Sabtu, 22 Maret 2025

Publikasi dan Hegemoni Bahasa Inggris bagian 5

 

1.     Mengapa editor merasa perlu untuk tetap mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris meskipun menyadari dampak hegemoninya?

Bahasa Inggris telah menjadi lingua franca dalam publikasi ilmiah global, memungkinkan para peneliti dari berbagai latar belakang untuk berkomunikasi dan berbagi temuan mereka secara luas. Namun, dominasi bahasa Inggris dalam dunia akademik sering kali dikritik karena dianggap menciptakan ketimpangan akses dan mengesampingkan bahasa serta perspektif ilmuwan dari negara-negara non-bahasa Inggris. Meskipun menyadari dampak hegemonik ini, banyak editor jurnal ilmiah tetap mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris. Artikel ini akan membahas alasan di balik keputusan tersebut dengan mengacu pada berbagai sumber akademik.

Pentingnya Bahasa Inggris sebagai Lingua Franca Ilmiah

Salah satu alasan utama mengapa editor tetap mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris adalah perannya sebagai lingua franca dalam komunitas akademik internasional. Hyland (2016) menegaskan bahwa "bahasa Inggris memungkinkan komunikasi lintas batas dan meningkatkan keterbacaan serta dampak penelitian ilmiah" (p. 89). Dengan menggunakan satu bahasa yang dapat dipahami secara luas, jurnal ilmiah dapat menjangkau audiens yang lebih besar dan memastikan bahwa hasil penelitian lebih mudah diakses oleh komunitas ilmiah global.

Selain itu, banyak editor berpendapat bahwa publikasi dalam bahasa Inggris meningkatkan daya saing jurnal mereka. Jurnal yang menerbitkan artikel dalam bahasa Inggris cenderung memiliki faktor dampak yang lebih tinggi, yang sering digunakan sebagai indikator kualitas akademik. Swales (2004) mencatat bahwa "publikasi dalam bahasa Inggris memberikan keuntungan kompetitif bagi jurnal dalam menarik penulis dan pembaca dari berbagai belahan dunia" (p. 112). Oleh karena itu, banyak editor merasa perlu mempertahankan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam publikasi mereka untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi jurnal di tingkat global.

Meningkatkan Aksesibilitas dan Dampak Ilmiah

Editor juga mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris karena mempertimbangkan aksesibilitas dan dampak penelitian ilmiah. Artikel yang diterbitkan dalam bahasa Inggris memiliki peluang lebih besar untuk dikutip, dibandingkan dengan artikel yang diterbitkan dalam bahasa lokal. Menurut Salager-Meyer (2014), "artikel dalam bahasa Inggris memiliki tingkat sitasi yang lebih tinggi karena dapat diakses oleh lebih banyak pembaca di seluruh dunia" (p. 138). Dengan kata lain, publikasi dalam bahasa Inggris meningkatkan kemungkinan bahwa penelitian akan digunakan dan dikembangkan lebih lanjut oleh akademisi lain.

Dalam konteks ini, editor melihat penggunaan bahasa Inggris sebagai strategi untuk memperluas dampak penelitian yang mereka terbitkan. Jika jurnal menerbitkan artikel dalam bahasa lokal, kemungkinan besar hanya peneliti dari wilayah tertentu yang dapat memahami dan mengakses kontennya. Oleh karena itu, banyak editor merasa bahwa mempertahankan bahasa Inggris sebagai bahasa utama publikasi adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa penelitian dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

Tantangan bagi Ilmuwan Non-Penutur Asli Bahasa Inggris

Meskipun editor menyadari bahwa dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah dapat menciptakan ketimpangan, mereka tetap mempertahankan praktik ini karena berbagai alasan praktis. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh ilmuwan non-penutur asli bahasa Inggris adalah kesulitan dalam menulis dan menerbitkan karya mereka di jurnal internasional. Lillis dan Curry (2010) mengamati bahwa "ilmuwan dari negara berkembang sering menghadapi hambatan bahasa yang signifikan, yang dapat mengurangi peluang mereka untuk menerbitkan di jurnal bergengsi" (p. 76).

Namun, banyak editor jurnal internasional mencoba mengatasi masalah ini dengan menyediakan layanan penyuntingan bahasa atau menawarkan bimbingan bagi penulis yang mengalami kesulitan bahasa. Misalnya, beberapa jurnal telah mulai bekerja sama dengan penyedia layanan penyuntingan akademik untuk membantu penulis non-penutur asli meningkatkan kualitas tulisan mereka sebelum dikirimkan untuk ditinjau.

Standar dan Kredibilitas Akademik

Alasan lain mengapa editor mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris adalah untuk memastikan standar dan kredibilitas akademik. Bahasa Inggris telah menjadi standar dalam publikasi ilmiah karena banyaknya literatur dan sumber daya akademik yang tersedia dalam bahasa ini. Menurut Flowerdew (2015), "penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa akademik utama membantu mempertahankan standar kualitas dan kohesi dalam komunitas ilmiah" (p. 91).

Dalam banyak disiplin ilmu, istilah teknis dan teori akademik telah dikembangkan dalam bahasa Inggris. Jika jurnal menerbitkan artikel dalam berbagai bahasa, ada kemungkinan munculnya variasi terminologi yang dapat menyebabkan kebingungan di kalangan peneliti. Oleh karena itu, banyak editor melihat bahasa Inggris sebagai alat untuk menjaga konsistensi dalam literatur akademik dan memastikan bahwa penelitian dapat dengan mudah dibandingkan dan dievaluasi oleh komunitas ilmiah global.

Upaya Menyeimbangkan Dominasi Bahasa Inggris

Meskipun banyak editor mempertahankan bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah, beberapa di antaranya telah mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Salah satu strategi yang diadopsi adalah menyediakan ringkasan atau abstrak dalam bahasa lokal. Menurut Pérez-Llantada (2012), "penyertaan abstrak dalam bahasa asli penulis dapat membantu meningkatkan aksesibilitas penelitian bagi komunitas akademik lokal" (p. 54).

Selain itu, beberapa jurnal juga mulai membuka peluang bagi penulis untuk mengajukan artikel dalam bahasa lain, dengan syarat mereka menyediakan terjemahan resmi dalam bahasa Inggris. Langkah ini memungkinkan peneliti untuk tetap menggunakan bahasa asli mereka tanpa kehilangan kesempatan untuk berkontribusi dalam literatur akademik internasional.

Editor jurnal ilmiah tetap mempertahankan publikasi dalam bahasa Inggris meskipun menyadari dampak hegemoninya karena berbagai alasan. Bahasa Inggris sebagai lingua franca ilmiah meningkatkan keterbacaan dan dampak penelitian, memperkuat kredibilitas akademik, serta memastikan bahwa hasil penelitian dapat diakses oleh audiens global. Selain itu, faktor persaingan dalam akademik dan kebutuhan akan standar terminologi yang konsisten turut mempengaruhi keputusan ini.

Namun, banyak editor juga menyadari pentingnya mengakomodasi keberagaman linguistik dan telah mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatif dominasi bahasa Inggris. Dengan strategi seperti penyediaan abstrak dalam bahasa lokal dan dukungan bagi penulis non-penutur asli bahasa Inggris, komunitas akademik dapat terus berkembang secara inklusif tanpa kehilangan manfaat dari publikasi dalam bahasa Inggris.

Jumat, 21 Maret 2025

Publikasi dan Hegemoni Bahasa Inggris bagian 4

1.     Apa sikap para editor terhadap dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah?

 

Dalam beberapa dekade terakhir, bahasa Inggris telah mendominasi dunia akademik dan publikasi ilmiah. Tren ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk globalisasi, kebijakan universitas, serta standar internasional dalam penelitian dan penerbitan. Namun, dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah menimbulkan beragam reaksi di kalangan editor jurnal ilmiah. Beberapa editor mendukung penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca dalam ilmu pengetahuan, sementara yang lain mengkritisi dampaknya terhadap keberagaman linguistik dan aksesibilitas ilmiah. Artikel ini akan membahas sikap para editor terhadap dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah berdasarkan berbagai studi dan literatur.

Sikap Mendukung Dominasi Bahasa Inggris

Beberapa editor jurnal ilmiah mendukung dominasi bahasa Inggris dengan alasan efisiensi komunikasi ilmiah dan peningkatan visibilitas penelitian. Menurut Hyland (2016), bahasa Inggris memungkinkan para ilmuwan dari berbagai negara untuk berkomunikasi dalam satu bahasa yang dapat dipahami secara universal. Ini mempercepat diseminasi ilmu pengetahuan dan memudahkan kolaborasi internasional.

Lebih lanjut, publikasi dalam bahasa Inggris meningkatkan peluang penelitian untuk dikutip dan diakui secara global. Salager-Meyer (2014) berpendapat bahwa jurnal yang menerbitkan artikel dalam bahasa Inggris cenderung memiliki faktor dampak yang lebih tinggi dibandingkan dengan jurnal berbahasa lokal. Dalam wawancara dengan editor jurnal ilmiah internasional, beberapa di antaranya mengakui bahwa “publikasi dalam bahasa Inggris adalah syarat utama untuk meningkatkan daya saing akademik” (Salager-Meyer, 2014, p. 138).

Selain itu, beberapa editor juga melihat dominasi bahasa Inggris sebagai dorongan bagi ilmuwan dari negara non-berbahasa Inggris untuk meningkatkan keterampilan akademik mereka. Swales (2004) menyatakan bahwa banyak akademisi non-native English speakers (NNES) merasa terdorong untuk memperbaiki kemampuan menulis ilmiah mereka agar dapat diterima dalam jurnal internasional.

Kritik terhadap Dominasi Bahasa Inggris

Meskipun ada manfaat yang diakui, banyak editor jurnal juga mengkritisi dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah. Salah satu kritik utama adalah ketidakadilan linguistik yang ditimbulkan. Canagarajah (2002) menunjukkan bahwa ilmuwan dari negara berkembang sering mengalami kesulitan dalam menerbitkan penelitian mereka karena kendala bahasa. Editor jurnal sering kali lebih memilih manuskrip yang ditulis oleh penutur asli bahasa Inggris, meskipun substansi penelitian dari ilmuwan non-native English speakers (NNES) sama berkualitasnya.

Selain itu, beberapa editor berpendapat bahwa dominasi bahasa Inggris dapat menyebabkan marginalisasi ilmu pengetahuan lokal. Misalnya, banyak penelitian yang relevan dengan konteks nasional tertentu tidak dapat dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Inggris karena dianggap kurang memiliki daya tarik global. Artikel yang berfokus pada masalah lokal sering kali dianggap “kurang relevan” oleh editor jurnal internasional (Lillis & Curry, 2010).

Lebih lanjut, dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah juga berkontribusi terhadap monopoli akademik oleh negara-negara berbahasa Inggris. Sebagai contoh, Flowerdew (2015) menyatakan bahwa ilmuwan dari Amerika Serikat dan Inggris mendominasi komite editorial jurnal-jurnal ternama, yang berarti mereka memiliki kontrol lebih besar atas standar penerbitan dan topik yang dianggap penting.

Upaya Mengatasi Ketimpangan Bahasa dalam Publikasi Ilmiah

Untuk mengatasi masalah yang timbul akibat dominasi bahasa Inggris, beberapa editor jurnal telah mengambil langkah-langkah untuk mendukung keberagaman bahasa dalam publikasi ilmiah. Salah satu solusi yang banyak diterapkan adalah menyediakan ringkasan dalam berbagai bahasa selain Inggris. Misalnya, beberapa jurnal di bidang ilmu sosial dan humaniora memungkinkan penulis untuk menyertakan abstrak dalam bahasa asli mereka selain dalam bahasa Inggris (Pérez-Llantada, 2012).

Selain itu, beberapa editor juga mulai membuka peluang bagi penulis dari negara-negara non-berbahasa Inggris dengan memberikan layanan revisi bahasa gratis atau dengan biaya minimal. Ini bertujuan untuk mengurangi hambatan linguistik tanpa mengorbankan kualitas penelitian (Englander, 2019).

Editor juga mulai lebih sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan lokal dan mulai mendukung publikasi dalam bahasa asli untuk penelitian yang sangat terkait dengan konteks nasional atau regional. Dalam jurnal-jurnal tertentu, artikel yang berfokus pada studi lokal kini memiliki peluang lebih besar untuk diterbitkan, meskipun ditulis dalam bahasa selain Inggris (Bennett, 2015).

Sikap para editor terhadap dominasi bahasa Inggris dalam publikasi ilmiah sangat beragam. Di satu sisi, banyak yang mendukung penggunaannya sebagai alat komunikasi ilmiah global yang efisien dan meningkatkan visibilitas penelitian. Namun, di sisi lain, banyak editor juga menyadari dampak negatifnya terhadap ilmuwan dari negara berkembang, ketidakadilan linguistik, serta marginalisasi ilmu pengetahuan lokal. Oleh karena itu, beberapa jurnal mulai mengadopsi kebijakan yang lebih inklusif, seperti penerbitan dalam berbagai bahasa atau layanan dukungan bagi penulis non-native English speakers. Dengan demikian, tantangan yang ditimbulkan oleh dominasi bahasa Inggris dapat diminimalkan tanpa mengorbankan kualitas komunikasi ilmiah.