Rabu, 19 Maret 2025

Publikasi dan Hegemoni Bahasa Inggris bagian 2

 

1.     Pengaruh dominasi bahasa Inggris terhadap perkembangan dan penyebaran penelitian linguistik terapan.

Dalam beberapa dekade terakhir, bahasa Inggris telah menjadi bahasa dominan dalam dunia akademik, termasuk dalam penelitian linguistik terapan. Pengaruh dominasi bahasa Inggris ini membawa dampak yang signifikan terhadap perkembangan serta penyebaran penelitian di bidang ini. Artikel ini akan membahas bagaimana dominasi bahasa Inggris mempengaruhi berbagai aspek linguistik terapan, mulai dari aksesibilitas penelitian, kolaborasi internasional, hingga dampaknya terhadap keberagaman linguistik dan kebijakan bahasa.

1. Aksesibilitas dan Standarisasi dalam Publikasi Akademik

Salah satu dampak utama dominasi bahasa Inggris dalam penelitian linguistik terapan adalah meningkatnya aksesibilitas hasil penelitian oleh komunitas akademik global. Karena sebagian besar jurnal bereputasi tinggi menggunakan bahasa Inggris, penelitian yang diterbitkan dalam bahasa ini lebih mudah dijangkau oleh para peneliti dan praktisi dari berbagai negara.

Menurut Swales (1997), "English has established itself as the primary language of academic communication, ensuring that research reaches a wider audience and is more likely to be cited" (hlm. 374). Dengan demikian, peneliti yang menggunakan bahasa Inggris memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pengakuan dan pengaruh dalam komunitas akademik global.

Namun, dominasi ini juga menciptakan hambatan bagi peneliti yang tidak memiliki kemahiran tinggi dalam bahasa Inggris. Mereka sering kali menghadapi kesulitan dalam menulis artikel berkualitas tinggi sesuai standar jurnal internasional, yang pada akhirnya dapat membatasi penyebaran penelitian dari negara-negara non-Inggris.

2. Kolaborasi Internasional dan Mobilitas Akademik

Dominasi bahasa Inggris dalam penelitian linguistik terapan juga mendorong meningkatnya kolaborasi internasional antara akademisi dari berbagai negara. Bahasa Inggris berfungsi sebagai lingua franca dalam konferensi akademik, seminar, dan proyek penelitian lintas negara, sehingga mempermudah pertukaran ide dan perkembangan teori baru dalam bidang ini.

Hamel (2007) mencatat bahwa "the use of English in academic collaboration has facilitated international networking and has increased the exchange of knowledge across different linguistic backgrounds" (hlm. 55). Dengan adanya bahasa yang sama, para peneliti dari berbagai latar belakang bahasa dapat bekerja sama lebih efektif, menghasilkan publikasi bersama, dan mempercepat kemajuan penelitian dalam linguistik terapan.

Namun, penggunaan bahasa Inggris sebagai satu-satunya medium komunikasi akademik juga dapat menghambat perspektif lokal yang berbasis pada bahasa dan budaya lain. Beberapa penelitian yang menggunakan bahasa asli dapat mengalami marginalisasi karena kurangnya visibilitas dalam komunitas akademik global.

3. Dampak terhadap Keberagaman Linguistik dalam Penelitian

Salah satu kritik utama terhadap dominasi bahasa Inggris dalam linguistik terapan adalah bahwa hal ini dapat mengurangi keberagaman linguistik dalam penelitian. Banyak teori dan konsep yang dikembangkan dalam bahasa Inggris cenderung mendominasi diskursus akademik, sementara perspektif dari bahasa lain sering kali tidak mendapatkan perhatian yang layak.

Ammon (2012) menyoroti bahwa "the dominance of English in research can lead to a homogenization of academic discourse, where ideas from non-English-speaking contexts are underrepresented" (hlm. 310). Artinya, penelitian yang dilakukan dalam bahasa lain sering kali tidak mendapat cukup eksposur dalam komunitas akademik global, meskipun memiliki nilai ilmiah yang signifikan.

Sebagai contoh, penelitian dalam linguistik terapan yang berkaitan dengan kebijakan bahasa lokal atau metodologi pengajaran bahasa tertentu mungkin lebih efektif jika dilakukan dalam bahasa setempat. Namun, tekanan untuk menerbitkan dalam bahasa Inggris dapat membuat peneliti menyesuaikan pendekatan mereka agar sesuai dengan standar internasional, yang terkadang menghilangkan nuansa dan konteks lokal dari penelitian mereka.

4. Pengaruh terhadap Kurikulum dan Pendidikan Linguistik Terapan

Dalam dunia pendidikan, dominasi bahasa Inggris juga mempengaruhi pengembangan kurikulum dan metode pengajaran linguistik terapan. Banyak program studi linguistik terapan di berbagai negara mengadopsi kurikulum yang berbasis pada sumber daya akademik dalam bahasa Inggris, yang dapat mengarah pada pemahaman yang lebih sempit terhadap disiplin ini.

Menurut Phillipson (1992), "the English language’s role in academia extends beyond research—it shapes how subjects are taught and understood in many institutions worldwide" (hlm. 48). Hal ini berarti bahwa mahasiswa linguistik terapan di berbagai negara sering kali bergantung pada teori dan literatur yang dikembangkan dalam konteks Anglo-Amerika, yang mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan linguistik dan pedagogis di lingkungan mereka sendiri.

Sebagai konsekuensi, banyak institusi pendidikan tinggi mulai memperkenalkan pendekatan bilingual atau multibahasa dalam pengajaran linguistik terapan untuk memastikan bahwa mahasiswa dapat memahami konsep-konsep utama dalam bahasa mereka sendiri sebelum beralih ke literatur akademik dalam bahasa Inggris.

5. Implikasi terhadap Kebijakan Bahasa

Dominasi bahasa Inggris dalam penelitian linguistik terapan juga berdampak pada kebijakan bahasa di berbagai negara. Banyak pemerintah dan lembaga pendidikan mulai menekankan pentingnya kemahiran bahasa Inggris dalam pendidikan tinggi, yang terkadang mengarah pada pengurangan dukungan untuk penelitian dalam bahasa lokal.

Van Parijs (2011) mengemukakan bahwa "the prioritization of English in academic research often influences language policies, sometimes at the expense of local languages and linguistic diversity" (hlm. 143). Akibatnya, beberapa bahasa minoritas atau regional mungkin kurang mendapat perhatian dalam penelitian linguistik terapan, yang dapat berujung pada penurunan jumlah publikasi dan proyek penelitian dalam bahasa-bahasa tersebut.

Namun, beberapa inisiatif telah muncul untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, seperti penerbitan jurnal bilingual dan promosi akses terbuka untuk penelitian dalam berbagai bahasa. Beberapa komunitas akademik juga mulai mendorong penerbitan dalam bahasa lokal guna memperkaya perspektif dalam bidang linguistik terapan.

Kesimpulan

Dominasi bahasa Inggris dalam penelitian linguistik terapan memiliki dampak yang luas terhadap perkembangan dan penyebaran ilmu ini. Di satu sisi, penggunaan bahasa Inggris meningkatkan aksesibilitas, memfasilitasi kolaborasi internasional, dan mempercepat pertukaran informasi ilmiah. Namun, di sisi lain, dominasi ini juga dapat menghambat keberagaman linguistik, membatasi perspektif lokal, dan mempengaruhi kebijakan bahasa dalam pendidikan dan penelitian.

Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca akademik dengan upaya untuk mendukung penelitian dalam berbagai bahasa. Inisiatif seperti jurnal bilingual, kebijakan penerbitan multibahasa, dan peningkatan dukungan terhadap penelitian dalam bahasa lokal dapat membantu menciptakan ekosistem akademik yang lebih inklusif dan beragam.

Selasa, 18 Maret 2025

Publikasi dan Hegemoni Bahasa Inggris bagian 1

1.     Alasan sebagian besar publikasi dalam bidang linguistik terapan diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Dalam dunia akademik, bahasa Inggris telah menjadi lingua franca dalam banyak disiplin ilmu, termasuk linguistik terapan. Sebagian besar publikasi ilmiah dalam bidang ini diterbitkan dalam bahasa Inggris, meskipun terdapat banyak komunitas akademik yang menggunakan bahasa lain. Artikel ini akan membahas beberapa alasan utama di balik dominasi bahasa Inggris dalam publikasi linguistik terapan, termasuk faktor sejarah, ekonomi, dan akademik.

1. Dominasi Sejarah dan Politik Bahasa Inggris dalam Ilmu Pengetahuan

Salah satu alasan utama mengapa bahasa Inggris mendominasi publikasi dalam linguistik terapan adalah sejarah kolonialisme dan pengaruh politik negara-negara berbahasa Inggris dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. Sejak abad ke-19 dan ke-20, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris telah memainkan peran utama dalam membentuk kebijakan pendidikan dan penelitian global.

Phillipson (1992) dalam bukunya Linguistic Imperialism berargumen bahwa "the dominance of English in academia is a continuation of colonial policies that established English as the language of administration, education, and research" (hlm. 48). Dengan kata lain, kebijakan kolonial yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam pendidikan dan pemerintahan telah memberikan dampak jangka panjang terhadap dominasi bahasa ini dalam dunia akademik, termasuk dalam bidang linguistik terapan.

2. Peran Jurnal dan Penerbit Internasional Berbasis di Negara Berbahasa Inggris

Banyak jurnal akademik terkemuka dalam linguistik terapan, seperti Applied Linguistics (Oxford University Press), TESOL Quarterly (Teachers of English to Speakers of Other Languages), dan Journal of Second Language Writing, berbasis di negara-negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat dan Inggris. Penerbit akademik utama, seperti Cambridge University Press dan Routledge, juga menerbitkan sebagian besar karya dalam bahasa Inggris.

Menurut Swales (1997), "the gatekeeping role of major English-language journals and publishers ensures that English remains the primary medium of academic communication" (hlm. 374). Artinya, untuk mencapai visibilitas yang lebih luas, para peneliti dari berbagai negara cenderung menerbitkan karya mereka dalam bahasa Inggris agar dapat diakses oleh komunitas akademik global.

3. Kemudahan Akses dan Distribusi Global

Dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi jurnal ilmiah, publikasi dalam bahasa Inggris lebih mudah diakses oleh akademisi dari berbagai belahan dunia. Banyak basis data akademik utama, seperti Scopus dan Web of Science, lebih banyak mencantumkan jurnal dalam bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa lain. Hal ini memperkuat dominasi bahasa Inggris sebagai medium utama dalam publikasi ilmiah.

Hamel (2007) menyatakan bahwa "the globalization of academic publishing has reinforced the preference for English, as it allows for wider dissemination and greater academic impact" (hlm. 55). Dengan demikian, para akademisi lebih cenderung memilih bahasa Inggris untuk memastikan penelitian mereka dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan mendapatkan lebih banyak sitasi.

4. Standarisasi dalam Pendidikan dan Pengajaran Bahasa

Linguistik terapan sering kali berkaitan dengan pengajaran bahasa asing dan kebijakan bahasa. Karena bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak dipelajari sebagai bahasa kedua di dunia, penelitian dalam linguistik terapan cenderung diterbitkan dalam bahasa Inggris agar dapat digunakan oleh komunitas akademik dan praktisi di berbagai negara.

Seperti yang dikemukakan oleh Crystal (2003), "English has become the dominant language in the field of applied linguistics because it serves as the primary language of instruction and assessment in many educational contexts worldwide" (hlm. 89). Oleh karena itu, penggunaan bahasa Inggris dalam publikasi linguistik terapan juga didorong oleh kebutuhan praktis dalam dunia pendidikan dan pengajaran bahasa.

5. Tekanan Akademik dan Publikasi di Jurnal Bereputasi

Banyak universitas dan lembaga penelitian di seluruh dunia mendorong para akademisi untuk menerbitkan karya mereka di jurnal bereputasi tinggi yang sering kali menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Kinerja akademik sering diukur berdasarkan jumlah publikasi yang diterbitkan dalam jurnal yang terindeks secara global, yang sebagian besar menggunakan bahasa Inggris.

Menurut Ferguson (2007), "academic career progression is increasingly linked to publications in high-impact English-language journals, which reinforces the dominance of English in scholarly communication" (hlm. 215). Dengan kata lain, tekanan akademik untuk mendapatkan pengakuan internasional dan kenaikan pangkat dalam karier akademik turut mendorong para peneliti untuk menerbitkan karya mereka dalam bahasa Inggris.

6. Faktor Ekonomi dan Investasi dalam Riset

Negara-negara berbahasa Inggris, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, mengalokasikan dana yang besar untuk penelitian akademik, termasuk dalam bidang linguistik terapan. Banyak proyek penelitian, konferensi internasional, dan beasiswa yang didanai oleh institusi yang berbasis di negara-negara ini, yang pada akhirnya berkontribusi pada dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik.

Van Parijs (2011) dalam Linguistic Justice for Europe and for the World menyoroti bahwa "the economic advantages associated with English as a global academic language ensure its continued dominance in scholarly publishing" (hlm. 143). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris tetap menjadi bahasa utama dalam akademik karena adanya dukungan ekonomi yang kuat dari negara-negara berbahasa Inggris.

7. Kritik terhadap Dominasi Bahasa Inggris dalam Linguistik Terapan

Meskipun dominasi bahasa Inggris dalam publikasi akademik memiliki banyak keuntungan, hal ini juga menimbulkan kritik. Banyak akademisi berpendapat bahwa dominasi bahasa Inggris dapat menyebabkan marginalisasi penelitian yang dilakukan dalam bahasa lain, sehingga menghambat keragaman linguistik dalam ilmu pengetahuan.

Ammon (2012) menyatakan bahwa "the preference for English in academic publishing creates an imbalance, where valuable research in other languages is often overlooked or undervalued" (hlm. 310). Oleh karena itu, beberapa inisiatif telah dilakukan untuk meningkatkan visibilitas penelitian dalam bahasa lain, seperti penerbitan jurnal bilingual dan promosi akses terbuka untuk penelitian non-Inggris.

Kesimpulan

Bahasa Inggris telah menjadi bahasa utama dalam publikasi linguistik terapan karena berbagai faktor, termasuk sejarah kolonial, dominasi jurnal dan penerbit berbahasa Inggris, kemudahan akses dan distribusi global, serta tekanan akademik untuk menerbitkan di jurnal bereputasi tinggi. Meskipun ada manfaat dari standarisasi ini, kritik terhadap dominasi bahasa Inggris juga harus diperhatikan untuk memastikan bahwa penelitian dalam berbagai bahasa tetap mendapatkan pengakuan yang layak dalam komunitas akademik global.