Strategi Mengubah Ilmu yang Rumit Menjadi Bacaan yang Relevan dan Bermakna
Banyak isu ilmiah sebenarnya sangat dekat dengan
kehidupan sehari-hari, tetapi terasa jauh, rumit, dan “berat”
ketika dibaca dalam bentuk buku atau artikel akademik. Bukan karena ilmunya
tidak penting, melainkan karena cara membingkainya
kurang bersahabat dengan pembaca.
Kita sering menemukan situasi seperti ini:
·
Topiknya menarik, tapi
bahasanya bikin lelah
·
Isunya relevan, tapi
tulisannya terasa dingin
·
Datanya kuat, tapi sulit
dicerna
Di sinilah masalah utama muncul: isu ilmiah belum
dibingkai dengan sudut pandang pembaca.
Pertanyaannya:
Bagaimana membingkai isu ilmiah agar tetap ilmiah, tapi juga
dekat, hidup, dan dibaca dengan nyaman oleh pembaca umum?
Artikel ini membahas jawabannya secara santai, aplikatif, dan
strategis—terutama bagi akademisi, peneliti, dan penulis buku berbasis riset.
![]() |
| kriteria kelayakan teknis dan dokumentasi |
Isu Ilmiah Itu Penting,
tapi Pembaca Juga Penting
Mari kita sepakati satu hal terlebih dahulu.
📌 Ilmu yang tidak dibaca
tidak akan berdampak.
📌 Ilmu yang tidak
dipahami tidak akan digunakan.
Isu ilmiah seperti:
·
pendidikan
·
kesehatan
·
teknologi
·
sosial budaya
·
lingkungan
·
bahasa dan literasi
sebenarnya menyentuh kehidupan banyak orang. Namun ketika isu tersebut
dibahas dengan bahasa yang terlalu teknis dan struktur yang kaku, pembaca
merasa:
“Ini bukan untuk saya.”
Padahal seharusnya:
“Ini tentang saya dan dunia saya.”
Apa Maksudnya “Membingkai” Isu Ilmiah?
Membingkai bukan memanipulasi.
Membingkai bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Membingkai berarti:
·
Menentukan sudut pandang
yang tepat
·
Menyesuaikan cara
penyampaian
·
Mengaitkan ilmu dengan
pengalaman pembaca
·
Menata ulang narasi agar
lebih komunikatif
Ibarat foto, objeknya sama, tapi angle
dan pencahayaannya yang membuat orang tertarik
melihat lebih lama.
Mengapa Banyak Isu Ilmiah Terasa Jauh
dari Pembaca?
1. Ditulis untuk Sesama Akademisi
Banyak tulisan ilmiah sejak awal memang ditujukan untuk:
·
Jurnal
·
Reviewer
·
Forum ilmiah terbatas
Ketika format ini dibawa mentah-mentah ke buku umum, pembaca non-akademik
akan merasa:
·
Tidak diajak masuk
·
Tidak diberi konteks
·
Tidak dilibatkan secara
emosional
2. Terlalu Cepat Masuk ke Teori
Sering kali tulisan ilmiah langsung dibuka dengan:
·
Definisi panjang
·
Sejarah konsep
·
Landasan teori berlapis
Bagi pembaca umum, ini seperti disuruh naik tangga tinggi tanpa tahu kenapa
harus naik.
3. Minim Hubungan dengan Kehidupan Nyata
Isu ilmiah sering berhenti pada kesimpulan akademik, tanpa menjawab:
·
“Apa artinya buat saya?”
·
“Kenapa saya perlu peduli?”
·
“Apa dampaknya dalam hidup
sehari-hari?”
Di sinilah jarak antara ilmu dan pembaca semakin lebar.
Kunci Utama: Ilmu Tetap
Serius, Cara Bercerita yang Berubah
Membingkai isu ilmiah agar dekat dengan pembaca tidak
berarti mengorbankan kedalaman.
Prinsipnya sederhana:
Yang disesuaikan adalah cara menyampaikan, bukan kualitas
ilmunya.
Berikut strategi yang bisa diterapkan.
1. Mulai dari Pengalaman
atau Fenomena yang Dikenal Pembaca
Alih-alih membuka dengan teori, cobalah:
·
Cerita sehari-hari
·
Fenomena yang sedang
terjadi
·
Masalah yang sering dialami
masyarakat
Contoh:
·
Media sosial → masuk ke
teori komunikasi
·
Pembelajaran daring → masuk
ke teori pendidikan
·
Budaya instan → masuk ke
teori perilaku
Pembaca merasa:
“Oh, ini tentang hidup saya.”
Baru setelah itu, teori hadir sebagai penjelasan, bukan penghalang.
2. Jadikan Pembaca sebagai “Tokoh” dalam
Pembahasan
Tulisan ilmiah sering netral dan berjarak.
Tulisan yang dekat dengan pembaca justru:
·
Mengajak berdialog
·
Menggunakan pertanyaan
reflektif
·
Menghadirkan sudut pandang
manusia
Misalnya:
·
“Pernahkah kita menyadari…”
·
“Dalam kehidupan
sehari-hari…”
·
“Banyak dari kita
mengalami…”
Ini membuat pembaca merasa dilibatkan,
bukan diuji.
3. Gunakan Analogi dan
Ilustrasi Sederhana
Konsep ilmiah sering abstrak.
Analogi membantu menjembatani pemahaman.
Contoh:
·
Teori sebagai “kacamata”
·
Data sebagai “peta”
·
Metode sebagai “alat
navigasi”
Analogi yang tepat membuat konsep berat terasa ringan tanpa kehilangan
makna.
4. Kurangi Istilah Teknis, Perbanyak Penjelasan
Kontekstual
Istilah ilmiah boleh digunakan, tapi:
·
Jangan bertumpuk
·
Jangan diasumsikan semua
pembaca paham
·
Beri contoh konkret
Prinsipnya:
📌 Lebih baik satu istilah
dijelaskan dengan baik daripada sepuluh istilah tanpa konteks.
5. Hubungkan Isu Ilmiah
dengan Isu Sosial dan Kekinian
Isu ilmiah akan terasa dekat jika:
·
Dikaitkan dengan kondisi
sekarang
·
Menjawab keresahan publik
·
Memberi perspektif ilmiah
atas isu aktual
Misalnya:
·
Literasi → dikaitkan dengan
hoaks
·
Psikologi → dikaitkan
dengan kesehatan mental
·
Pendidikan → dikaitkan
dengan teknologi digital
Ilmu menjadi alat memahami zaman, bukan sekadar konsep abstrak.
Peran Buku dalam Membingkai Isu Ilmiah
Buku memiliki keunggulan besar:
·
Lebih dalam dari artikel
populer
·
Lebih fleksibel dari jurnal
ilmiah
·
Lebih tahan lama dari
konten media sosial
Buku adalah ruang ideal untuk:
·
Mengembangkan narasi
·
Menjelaskan konteks
·
Menjaga keseimbangan antara
ilmiah dan populer
Inilah mengapa buku berbasis riset yang dibingkai dengan
baik akan selalu punya pembaca.
Peran Penerbit dalam Proses Pembingkaian
Tidak semua penulis ilmiah terbiasa menulis untuk publik luas.
Di sinilah penerbit profesional berperan strategis.
Penerbit yang tepat akan:
·
Membantu melihat sudut
pandang pembaca
·
Memberi masukan gaya bahasa
·
Menyusun ulang struktur
naskah
·
Menjaga kualitas ilmiah
·
Membantu positioning buku
di pasar
Penerbit bukan hanya mencetak, tapi membantu ilmu menemukan
audiensnya.
Dampak pada Branding Keilmuan Penulis
Penulis yang mampu membingkai isu ilmiah dengan baik akan dipersepsikan
sebagai:
·
Akademisi yang komunikatif
·
Peneliti yang peka sosial
·
Pakar yang relevan dengan
zaman
Manfaat jangka panjangnya:
·
Lebih dikenal publik
·
Lebih sering dirujuk
·
Lebih dipercaya sebagai
narasumber
·
Lebih kuat personal
branding keilmuan
Buku menjadi bukan sekadar karya, tapi identitas intelektual.
Kesalahan yang Perlu
Dihindari
Beberapa kesalahan umum:
·
Menulis seolah pembaca
adalah penguji
·
Takut menyederhanakan
bahasa
·
Mengabaikan konteks sosial
·
Terlalu fokus pada metode
·
Tidak mau mengubah gaya
penulisan
Padahal, ilmu yang baik justru mampu menjelaskan
dirinya sendiri dengan jernih.
Penutup: Ilmu yang Dekat adalah Ilmu yang Hidup
Isu ilmiah tidak pernah jauh dari kehidupan manusia. Yang sering jauh adalah
cara kita menyampaikannya.
Dengan membingkai isu ilmiah secara tepat:
·
Ilmu tetap akurat
·
Pembaca tetap nyaman
·
Dampak sosial tetap terjaga
Jika Anda ingin menulis atau menerbitkan buku ilmiah yang:
·
Dibaca pembaca umum
·
Dipahami lintas kalangan
·
Tetap bermutu akademik
·
Menguatkan branding
keilmuan
maka kuncinya adalah membingkai isu ilmiah dengan sudut
pandang manusia.
🔍 Konsultasi Naskah Buku Penelitian
Punya skripsi, tesis, disertasi, atau laporan penelitian?
👉 Ingin tahu apakah naskah Anda bisa dijadikan buku?
👉 Butuh pendampingan agar hasil riset Anda lebih berdampak?
📩 Hubungi kami sekarang untuk Konsultasi Naskah
📩 Kirimkan ringkasan penelitian Anda
CV Cemerlang Publishing
Mitra penerbitan buku berbasis ilmu dan penelitian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar