Minggu, 30 November 2025

Bagaimana mengatasi writer’s block dengan cara kreatif


Pernah kamu duduk di depan layar atau kertas kosong, niatnya mau nulis, eh ujung-ujungnya malah bengong, scrolling, atau malah tidur? Itu dia—si writer’s block datang. Bukannya mau menakut-nakuti, tetapi ini masalah yang hampir semua penulis, pelajar, atau siapa pun yang harus menulis pernah alami. Untungnya, bukan virus yang tidak bisa disembuhkan; ada banyak trik kreatif yang bisa kamu coba supaya kata-kata kembali mengalir.

Di bawah ini kita ngobrol santai tentang apa sebenarnya writer’s block, beberapa penyebabnya menurut riset, dan tentu—cara-cara kreatif yang bisa kamu pakai untuk menembusnya. Bukan teori kaku, tetapi langkah praktis yang bisa kamu coba di rumah, di kampus, atau di warung kopi.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Apa sih sebenarnya penyebab writer’s block?

Sebelum masuk strategi, ada baiknya tahu sedikit latar belakangnya. Kalau cuma bilang, “Aku nggak punya ide,” biasanya itu cuma ungkapan permukaan. Penelitian lama sampai pandangan terkini menunjukkan penyebabnya bisa lebih dalam, berkaitan dengan perasaan dan psikologi kita.

Salah satu tulisan yang merangkum temuan peneliti dari Yale pada era 1970-an, menjelaskan bahwa blok menulis sering terkait perasaan seperti:

·         merasa tidak cukup baik, lalu takut dikritik;

·         takut dibandingkan dengan karya orang lain;

·         merasa terkungkung oleh aturan;

·         mencari pengakuan eksternal, lalu kecewa kalau tidak mendapatkannya. Writers.com

Artinya, writer’s block bukan sekadar kehabisan ide, tetapi sering kali soal rasa takut atau perasaan negatif yang menghalangi kita menulis. Hal serupa juga dibahas dalam laporan di The New Yorker tentang riset di era 1970–1980-an. Mereka menemukan bahwa blok menulis sering disertai gejala depresi, kecemasan, perfeksionisme, dan penurunan kemampuan berimajinasi. Namun riset itu juga menunjukkan ada cara yang dapat meningkatkan kreativitas lagi, salah satunya lewat latihan citra mental atau menulis hal-hal yang bersifat bebas tanpa takut dihakimi. The New Yorker

Jadi, saat kamu merasa buntu, penting untuk tahu: perasaan atau kondisi psikologismu mungkin sedang ikut menghambat imajinasi. Bukan karena kamu malas, dan bukan karena kamu kurang kreatif. Ini masalah yang bisa diatasi.

 

Data lokal: blok menulis juga nyata di lingkungan kampus

Kalau kamu mahasiswa yang sedang ngerjain tugas besar, skripsi, atau tugas akhir, ini juga tidak asing. Salah satu studi dari Indonesia meneliti mahasiswa yang mengalami writer’s block saat menulis skripsi. Hasilnya menunjukkan sebagian besar mahasiswa mengalami blok di tahap revisi, dan penyebabnya sering karena takut kritik, hilangnya kesenangan menulis, dan kurang minat terhadap topik. Mereka mengatasi dengan mengurangi pikiran negatif dan menciptakan lingkungan menulis yang kondusif—misalnya di perpustakaan atau kafe yang tenang. UIN Jakarta Repository

Bila kamu pernah merasakan hal serupa—takut dikomentari dosen, bosan dengan materi, atau nggak lagi punya mood—kamu tidak sendirian. Dan yang lebih penting: ada cara-cara praktis yang bisa kamu coba, bukan hanya menunggu inspirasi jatuh dari langit.

 

Cara kreatif mengatasi writer’s block

Berikut beberapa trik yang bisa kamu praktikkan, pakai yang paling kamu suka atau kombinasi beberapa. Gaya santai, nggak perlu pakai kostum penulis, tapi hasilnya bisa nyata.

1) Menulis bebas tanpa tujuan—biarkan pikiran berkeliaran

Ambil kertas kosong atau buka dokumen baru. Tulislah apa saja yang terlintas—bahkan hal paling konyol atau tidak penting. Misal: suara tetangga, rasa kopi, lagu yang terngiang, atau cuaca. Jangan berhenti mengalir hingga satu halaman penuh atau tiga menit berlalu.

Tujuan: melatih otak bergerak tanpa rasa takut kena kritik. Ini mirip latihan citra mental atau menulis mimpi yang disebutkan dalam riset. Dengan menulis tanpa standar, kamu memberi otak izin untuk memunculkan ide-ide liar yang bisa jadi pemantik tulisan utama.

2) Ubah aturan atau format—bikin tulisan pakai format unik

Jika biasanya menulis narasi panjang, cobalah format lain, misalnya:

·         daftar 10 hal lucu tentang topikmu;

·         dialog singkat antara dua tokoh yang tidak terkait;

·         surat pendek untuk orang yang kamu kagumi.

Kreatif dengan bentuk bisa mematahkan kebiasaan lama yang bikin stuck. Kadang, hanya dengan mengubah format, kamu menemukan kalimat awal yang pas untuk tulisan utama.

3) Tulisan mini di tempat mini—bawa catatan kecil

Kadang writer’s block datang karena ruang menulis terasa terlalu besar: papan kosong di layar besar, ruang tulis yang dingin, atau waktu yang terlalu panjang. Coba kurangi skala:

·         Tulislah satu paragraf di pojok kafe;

·         Tulis 50 kata saat menunggu angkot;

·         Bawa catatan kecil, tulis satu kalimat inspiratif saat jeda kuliah.

Pentingnya bukan panjang atau besar, tetapi melatih kebiasaan menulis meski dalam skala kecil. Lambat laun, terasa biasa dan tidak begitu menakutkan ketika menghadapi tugas menulis besar.

4) Ambil jeda kreatif: bukan mager, tapi utak-atik hal lain

Bukan berarti kamu berhenti menulis selamanya. Tapi kadang mindahin perhatian ke aktivitas berbeda—yang tetap kreativ—bisa “mengisi ulang” pikiran. Contoh:

·         Membuat sketsa kasar;

·         Mencoba resep masak yang simpel;

·         Mendengarkan musik dan mencatat perasaan yang muncul.

Ketika kamu kembali ke tulisan, kemungkinan ide muncul dari aktivitas lain tadi. Riset di atas menemukan intervensi kreatif bisa membantu mengatasi blok. Jadi, jeda bukan berarti malas, tetapi memberi ruang untuk imajinasi.

5) Buat batas waktu pendek dan menyenangkan

Sering menunda karena berpikir harus menulis setidaknya satu jam penuh? Ubah strategi:

·         Tetapkan timer 10 menit, tulis apa yang bisa;

·         Setelah timer bunyi, tandai hasil;

·         Jika mau lanjut, mulai lagi 10 menit.

Batas waktu pendek mengurangi tekanan, karena terkesan mudah. Meski hanya beberapa menit, kamu tetap membangun ritme menulis yang konsisten.

6) Kolaborasi mini: tulis bareng teman atau share ide

Mungkin kamu bukan tipe yang suka menulis sendiri terus-menerus. Coba:

·         Ajak teman untuk sesi menulis serempak—misalnya 15 menit menulis, lalu share satu kalimat paling menarik;

·         Buat grup kecil dan saling memberi prompt tulisan—kata, ide, atau gambar.

Dengan cara ini, kamu tidak merasa sendirian menghadapi papan kosong. Suara teman bisa memantik ide baru atau setidaknya bikin bahagia karena kegiatan tidak sepi.

7) Bentuk lingkungan menulis yang kamu sukai

Seperti mahasiswa di studi lokal yang merasa lebih fokus ketika menulis di tempat tenang, kamu bisa cari tempat yang membuat nyaman. Bisa:

·         Perpustakaan, kafe, taman, atau ruang kerja di rumah.

·         Dengan sedikit musik, lampu hangat, atau teh hangat.

Bila lingkungan menyenangkan, otak cenderung lebih rileks. Rileks = lebih mudah mengalirkan ide.

8) Tap the inner critic—sadarinya tapi jangan biarkan dominan

Kita semua punya suara dalam kepala yang mengkritik. Alih-alih menenggelamkannya, cobalah mengakui bahwa suara itu ada, lalu arahkan tulisan tetap maju. Misalnya:

·         Tuliskan kritik itu di catatan kecil—lalu tulis tanggapan singkat yang lebih positif;

·         Alihkan perhatian kembali ke kalimat yang sedang kamu tulis;

·         Ingat bahwa tulisan awal bukan versi final. Kamu bisa revisi nanti.

Menjadi sadar dan tetap fokus buat menulis meski suara kritis muncul, adalah latihan kunci untuk mengatasi blok.

 

Jangan lupa: evaluasi setelah berhasil menulis

Setelah kamu berhasil mematahkan blok—meski hanya dengan satu kalimat atau satu paragraf—luangkan waktu pendek untuk refleksi:

1.      Apa yang kamu lakukan yang membantu?

2.      Di mana kamu merasa masih kesulitan?

3.      Mau coba trik lain di sesi berikutnya?

Refleksi ini membantu kamu membangun toolbox pribadi. Besok, ketika blok datang lagi, kamu sudah tahu trik mana yang cocok.

 

Penutup: writer’s block memang bikin bete, tapi bukan akhir cerita

Writer’s block sering terasa seperti tembok beton; padahal sering kali itu cuma bayangan ketakutan, perfeksionisme, atau rasa lelah. Dengan memahami sedikit latar belakang psikologisnya dan mencoba trik kreatif di atas—dari menulis bebas, format unik, menit-menit mini, hingga lingkungan nyaman—kamu bisa menembus tembok itu.

Kunci yang paling penting: tetap menulis, walau sedikit, walau tidak sempurna. Setiap langkah kecil adalah kemenangan atas blok yang tadi mengganggu. Semakin sering kamu mengulang trik kreatif ini, semakin cepat kamu menemukan aliran kata yang kamu tunggu.

Selamat mencoba, dan semoga tulisanmu cepat kembali mengalir seperti kopi panas di pagi hari—hangat, lancar, dan menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar