Minggu, 30 November 2025

Bagaimana mengatasi writer’s block dengan cara kreatif


Pernah kamu duduk di depan layar atau kertas kosong, niatnya mau nulis, eh ujung-ujungnya malah bengong, scrolling, atau malah tidur? Itu dia—si writer’s block datang. Bukannya mau menakut-nakuti, tetapi ini masalah yang hampir semua penulis, pelajar, atau siapa pun yang harus menulis pernah alami. Untungnya, bukan virus yang tidak bisa disembuhkan; ada banyak trik kreatif yang bisa kamu coba supaya kata-kata kembali mengalir.

Di bawah ini kita ngobrol santai tentang apa sebenarnya writer’s block, beberapa penyebabnya menurut riset, dan tentu—cara-cara kreatif yang bisa kamu pakai untuk menembusnya. Bukan teori kaku, tetapi langkah praktis yang bisa kamu coba di rumah, di kampus, atau di warung kopi.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Apa sih sebenarnya penyebab writer’s block?

Sebelum masuk strategi, ada baiknya tahu sedikit latar belakangnya. Kalau cuma bilang, “Aku nggak punya ide,” biasanya itu cuma ungkapan permukaan. Penelitian lama sampai pandangan terkini menunjukkan penyebabnya bisa lebih dalam, berkaitan dengan perasaan dan psikologi kita.

Salah satu tulisan yang merangkum temuan peneliti dari Yale pada era 1970-an, menjelaskan bahwa blok menulis sering terkait perasaan seperti:

·         merasa tidak cukup baik, lalu takut dikritik;

·         takut dibandingkan dengan karya orang lain;

·         merasa terkungkung oleh aturan;

·         mencari pengakuan eksternal, lalu kecewa kalau tidak mendapatkannya. Writers.com

Artinya, writer’s block bukan sekadar kehabisan ide, tetapi sering kali soal rasa takut atau perasaan negatif yang menghalangi kita menulis. Hal serupa juga dibahas dalam laporan di The New Yorker tentang riset di era 1970–1980-an. Mereka menemukan bahwa blok menulis sering disertai gejala depresi, kecemasan, perfeksionisme, dan penurunan kemampuan berimajinasi. Namun riset itu juga menunjukkan ada cara yang dapat meningkatkan kreativitas lagi, salah satunya lewat latihan citra mental atau menulis hal-hal yang bersifat bebas tanpa takut dihakimi. The New Yorker

Jadi, saat kamu merasa buntu, penting untuk tahu: perasaan atau kondisi psikologismu mungkin sedang ikut menghambat imajinasi. Bukan karena kamu malas, dan bukan karena kamu kurang kreatif. Ini masalah yang bisa diatasi.

 

Data lokal: blok menulis juga nyata di lingkungan kampus

Kalau kamu mahasiswa yang sedang ngerjain tugas besar, skripsi, atau tugas akhir, ini juga tidak asing. Salah satu studi dari Indonesia meneliti mahasiswa yang mengalami writer’s block saat menulis skripsi. Hasilnya menunjukkan sebagian besar mahasiswa mengalami blok di tahap revisi, dan penyebabnya sering karena takut kritik, hilangnya kesenangan menulis, dan kurang minat terhadap topik. Mereka mengatasi dengan mengurangi pikiran negatif dan menciptakan lingkungan menulis yang kondusif—misalnya di perpustakaan atau kafe yang tenang. UIN Jakarta Repository

Bila kamu pernah merasakan hal serupa—takut dikomentari dosen, bosan dengan materi, atau nggak lagi punya mood—kamu tidak sendirian. Dan yang lebih penting: ada cara-cara praktis yang bisa kamu coba, bukan hanya menunggu inspirasi jatuh dari langit.

 

Cara kreatif mengatasi writer’s block

Berikut beberapa trik yang bisa kamu praktikkan, pakai yang paling kamu suka atau kombinasi beberapa. Gaya santai, nggak perlu pakai kostum penulis, tapi hasilnya bisa nyata.

1) Menulis bebas tanpa tujuan—biarkan pikiran berkeliaran

Ambil kertas kosong atau buka dokumen baru. Tulislah apa saja yang terlintas—bahkan hal paling konyol atau tidak penting. Misal: suara tetangga, rasa kopi, lagu yang terngiang, atau cuaca. Jangan berhenti mengalir hingga satu halaman penuh atau tiga menit berlalu.

Tujuan: melatih otak bergerak tanpa rasa takut kena kritik. Ini mirip latihan citra mental atau menulis mimpi yang disebutkan dalam riset. Dengan menulis tanpa standar, kamu memberi otak izin untuk memunculkan ide-ide liar yang bisa jadi pemantik tulisan utama.

2) Ubah aturan atau format—bikin tulisan pakai format unik

Jika biasanya menulis narasi panjang, cobalah format lain, misalnya:

·         daftar 10 hal lucu tentang topikmu;

·         dialog singkat antara dua tokoh yang tidak terkait;

·         surat pendek untuk orang yang kamu kagumi.

Kreatif dengan bentuk bisa mematahkan kebiasaan lama yang bikin stuck. Kadang, hanya dengan mengubah format, kamu menemukan kalimat awal yang pas untuk tulisan utama.

3) Tulisan mini di tempat mini—bawa catatan kecil

Kadang writer’s block datang karena ruang menulis terasa terlalu besar: papan kosong di layar besar, ruang tulis yang dingin, atau waktu yang terlalu panjang. Coba kurangi skala:

·         Tulislah satu paragraf di pojok kafe;

·         Tulis 50 kata saat menunggu angkot;

·         Bawa catatan kecil, tulis satu kalimat inspiratif saat jeda kuliah.

Pentingnya bukan panjang atau besar, tetapi melatih kebiasaan menulis meski dalam skala kecil. Lambat laun, terasa biasa dan tidak begitu menakutkan ketika menghadapi tugas menulis besar.

4) Ambil jeda kreatif: bukan mager, tapi utak-atik hal lain

Bukan berarti kamu berhenti menulis selamanya. Tapi kadang mindahin perhatian ke aktivitas berbeda—yang tetap kreativ—bisa “mengisi ulang” pikiran. Contoh:

·         Membuat sketsa kasar;

·         Mencoba resep masak yang simpel;

·         Mendengarkan musik dan mencatat perasaan yang muncul.

Ketika kamu kembali ke tulisan, kemungkinan ide muncul dari aktivitas lain tadi. Riset di atas menemukan intervensi kreatif bisa membantu mengatasi blok. Jadi, jeda bukan berarti malas, tetapi memberi ruang untuk imajinasi.

5) Buat batas waktu pendek dan menyenangkan

Sering menunda karena berpikir harus menulis setidaknya satu jam penuh? Ubah strategi:

·         Tetapkan timer 10 menit, tulis apa yang bisa;

·         Setelah timer bunyi, tandai hasil;

·         Jika mau lanjut, mulai lagi 10 menit.

Batas waktu pendek mengurangi tekanan, karena terkesan mudah. Meski hanya beberapa menit, kamu tetap membangun ritme menulis yang konsisten.

6) Kolaborasi mini: tulis bareng teman atau share ide

Mungkin kamu bukan tipe yang suka menulis sendiri terus-menerus. Coba:

·         Ajak teman untuk sesi menulis serempak—misalnya 15 menit menulis, lalu share satu kalimat paling menarik;

·         Buat grup kecil dan saling memberi prompt tulisan—kata, ide, atau gambar.

Dengan cara ini, kamu tidak merasa sendirian menghadapi papan kosong. Suara teman bisa memantik ide baru atau setidaknya bikin bahagia karena kegiatan tidak sepi.

7) Bentuk lingkungan menulis yang kamu sukai

Seperti mahasiswa di studi lokal yang merasa lebih fokus ketika menulis di tempat tenang, kamu bisa cari tempat yang membuat nyaman. Bisa:

·         Perpustakaan, kafe, taman, atau ruang kerja di rumah.

·         Dengan sedikit musik, lampu hangat, atau teh hangat.

Bila lingkungan menyenangkan, otak cenderung lebih rileks. Rileks = lebih mudah mengalirkan ide.

8) Tap the inner critic—sadarinya tapi jangan biarkan dominan

Kita semua punya suara dalam kepala yang mengkritik. Alih-alih menenggelamkannya, cobalah mengakui bahwa suara itu ada, lalu arahkan tulisan tetap maju. Misalnya:

·         Tuliskan kritik itu di catatan kecil—lalu tulis tanggapan singkat yang lebih positif;

·         Alihkan perhatian kembali ke kalimat yang sedang kamu tulis;

·         Ingat bahwa tulisan awal bukan versi final. Kamu bisa revisi nanti.

Menjadi sadar dan tetap fokus buat menulis meski suara kritis muncul, adalah latihan kunci untuk mengatasi blok.

 

Jangan lupa: evaluasi setelah berhasil menulis

Setelah kamu berhasil mematahkan blok—meski hanya dengan satu kalimat atau satu paragraf—luangkan waktu pendek untuk refleksi:

1.      Apa yang kamu lakukan yang membantu?

2.      Di mana kamu merasa masih kesulitan?

3.      Mau coba trik lain di sesi berikutnya?

Refleksi ini membantu kamu membangun toolbox pribadi. Besok, ketika blok datang lagi, kamu sudah tahu trik mana yang cocok.

 

Penutup: writer’s block memang bikin bete, tapi bukan akhir cerita

Writer’s block sering terasa seperti tembok beton; padahal sering kali itu cuma bayangan ketakutan, perfeksionisme, atau rasa lelah. Dengan memahami sedikit latar belakang psikologisnya dan mencoba trik kreatif di atas—dari menulis bebas, format unik, menit-menit mini, hingga lingkungan nyaman—kamu bisa menembus tembok itu.

Kunci yang paling penting: tetap menulis, walau sedikit, walau tidak sempurna. Setiap langkah kecil adalah kemenangan atas blok yang tadi mengganggu. Semakin sering kamu mengulang trik kreatif ini, semakin cepat kamu menemukan aliran kata yang kamu tunggu.

Selamat mencoba, dan semoga tulisanmu cepat kembali mengalir seperti kopi panas di pagi hari—hangat, lancar, dan menyenangkan.

Sabtu, 29 November 2025

Cerita sukses penulis yang memulai dari nol


Kalau kamu lagi ngebayangin jadi penulis, tapi belum punya modal, koneksi, atau pengalaman apa pun… tenang. Banyak penulis besar yang justru memulai dari titik nol, penuh penolakan, kerja sambil jalan, sampai akhirnya karya mereka meledak. Di bawah ini ada beberapa kisah nyata yang bisa bikin kamu nyengir dan merasa: eh, kalau mereka bisa, kenapa nggak aku?

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) John R. Erickson: cowboy, nol modal, lalu jadi jutawan buku anak

Bayangin: kamu seorang cowboy yang kehilangan pekerjaan karena harga pasar sapi turun, dan kamu punya sedikit uang. Kebanyakan orang bakal bingung gimana melanjutkan hidup. Nah, John R. Erickson melakukan sesuatu yang nggak biasa: ia menolak terus-menerus dari penerbit, lalu memutuskan menerbitkan sendiri bukunya dari garasi.

Hasilnya? Seri anak-anak Hank the Cowdog yang jadi salah satu seri buku anak paling sukses. Kok bisa? Ia meminjam uang $2.000, mendirikan penerbit kecil, dan buku cetak pertamanya ludes terjual. Sejak itu, ia menjual lebih dari 9,5 juta eksemplar. Ceritanya jelas bukan soal keberuntungan semata, tapi tekad yang tak mau menyerah meski masa depan kelihatan gelap. Bookstr

Pelajaran untuk penulis pemula:

·         Penolakan bisa diubah jadi bahan bakar. Erickson akhirnya sadar yang ia butuhkan bukan restu editor besar, tapi pembaca.

·         Modal kecil + ide + usaha bisa menghasilkan. Gak perlu tunggu investor atau sponsor besar; kerja dari mana pun asal konsisten.

 

2) Harper Lee: dari hidup sederhana, dipinjami waktu setahun untuk menulis… lalu meledak

Harper Lee—penulis To Kill a Mockingbird—punya latar belakang yang jauh dari kemewahan. Ia tumbuh dalam keluarga yang nggak punya banyak uang, bahkan mainan pun minim. Ia sempat kuliah hukum, lalu berhenti demi menulis. Selama bertahun-tahun, Lee hidup dengan pekerjaan biasa dan harapan tipis.

Lalu ada momen kecil yang mengubah segalanya: sahabatnya memberi hadiah—sekotak uang yang cukup untuk hidup selama setahun, agar ia bisa fokus menulis. Dan dalam setahun itu, ia menulis buku yang jadi fenomena budaya. To Kill a Mockingbird sudah terjual puluhan juta eksemplar, dengan pendapatan besar setiap tahunnya. Bookstr

Pelajaran untuk penulis pemula:

·         Waktu adalah aset berharga. Kadang kita butuh dorongan dari orang lain—tapi yang membuatnya sukses adalah menaruh semua energi ke tulisan ketika kesempatan datang.

·         Kondisi ekonomi atau sosial yang sederhana bukan penghalang. Kreativitas dan kerja keras bisa membawa karya ke dunia.

 

3) Nicholas Sparks: ditolak, nyambi kerja kasar, lalu akhirnya raih jutaan

Sebelum terkenal dengan The Notebook, Nicholas Sparks hidup seperti banyak penulis pemula: ditolak penerbit, bekerja di berbagai pekerjaan yang bikin tangan penuh tugas—dari waiter sampai telemarketer. Buku pertama-pPertama dua pun nggak berhasil diterbitkan.

Ia memberi diri sendiri ultimatum: tiga buku lagi, jika masih gagal, berhenti menulis. Ternyata, buku ketiganya The Notebook langsung mendapat agen, kontrak penerbitan, dan bahkan hak film senilai US$1 juta—hanya dalam waktu sekitar setengah tahun. Dari nol modal dan pekerjaan sambilan, ia akhirnya melesat ke posisi penulis papan atas. Bookstr

Pelajaran untuk penulis pemula:

·         Penolakan itu biasa. Banyak penulis sukses pertama kali diterima setelah beberapa kali gagal.

·         Tetapkan batas waktu atau target realistis. Kadang ultimatum yang kamu buat sendiri bisa jadi motivasi ekstra agar benar-benar serius.

 

4) Rupi Kaur: puisi di Instagram jadi buku bestseller—tanpa dukungan besar awalnya

Cerita ini agak berbeda, namun tetap dari nol: Rupi Kaur adalah seorang mahasiswa muda, berasal dari keluarga imigran pekerja keras. Ia menulis dan menggambar puisinya, lalu memutuskan untuk menerbitkan sendiri buku puisi debutnya, milk and honey. Tanpa jaringan besar penerbit atau agen, ia memasarkan karya itu sendiri—menggunakan platform digital dan komunitasnya.

Hasilnya? Buku itu laris manis, jutaan kopi terjual, dan Rupi menjadi salah satu nama paling dikenal dalam puisi modern. Ia menjelaskan bahwa jalan sendiri via self-publishing memberi kekuatan untuk mengatasi statusnya yang mungkin tidak dilirik oleh industri besar saat itu. Reedsy

Pelajaran untuk penulis pemula:

·         Media sosial dan platform digital bisa jadi panggung awal tanpa perlu izin orang lain.

·         Cerita yang otentik dan dekat dengan pengalaman pembaca punya peluang besar menembus pasar—bahkan pasar global.

 

5) Hugh Howey & Rachel Abbott: dua contoh self-publishing yang menjadi dorongan sekaligus jembatan ke penerbit besar

Dua penulis ini punya jalur berbeda tapi punya kesamaan: memulai dengan mem-publish sendiri karya mereka, lalu sukses luar biasa.

·         Rachel Abbott menulis thriller hanya untuk bersenang-senang, lalu bukunya melonjak ke posisi #1 di Amazon. Ia menjadi penulis self-publishing pertama yang meraih posisi itu, dengan penjualan jutaan kopi di berbagai bahasa. Ceritanya menunjukkan bahwa tak perlu menunggu penerbit besar untuk membuktikan karya. Reedsy

·         Hugh Howey awalnya bekerja sebagai banyak hal: kapten kapal, teknisi komputer, hingga pegawai toko buku. Ia menulis novel sci-fi Wool di ruang belakang toko buku tempatnya bekerja, lalu menerbitkan sendiri lewat Amazon KDP. Karyanya melejit, sempat menghasilkan sekitar US$100.000 per bulan hanya dari platform digital. Setelah itu, ia mendapatkan kesempatan kerja sama dengan penerbit besar—tetap memegang kendali atas hak tertentu. Reedsy

Pelajaran untuk penulis pemula:

·         Self-publishing bukan hanya cara bertahan, tapi bisa jadi rute utama menuju kesuksesan.

·         Kemandirian dalam proses penerbitan bisa memberi kebebasan kreatif, sekaligus membuka peluang kerja sama di level berikutnya.

 

6) Kenapa kisah-kisah di atas penting buat kamu yang baru mulai?

Semua contoh di atas punya beberapa kesamaan yang bisa kamu terapkan, walau konteks hidupmu berbeda:

1.      Modal nol bukan berarti kesempatan nol.
Penulis-penulis itu punya ide, kerja keras, dan tekad untuk terus menulis walau ditolak atau kondisi ekonomi sulit. Erickson bahkan terpaksa meminjam uang kecil untuk memulai, Kaur memanfaatkan platform yang ada, Howey memanfaatkan lingkungan kerja.

2.      Penolakan itu bagian dari proses.
Hampir semua di atas mengalami penolakan, bahkan beberapa kali. Sparks ditolak di dua buku pertama; Erickson punya tumpukan slip penolakan yang hampir menutupi kantor. Penting untuk melihat penolakan sebagai sinyal untuk belajar, bukan akhir cerita.

3.      Kadang satu momen kecil mengubah segalanya.
Harper Lee mendapatkan satu tahun penuh untuk fokus menulis; Sparks memberi ultimatum pada diri sendiri; Kaur memanfaatkan kesempatan digital. Kamu mungkin juga butuh satu momen, satu keputusan tegas, atau satu peluang yang kamu pegang erat.

4.      Gunakan apa yang ada—platform, komunitas, atau pekerjaanmu.
Howey menulis di belakang toko buku, Kaur bermodal Instagram, Erickson di garasi. Kamu tak perlu menunggu ruang kerja mewah—mulai dari mana saja, asal kamu menulis.

5.      Sukses bukan selalu tiba cepat, tapi bisa tiba kalau kamu terus bergerak.
Beberapa cerita membutuhkan tahun, bahkan dekade. Yang penting adalah konsistensi—menulis terus, memperbaiki karya, mencari pembaca, dan tidak menyerah.

 

7) Tips praktis dari kisah sukses ini untuk penulis pemula

Supaya kamu bisa mulai menulis dari nol dengan lebih yakin, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kamu tiru:

·         Tulis rutin, meski sedikit.
Gak perlu langsung menargetkan novel 300 halaman. Mulai dari halaman per hari, atau 500 kata. Konsistensi kecil lebih efektif daripada mimpi besar tanpa aksi.

·         Cari komunitas, bukan hanya kritik.
Bahasa di komunitas penulis atau pembaca bisa memberi umpan balik, dukungan, dan ide promosi. Seperti Kaur yang memanfaatkan jaringan digital, kamu bisa memanfaatkan sekali pertemuan, forum, atau WhatsApp group.

·         Pelajari cara menerbitkan, entah sendiri atau lewat penerbit.
Self-publishing saat ini sangat mungkin, tapi juga penting tahu kapan saatnya mencari penerbit tradisional. Cerita Howey menunjukkan bahwa kombinasi keduanya bisa jadi jalan terbaik.

·         Jangan takut menginvestasikan sedikit modal.
Modal kecil untuk cetak awal, desain cover, atau promosi bisa berbuah besar—lihat Erickson. Tapi jangan terlalu besar juga sampai memaksa diri; sesuaikan dengan kemampuan.

·         Tetap fleksibel dan belajar dari penolakan.
Jika ada revisi, terima dengan hati terbuka. Penolakan Sparks tak membuatnya berhenti. Ia terus menulis hingga menemukan work yang tepat.

 

8) Penutup: memulai dari nol bukan kutukan—melainkan pijakan

Cerita sukses penulis yang dimulai dari nol biasanya penuh drama, tapi bukan karena mereka kebetulan. Mereka memilih untuk menulis, lagi dan lagi, sambil memanfaatkan segala sumber daya yang ada—meski minim. Mereka menerima penolakan, tapi tidak berhenti. Mereka juga paham bahwa satu keputusan tegas atau satu momen kecil bisa jadi titik balik.

Kamu mungkin belum punya rak penuh buku terbitan sendiri, belum punya agen, atau belum punya 1.000 pembaca. Tapi kamu punya dua hal yang sama dengan orang-orang di atas: kemampuan untuk menulis, dan waktu untuk mencoba.

Mulai dari nol tentu menantang. Tapi dari nol juga bisa lahir cerita sukses yang jauh lebih menginspirasi. Siapa tahu, beberapa tahun ke depan, cerita kamu yang akan dibaca orang, memberi semangat pada penulis lain yang sedang berjuang memulai dari titik yang sama.

 

Jumat, 28 November 2025

Mengenal genre buku: mana yang paling populer?


Kalau mau ngobrol soal buku, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: genre apa sih yang paling banyak dibaca orang? Jawabannya tidak selalu satu saja, karena tiap daerah, tiap usia, bahkan tiap waktu bisa berbeda. Tapi kalau kita ngumpulin beberapa data terkini dari berbagai sumber—dari Indonesia sampai internasional—kita bisa melihat pola yang cukup menarik.

Di bawah ini, kita lihat beberapa genre yang sedang ngetren atau punya pengaruh besar, plus sedikit cerita kenapa mereka bisa populer. Gaya nonformal, supaya enak dibaca, tapi tetap pakai data biar nggak cuma tebak-tebakan.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) Romance: raja yang sepertinya tak tergoyahkan

Kalau ada genre yang selalu muncul di puncak, romance pantas disebut raja. Satu laporan tahun 2025 yang mengumpulkan data penjualan genre menunjukkan bahwa romance menghasilkan sekitar 1,44 miliar dolar AS per tahun—angka yang jauh lebih besar dibanding genre lain. Book and eBook Publishing Company

Kenapa bisa sebesar itu?

·         Pembaca romance cenderung voracious—mereka bisa membaca banyak judul dalam sebulan karena cerita yang cepat, emosional, dan berakhir bahagia.

·         Di era digital, penulis indie bisa masuk pasar dengan mudah lewat platform seperti Kindle Unlimited, jadi suplai cerita yang laku sangat beragam.

·         Tren dan hype juga mendorong pembelian; ketika sebuah judul viral atau ada adaptasi media, pembaca tambah penasaran.

Selain data penjualan global, ada juga fenomena yang terjadi di Eropa. Misalnya di Prancis muncul istilah new romance, yang penjualannya membesar pesat dalam beberapa tahun terakhir. Satu studi menyebut segmen ini menghasilkan belasan juta euro dari jutaan kopi buku yang terjual, dan penjualan naik dua kali lipat dari 2022 ke 2023. Le Monde.fr

Fenomena ini menunjukkan: bukan hanya di pasar Inggris atau Amerika, romance juga kuat di Eropa, dan bentuk atau gaya cerita baru terus muncul. Jadi kalau kamu pikir genre ini cuma favorit di satu tempat, nyatanya penggemarnya tersebar luas, dan bahkan merajai penjualan di banyak negara.

 

2) Mystery / thriller: adrenalin, teka-teki, susah berhenti baca

Genre kedua yang sering muncul di daftar terlaris adalah mystery atau thriller. Laporan yang sama mencatat genre ini menghasilkan sekitar 728 juta dolar AS per tahun, jauh di atas banyak genre lain. Book and eBook Publishing Company

Daya tariknya jelas:

·         Cerita berjalan cepat, sering bikin pembaca merasa harus lanjut satu bab lagi.

·         Konflik dan teka-teki yang memancing otak untuk menebak, ditambah kadang twist yang bikin kaget.

·         Banyak subgenre: crime, psychological thriller, noir, bahkan thriller yang dipadu unsur supernatural. Jadi pembaca punya banyak pilihan sesuai selera.

Genre ini cocok buat pembaca yang ingin sensasi ketegangan tanpa perlu dunia fantasi terlalu rumit atau cerita romantis yang manis. Karena sifat page-turner-nya, thriller sering jadi hits di musim liburan atau ketika membaca malam hari.

 

3) Fantasy: dunia lain yang menjebak imajinasi

Fantasy sudah lama jadi favorit, tapi belakangan ini namanya makin besar—terutama gara-gara media sosial dan komunitas pembaca yang heboh. Data 2025 menyebut genre fantasy menghasilkan sekitar 590 juta dolar AS per tahun, dan tak lagi dianggap niche. Book and eBook Publishing Company

Ada beberapa hal yang membuat fantasy tetap populer:

·         Worldbuilding yang detail, membuat pembaca betah lama-lama di dunia lain.

·         Banyak seri panjang; satu pembaca bisa mengikuti 5–7 buku dalam satu dunia yang sama.

·         Terbukanya akses lewat TikTok, BookTok, dan media lain; judul-judul baru mudah jadi viral, seringkali dari penulis indie atau luar arus utama.

Meski membutuhkan sedikit usaha untuk membangun dunia dan aturan baru, once hooked, pembaca fantasy biasanya menjadi sangat loyal pada seri tertentu. Mereka juga senang berdiskusi dan membuat teori, jadi genre ini punya komunitas yang aktif dan besar.

 

4) Young Adult (YA): bukan cuma untuk remaja—diminati segala usia

YA atau genre untuk pembaca muda ternyata punya pasar yang luas dan bukan hanya remaja. Laporan yang sama mencatat YA menguasai pasar dengan angka penjualan besar, bahkan mayoritas pembeli YA adalah orang dewasa. Book and eBook Publishing Company

Alasan YA begitu populer:

·         Tema coming-of-age, pencarian jati diri, atau konflik emosional yang sebenarnya universal; siapa pun bisa merasa relate.

·         Cerita sering memadukan beberapa elemen populer, misalnya romantis ringan, fantasi, atau misteri—jadi mudah menarik pembaca dari berbagai minat.

·         Ever‑green: beberapa judul YA tetap terus dibaca bertahun-tahun, terutama jika ada adaptasi film atau serial yang bikin hype lagi.

Genre ini sering jadi pintu masuk untuk pembaca baru. Anak muda mungkin mulai dari YA, lalu jika tertarik, mereka bisa eksplor genre lain seperti fantasy, romance, atau bahkan nonfiksi.

 

5) Kekuatan lokal dan preferensi pembaca muda Indonesia

Nilai pasar global memang penting, tapi bagaimana dengan Indonesia sendiri? Ada data yang menarik dari survei lokal tentang selera Gen Z di Indonesia. Di sana, terlihat bahwa banyak Gen Z yang tidak terlalu pilih-pilih genre; sebagian besar mengaku menyukai semua genre bacaan, meski ada sedikit perbedaan preferensi berdasarkan gender. GoodStats Data

Detail lain menunjukkan:

·         Genre fiksi cenderung lebih digemari perempuan dibanding laki-laki dalam survei tersebut, sementara biografi lebih digemari laki-laki.

·         Nonfiksi mendapat perhatian juga, dan penggunaan e-book cukup tinggi di kalangan Gen Z—terutama di usia lebih muda. GoodStats Data

Artinya, di Indonesia ada peluang besar untuk beragam genre. Pembaca muda tidak menutup kemungkinan membaca fiksi, nonfiksi, biografi, atau bahkan genre lain sepanjang kontennya relevan dan mudah diakses. Ini penting bagi penerbit atau komunitas literasi: jangan terlalu terbatas pada satu genre saja; bukalah berbagai pilihan karena minatnya luas.

 

6) Self‑help / edukasi: kuat di Asia, termasuk Indonesia

Jika kita lihat survei lain di wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, self‑help atau buku edukasi muncul sebagai genre yang paling banyak dibaca dalam survei Rakuten Insight tahun 2023. Di Indonesia, 83% responden lebih sering membaca lewat smartphone, yang menunjukkan kebiasaan baca digital tinggi. Dari berbagai negara yang disurvei, self‑help berada di posisi teratas dengan proporsi 34% pembaca. Databoks

Ini menunjukkan beberapa poin:

·         Pembaca Asia, termasuk Indonesia, punya minat besar terhadap buku yang menawarkan solusi praktis, pembelajaran, atau pengembangan diri.

·         Kanal digital menjadi jalur utama; pembaca lebih sering mengakses buku lewat smartphone daripada fisik. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan mereka juga membeli atau membaca versi cetak.

·         Genre self-help mudah dikombinasikan dengan promosi online, karena tema-temanya sering sekali dibahas di media sosial, video pendek, atau artikel.

Untuk penerbit, penulis, atau pegiat literasi di Indonesia, genre ini punya peluang besar—apalagi dengan ketersediaan platform digital yang memudahkan distribusi, serta kebutuhan pembaca akan pengetahuan praktis.

 

7) Genre lain yang juga punya tempat penting

Selain lima genre yang sering mendominasi data di atas, masih banyak genre lain yang punya penggemar setia:

·         Historical fiction yang campur antara sejarah nyata dengan cerita dramatis. Genre ini menarik bagi pembaca yang ingin menikmati kisah masa lalu dengan sentuhan fiksi.

·         Children’s books yang terus memupuk pembaca baru dari usia dini.

·         Literary fiction yang meski pasar lebih kecil, punya pembaca setia dan kritik tinggi.

Walau tidak selalu mendominasi angka penjualan global, genre-genre ini tetap punya peran penting dalam ekosistem literasi. Mereka menjaga keberagaman tema, gaya bercerita, dan kualitas sastra.

 

8) Cara memilih genre yang pas buat kamu

Kalau kamu pembaca, jangan hanya melihat mana yang paling populer—tapi juga apa yang kamu ingin rasakan saat membaca. Berikut tips sederhana:

1.      Tertarik cerita yang bikin deg‑degan?
Mulai dari mystery atau thriller.

2.      Suka cerita cinta atau emosi yang kuat?
Coba romance—banyak variasi, dari ringan sampai intens.

3.      Mau pelarian ke dunia lain yang luas?
Fantasy bisa jadi teman lama di malam hari.

4.      Ingin cerita yang mudah relate dan sering jadi pembicaraan?
YA cocok di segala usia.

5.      Butuh motivasi, panduan hidup, atau cara kerja otak yang lebih baik?
Self-help atau edukasi bisa membantu.

6.      Penasaran dengan kisah nyata atau tokoh inspiratif?
Coba biografi atau historical fiction.

Tak ada yang salah memilih genre mana pun. Bahkan bisa jadi justru perpaduan genre yang bikin kamu menemukan buku favorit baru.

 

Penutup: popularitas genre berubah, tapi rasa penasaran pembaca tetap inti

Tren genre bisa naik-turun—dipengaruhi media sosial, film atau serial adaptasi, perubahan minat pembaca, dan faktor budaya lain. Dari romance raksasa, thriller yang adiktif, fantasy yang magis, hingga self-help yang praktis, semuanya punya momentum sendiri.

Yang penting, dari data dan fenomena di atas, terlihat bahwa:

·         Pembaca punya ruang luas untuk memilih.

·         Popularitas genre global sering beresonansi juga di Indonesia, tapi tetap ada kekhasan lokal.

·         Keberagaman genre justru memperkaya dunia literasi; makin banyak pilihan, makin banyak orang yang bisa menemukan kegembiraan membaca.

Jadi, genre apa yang paling populer? Jawabannya bisa satu, bisa banyak—dan boleh berubah dari waktu ke waktu. Yang pasti, selalu ada genre baru atau kombinasi menarik yang siap memikat pembaca berikutnya. Selamat melanglang buana di dunia buku, dan jangan lupa: coba satu genre yang belum pernah kamu baca, mungkin kamu akan menemukan harta karun tak terduga.



Kamis, 27 November 2025

Dampak literasi digital pada kebiasaan membaca buku fisik


Kalau dulu cuma ada dua pilihan: baca buku fisik atau nggak baca sama sekali, sekarang pilihan itu jadi jauh lebih berwarna. Smartphone, tablet, e‑reader, aplikasi bacaan—semuanya bikin dunia literasi makin digital. Lalu bagaimana semua itu berpengaruh ke kebiasaan membaca buku fisik? Apakah digital bikin buku fisik jadi terlupakan, atau malah sebaliknya?

Mari kita ngobrol santai tentang ini, dengan contoh nyata, data, dan sedikit bumbu pengalaman sehari‑hari.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1) Tren penurunan minat baca yang bikin kita waspada

Sebelum mengulik soal digital, penting tahu dulu: minat baca terutama di kalangan anak muda sedang menurun di banyak tempat. Contohnya laporan terbaru dari National Literacy Trust di Inggris. Mereka mencatat bahwa pada 2025 hanya sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun yang menikmati membaca di waktu senggang—level terendah dalam 20 tahun. Bahkan yang membaca setiap hari turun di angka terendah sejak survei mereka dimulai. National Literacy Trust

Yang menarik, mereka juga menemukan motivator tertentu: 38% anak muda terdorong membaca saat materi terkait film atau serial favorit, dan 37% karena sesuai minat atau hobi. Satu dari tiga juga terpengaruh oleh sampul atau judul yang menarik. National Literacy Trust

Apa artinya?

·         Penurunan minat baca terjadi, di mana teknologi dan konten digital jelas punya peran.

·         Tapi kalau bacaan digital atau pengaruh media lain disusun dengan cerdas, justru bisa jadi pintu masuk supaya mereka kembali membaca—termasuk buku fisik.

Jadi, bukan cuma tentang digital versus fisik. Ini soal bagaimana kita mengaitkan keduanya agar tetap relevan dengan pembaca muda.

 

2) Literasi digital: bukan musuh buku fisik, tapi bisa jadi pendorong baca

Kalau kamu khawatir digital akan membuat buku fisik kehilangan tempat, ada penelitian lokal yang memberi kabar agak menenangkan. Sebuah studi di Universitas Negeri Jakarta meneliti seberapa sering mahasiswa menggunakan e‑book dan seberapa mudah aksesnya, lalu melihat pengaruhnya terhadap kebiasaan membaca. Hasilnya: frekuensi penggunaan e‑book dan kemudahan akses punya pengaruh positif pada kebiasaan membaca. Lebih menarik lagi, literasi digital memperkuat hubungan antara akses digital dan kebiasaan baca. Proceedings UNESA

Artinya: ketika seseorang punya kemampuan digital yang baik—misalnya tahu cara mencari, memilih, dan memanfaatkan bahan bacaan digital—mereka cenderung punya kebiasaan membaca yang lebih kuat. Dan kebiasaan ini tidak harus berhenti di layar. Banyak dari pembaca digital yang akhirnya mencari buku fisik, karena:

·         Mereka sudah punya ketertarikan dari konten digital.

·         Mereka ingin merasakan pengalaman membaca yang berbeda.

·         Atau sekadar ingin punya catatan fisik, memori visual, atau kenyamanan baca tanpa notifikasi.

Jadi, literasi digital bisa menjadi jembatan menuju buku fisik, bukan hanya pemutus jembatan.

 

3) Kenapa buku fisik tetap punya keunggulan unik di era digital?

Meski ada kemajuan digital, sejumlah penelitian menunjukkan buku fisik punya keuntungan tersendiri, terutama dalam hal pemahaman dan fokus. Artikel dari Psychology Today merangkum penelitian yang menyatakan bahwa pembaca fisik punya tingkat pemahaman hingga 6–8 kali lebih baik dibanding pembaca di e‑reader tertentu. Salah satu alasannya adalah minimnya gangguan digital, serta cara kita memori visual: membalik halaman secara fisik membantu otak memetakan lokasi informasi. Psychology Today

Lebih jauh, pengalaman memegang buku, membalik halaman, atau menyentuh kertas memberi keterlibatan fisik yang berbeda dari layar. Hal ini juga disebutkan sebagai bagian dari bagaimana interaksi dengan objek fisik membantu membangun representasi mental yang lebih koheren. Psychology Today

Selain itu, ada aspek sosial: pergi ke toko buku, bertukar buku dengan teman, atau berbicara dengan pustakawan—semua itu adalah pengalaman sosial yang kerap hilang kalau hanya mengandalkan e‑book saja. Psychology Today

Di Indonesia sendiri, sebuah tulisan di perpustakaan universitas menekankan sensasi dan keterlibatan emosional buku cetak—aroma kertas, tekstur halaman, hingga sensasi membalik lembar—yang bisa meningkatkan daya ingat dan fokus, juga minim gangguan karena tidak ada notifikasi. lib.ub.ac.id

Jadi, kenapa buku fisik masih nge‑hits meski jamannya digital?
Karena buku fisik memberi pengalaman membaca mendalam yang sulit ditiru layar, terutama saat kita ingin fokus, memahami secara dalam, atau mengingat dengan lebih kuat.

 

4) Lalu apa dampak nyata literasi digital pada buku fisik?

Muncul beberapa pola menarik:

a) Lebih banyak pembaca mulai dari layar, lalu lama‑lama pindah ke fisik

Orang yang dulu tidak tertarik membaca mungkin bertemu ebook atau artikel digital yang menarik. Mereka mulai membaca sedikit demi sedikit. Setelah merasa nyaman, mereka ingin melanjutkan dengan versi cetak, apalagi kalau tulisan itu panjang atau ingin disimpan. Digital memicu rasa ingin tahu; buku fisik memberi ruang lebih leluasa untuk menikmati.

b) Baca fisik menjadi pilihan untuk membaca serius

Saat membaca untuk tujuan mendalam—misalnya belajar teori, memahami karya sastra, atau riset—banyak orang merasa buku fisik menawarkan konsentrasi lebih tinggi. Layar memancing rasa ingin cek notifikasi, geser-geser, atau buka aplikasi lain; buku fisik cenderung meredam godaan itu.

c) Penggunaan digital meningkatkan akses sumber bacaan

Literasi digital memudahkan orang menemukan rekomendasi buku fisik, membaca ulasan, atau mencari tempat membeli. Kamu bisa melihat review di platform, tonton video pendek tentang buku, lalu memutuskan membeli versi fisik. Tanpa digital, informasi ini mungkin sulit didapat.

d) Tantangan: konten instan menurunkan stamina baca panjang

Kelemahan literasi digital muncul bila pengguna hanya terbiasa dengan konten super pendek—posting media sosial, video singkat—tanpa latihan fokus membaca panjang. Ini bisa membuat buku fisik terasa berat. Di sinilah peran pendampingan, rekomendasi buku ringan, dan kebiasaan kecil seperti 10 menit membaca buku fisik setiap hari.

 

5) Cara memanfaatkan literasi digital untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca buku fisik

Kalau sudah tahu digital punya dua sisi—bisa pendorong, tapi juga pengalih perhatian—maka langkah praktisnya:

1.      Gunakan platform digital untuk rekomendasi dan komunitas

o    Buat grup online atau thread diskusi singkat tentang buku fisik.

o    Bagikan kutipan pendek, foto buku, atau pengalaman singkat membaca.

o    Jadi, pembaca digital tahu bahwa ada dunia fisik yang seru menanti.

2.      Tampilkan tantangan membaca ringan dengan dukungan digital

o    Misalnya, challenge baca 1 bab sehari dan bagikan progress di story media sosial.

o    Atau gunakan aplikasi jurnal digital untuk mencatat apa yang kamu pelajari dari buku fisik.

3.      Sediakan konten digital yang mengarahkan ke buku fisik

o    Video review singkat, blog post ringkas, atau podcast yang membahas buku tertentu.

o    Lalu arahkan pembaca ke toko buku atau perpustakaan lokal.

4.      Edukasi literasi digital agar pembaca bisa memilah sumber yang baik

o    Ajarkan cara cek kredibilitas penulis, cek ulasan, atau menemukan versi fisik dari ebook.

o    Dengan begitu, buku fisik bukan lagi korban dari digital yang asal-asalan.

 

6) Sebuah catatan optimis: keduanya bisa berdampingan

Pembaca atau penerbit yang optimis melihat literasi digital dan buku fisik bukan bak dua sisi perang; melainkan dua alat yang bisa saling menguatkan. Buku fisik memberi kedalaman; digital memberi akses dan koneksi. Tradisi buku fisik tidak akan hilang dalam semalam kalau kita bisa menyiasatinya dengan cara modern.

Untuk pembaca, pilihan menjadi lebih luas:

·         Mau membaca cepat di jalan lewat layar? Bisa.

·         Mau menyelami buku tebal dengan damai? Juga bisa.

·         Mau keduanya? Jelas bisa—asal kita tahu kapan dan untuk apa masing-masing dipakai.

Untuk penulis, penerbit, dan komunitas literasi, ada peluang besar:

·         Menggunakan digital untuk memancing ketertarikan.

·         Menyediakan jalur mudah menuju buku fisik.

·         Membuat kegiatan baca yang hybrid: sebagian online, sebagian offline.

 

7) Penutup: yang penting bukan hanya pilihan media, tetapi kebiasaan membaca

Di akhir hari, apa yang membuat literasi hidup bukan hanya di layar atau di rak buku? Kebiasaan membaca. Mau itu dimulai dari swiping di layar atau membalik halaman kertas, yang penting adalah kita terus membaca, terus belajar, dan terus menikmati cerita atau informasi.

Literasi digital punya peran besar di era sekarang: mempercepat akses, menyebarkan info, dan menarik perhatian. Buku fisik punya peran abadi: fokus, pemahaman mendalam, dan pengalaman emosional yang tidak tergantikan. Kalau kita bisa memadukan keduanya dengan cerdas, kebiasaan membaca akan tetap tumbuh—baik di era digital ini, maupun di masa depan.

Jadi, selamat menikmati kedua dunia itu. Baca di mana saja, kapan saja, tapi jangan lupakan sensasi membuka buku fisik yang dulu membentuk banyak pembaca. Semoga literasi digital justru bikin rak buku di rumahmu makin penuh, bukan makin kosong.