Pernah kamu duduk di depan layar atau kertas kosong, niatnya mau nulis, eh
ujung-ujungnya malah bengong, scrolling, atau malah tidur? Itu dia—si writer’s
block datang. Bukannya mau menakut-nakuti, tetapi ini masalah yang hampir
semua penulis, pelajar, atau siapa pun yang harus menulis pernah alami.
Untungnya, bukan virus yang tidak bisa disembuhkan; ada banyak trik kreatif
yang bisa kamu coba supaya kata-kata kembali mengalir.
Di bawah ini kita ngobrol santai tentang apa sebenarnya writer’s block,
beberapa penyebabnya menurut riset, dan tentu—cara-cara kreatif yang bisa kamu
pakai untuk menembusnya. Bukan teori kaku, tetapi langkah praktis yang bisa
kamu coba di rumah, di kampus, atau di warung kopi.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
Apa sih sebenarnya penyebab writer’s block?
Sebelum masuk strategi, ada baiknya tahu sedikit latar belakangnya. Kalau
cuma bilang, “Aku nggak punya ide,” biasanya itu cuma ungkapan permukaan.
Penelitian lama sampai pandangan terkini menunjukkan penyebabnya bisa lebih
dalam, berkaitan dengan perasaan dan psikologi kita.
Salah satu tulisan yang merangkum temuan peneliti dari Yale pada era
1970-an, menjelaskan bahwa blok menulis sering terkait perasaan seperti:
·
merasa tidak cukup baik,
lalu takut dikritik;
·
takut dibandingkan dengan
karya orang lain;
·
merasa terkungkung oleh
aturan;
·
mencari pengakuan
eksternal, lalu kecewa kalau tidak mendapatkannya. Writers.com
Artinya, writer’s block bukan sekadar kehabisan ide, tetapi sering
kali soal rasa takut atau perasaan negatif yang menghalangi kita menulis. Hal
serupa juga dibahas dalam laporan di The New Yorker tentang riset di era
1970–1980-an. Mereka menemukan bahwa blok menulis sering disertai gejala
depresi, kecemasan, perfeksionisme, dan penurunan kemampuan berimajinasi. Namun
riset itu juga menunjukkan ada cara yang dapat meningkatkan kreativitas lagi,
salah satunya lewat latihan citra mental atau menulis hal-hal yang bersifat
bebas tanpa takut dihakimi. The New Yorker
Jadi, saat kamu merasa buntu, penting untuk tahu: perasaan atau kondisi
psikologismu mungkin sedang ikut menghambat imajinasi. Bukan karena kamu malas,
dan bukan karena kamu kurang kreatif. Ini masalah yang bisa diatasi.
Data lokal: blok menulis juga nyata di
lingkungan kampus
Kalau kamu mahasiswa yang sedang ngerjain tugas besar, skripsi, atau tugas
akhir, ini juga tidak asing. Salah satu studi dari Indonesia meneliti mahasiswa
yang mengalami writer’s block saat menulis skripsi. Hasilnya menunjukkan
sebagian besar mahasiswa mengalami blok di tahap revisi, dan penyebabnya sering
karena takut kritik, hilangnya kesenangan menulis,
dan kurang minat terhadap topik. Mereka mengatasi dengan
mengurangi pikiran negatif dan menciptakan lingkungan menulis yang
kondusif—misalnya di perpustakaan atau kafe yang tenang. UIN Jakarta
Repository
Bila kamu pernah merasakan hal serupa—takut dikomentari dosen, bosan dengan
materi, atau nggak lagi punya mood—kamu tidak sendirian. Dan yang lebih
penting: ada cara-cara praktis yang bisa kamu coba, bukan hanya menunggu
inspirasi jatuh dari langit.
Cara kreatif mengatasi writer’s block
Berikut beberapa trik yang bisa kamu praktikkan, pakai yang paling kamu suka
atau kombinasi beberapa. Gaya santai, nggak perlu pakai kostum penulis, tapi
hasilnya bisa nyata.
1) Menulis bebas tanpa tujuan—biarkan pikiran berkeliaran
Ambil kertas kosong atau buka dokumen baru. Tulislah apa saja yang
terlintas—bahkan hal paling konyol atau tidak penting. Misal: suara tetangga,
rasa kopi, lagu yang terngiang, atau cuaca. Jangan berhenti mengalir hingga
satu halaman penuh atau tiga menit berlalu.
Tujuan: melatih otak bergerak tanpa rasa takut kena kritik. Ini mirip
latihan citra mental atau menulis mimpi yang disebutkan dalam riset. Dengan
menulis tanpa standar, kamu memberi otak izin untuk memunculkan
ide-ide liar yang bisa jadi pemantik tulisan utama.
2) Ubah aturan atau format—bikin tulisan pakai format unik
Jika biasanya menulis narasi panjang, cobalah format lain, misalnya:
·
daftar 10 hal lucu tentang
topikmu;
·
dialog singkat antara dua
tokoh yang tidak terkait;
·
surat pendek untuk orang
yang kamu kagumi.
Kreatif dengan bentuk bisa mematahkan kebiasaan lama yang bikin stuck.
Kadang, hanya dengan mengubah format, kamu menemukan kalimat awal yang pas
untuk tulisan utama.
3) Tulisan mini di tempat mini—bawa catatan kecil
Kadang writer’s block datang karena ruang menulis terasa terlalu besar:
papan kosong di layar besar, ruang tulis yang dingin, atau waktu yang terlalu
panjang. Coba kurangi skala:
·
Tulislah satu paragraf di
pojok kafe;
·
Tulis 50 kata saat menunggu
angkot;
·
Bawa catatan kecil, tulis
satu kalimat inspiratif saat jeda kuliah.
Pentingnya bukan panjang atau besar, tetapi melatih kebiasaan
menulis meski dalam skala kecil. Lambat laun, terasa biasa dan tidak
begitu menakutkan ketika menghadapi tugas menulis besar.
4) Ambil jeda kreatif: bukan mager, tapi utak-atik hal lain
Bukan berarti kamu berhenti menulis selamanya. Tapi kadang mindahin
perhatian ke aktivitas berbeda—yang tetap kreativ—bisa “mengisi ulang” pikiran.
Contoh:
·
Membuat sketsa kasar;
·
Mencoba resep masak yang
simpel;
·
Mendengarkan musik dan
mencatat perasaan yang muncul.
Ketika kamu kembali ke tulisan, kemungkinan ide muncul dari aktivitas lain
tadi. Riset di atas menemukan intervensi kreatif bisa membantu mengatasi blok.
Jadi, jeda bukan berarti malas, tetapi memberi ruang untuk imajinasi.
5) Buat batas waktu pendek dan menyenangkan
Sering menunda karena berpikir harus menulis setidaknya satu jam penuh? Ubah
strategi:
·
Tetapkan timer 10 menit,
tulis apa yang bisa;
·
Setelah timer bunyi, tandai
hasil;
·
Jika mau lanjut, mulai lagi
10 menit.
Batas waktu pendek mengurangi tekanan, karena terkesan mudah. Meski hanya
beberapa menit, kamu tetap membangun ritme menulis yang konsisten.
6) Kolaborasi mini: tulis bareng teman atau share ide
Mungkin kamu bukan tipe yang suka menulis sendiri terus-menerus. Coba:
·
Ajak teman untuk sesi
menulis serempak—misalnya 15 menit menulis, lalu share satu kalimat paling
menarik;
·
Buat grup kecil dan saling
memberi prompt tulisan—kata, ide, atau gambar.
Dengan cara ini, kamu tidak merasa sendirian menghadapi papan kosong. Suara
teman bisa memantik ide baru atau setidaknya bikin bahagia karena kegiatan
tidak sepi.
7) Bentuk lingkungan menulis yang kamu sukai
Seperti mahasiswa di studi lokal yang merasa lebih fokus ketika menulis di
tempat tenang, kamu bisa cari tempat yang membuat nyaman. Bisa:
·
Perpustakaan, kafe, taman,
atau ruang kerja di rumah.
·
Dengan sedikit musik, lampu
hangat, atau teh hangat.
Bila lingkungan menyenangkan, otak cenderung lebih rileks. Rileks = lebih
mudah mengalirkan ide.
8) Tap the inner critic—sadarinya tapi jangan biarkan dominan
Kita semua punya suara dalam kepala yang mengkritik. Alih-alih
menenggelamkannya, cobalah mengakui bahwa suara itu ada, lalu
arahkan tulisan tetap maju. Misalnya:
·
Tuliskan kritik itu di
catatan kecil—lalu tulis tanggapan singkat yang lebih positif;
·
Alihkan perhatian kembali
ke kalimat yang sedang kamu tulis;
·
Ingat bahwa tulisan awal
bukan versi final. Kamu bisa revisi nanti.
Menjadi sadar dan tetap fokus buat menulis meski suara kritis muncul, adalah
latihan kunci untuk mengatasi blok.
Jangan lupa: evaluasi
setelah berhasil menulis
Setelah kamu berhasil mematahkan blok—meski hanya dengan satu kalimat atau
satu paragraf—luangkan waktu pendek untuk refleksi:
1. Apa yang kamu lakukan yang membantu?
2. Di mana kamu merasa masih kesulitan?
3. Mau coba trik lain di sesi berikutnya?
Refleksi ini membantu kamu membangun toolbox pribadi. Besok, ketika
blok datang lagi, kamu sudah tahu trik mana yang cocok.
Penutup: writer’s block memang bikin bete, tapi bukan
akhir cerita
Writer’s block sering terasa seperti tembok beton; padahal sering kali itu
cuma bayangan ketakutan, perfeksionisme, atau rasa lelah. Dengan memahami
sedikit latar belakang psikologisnya dan mencoba trik kreatif di atas—dari
menulis bebas, format unik, menit-menit mini, hingga lingkungan nyaman—kamu
bisa menembus tembok itu.
Kunci yang paling penting: tetap menulis, walau sedikit, walau tidak
sempurna. Setiap langkah kecil adalah kemenangan atas blok yang tadi
mengganggu. Semakin sering kamu mengulang trik kreatif ini, semakin cepat kamu
menemukan aliran kata yang kamu tunggu.
Selamat mencoba, dan semoga tulisanmu cepat kembali mengalir seperti kopi
panas di pagi hari—hangat, lancar, dan menyenangkan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar