial yang berlangsung di berbagai ruang: sekolah, keluarga, organisasi masyarakat, hingga media massa. Pendekatan ini memperlihatkan kesadaran bahwa pembentukan kesadaran politik tidak pernah terjadi dalam ruang hampa. Ia selalu dipengaruhi oleh budaya, nilai, dan dinamika sosial yang melingkupinya.

Dalam konteks Indonesia, buku ini terasa relevan karena berupaya membaca sejarah dan kebijakan pendidikan politik secara kritis. Pendidikan politik di negeri ini memiliki perjalanan yang tidak selalu linier. Ia pernah menjadi alat legitimasi kekuasaan, pernah pula diabaikan dalam kurikulum formal. Dengan menghadirkan refleksi historis dan kebijakan, buku ini mengingatkan bahwa pendidikan politik selalu terkait dengan konfigurasi kekuasaan yang berlaku. Kesadaran semacam ini penting agar pendidikan politik tidak terjebak menjadi indoktrinasi.

Salah satu kekuatan buku ini adalah keluasan perspektifnya. Penulis tidak membatasi pendidikan politik hanya pada ruang kelas atau institusi formal. Ia menyoroti peran keluarga dalam membentuk sikap politik anak, pentingnya organisasi masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif, serta peran media—termasuk media sosial—dalam membentuk opini publik. Pendekatan multidimensional ini membuat pembahasan terasa komprehensif dan realistis. Dalam era digital, ketika informasi politik beredar tanpa batas, pendidikan politik memang tidak bisa lagi dimonopoli oleh lembaga formal.

Selain itu, buku ini juga memberi perhatian pada isu-isu substantif seperti hak asasi manusia, demokrasi, representasi politik, dan kesetaraan gender. Dengan demikian, pendidikan politik dipahami bukan hanya sebagai transfer pengetahuan tentang sistem pemerintahan, tetapi juga sebagai pembentukan nilai. Di sini tampak bahwa penulis memandang pendidikan politik sebagai proyek kebudayaan—upaya menanamkan nilai-nilai demokratis yang menghargai perbedaan dan menjunjung keadilan.

Secara argumentatif, kekuatan buku ini terletak pada keseimbangan antara teori dan praktik. Penulis tidak hanya memaparkan konsep-konsep klasik pendidikan politik, tetapi juga mengaitkannya dengan metode dan strategi implementasi. Ada kesan bahwa buku ini ditujukan tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi praktisi pendidikan, aktivis, dan pemangku kebijakan. Kerangka berpikir yang sistematis memudahkan pembaca memahami relasi antara konsep, metode, dan tujuan.

Kekuatan lainnya adalah keberanian menyoroti tantangan pendidikan politik di Indonesia. Polarisasi politik, rendahnya literasi politik, penyebaran disinformasi, serta pragmatisme elektoral merupakan realitas yang tidak bisa diabaikan. Dengan mengangkat tantangan tersebut, buku ini tidak terjebak dalam optimisme kosong. Ia justru mengajak pembaca untuk bersikap realistis sekaligus konstruktif. Pendidikan politik dipandang sebagai proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi dan inovasi.

Meski demikian, sebagai karya yang mencoba merangkum banyak dimensi, buku ini terkadang terasa padat secara konseptual. Pembaca umum yang belum memiliki latar belakang ilmu politik mungkin membutuhkan pendampingan atau pembacaan perlahan agar dapat menyerap keseluruhan gagasan. Selain itu, pengayaan dengan lebih banyak ilustrasi kasus empiris kontemporer—misalnya fenomena politik digital atau gerakan sipil terbaru—akan membuat pembahasan semakin hidup dan kontekstual.

Namun catatan tersebut tidak mengurangi signifikansi buku ini sebagai referensi pendidikan politik yang komprehensif. Justru dalam kepadatan itulah terlihat keseriusan penulis dalam merumuskan pendidikan politik sebagai bidang yang utuh. Buku ini tidak sekadar menjelaskan apa itu pendidikan politik, tetapi berusaha merumuskan arah masa depannya.

Secara reflektif, membaca buku ini mengajak kita merenungkan kembali kualitas demokrasi yang kita jalani. Demokrasi bukan hanya soal prosedur pemilihan umum, tetapi soal kualitas partisipasi dan kedewasaan warga. Pendidikan politik menjadi jembatan antara sistem dan warga negara. Tanpa pendidikan politik yang memadai, demokrasi mudah terjebak pada populisme, manipulasi emosi, dan politik transaksional. Buku ini, dengan segala argumennya, mengingatkan bahwa membangun demokrasi berarti membangun kesadaran.

Bagi mahasiswa ilmu politik, buku ini dapat menjadi landasan konseptual yang solid. Bagi guru atau dosen, ia menawarkan perspektif dalam merancang pembelajaran yang lebih reflektif. Bagi aktivis dan penggerak masyarakat, buku ini memberi kerangka untuk memahami peran mereka dalam membentuk kesadaran kolektif. Bahkan bagi pembaca umum, buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami politik secara lebih rasional dan bermartabat.

Pada akhirnya, karya Agustinus Sudi ini menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam: pendidikan politik adalah investasi jangka panjang bagi peradaban. Ia tidak menghasilkan perubahan instan, tetapi menumbuhkan kesadaran yang perlahan mengakar. Di tengah tantangan demokrasi modern, pesan tersebut terasa semakin penting. Buku ini bukan hanya bacaan akademik, melainkan ajakan untuk berpikir, berdialog, dan berpartisipasi secara lebih dewasa dalam kehidupan politik. Sebuah kontribusi yang layak diapresiasi dalam upaya memperkuat fondasi demokrasi Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar