Selasa, 25 November 2025

Bagaimana meningkatkan minat baca di kalangan anak muda?

Minat baca kadang terasa seperti bakat tersembunyi: kalau tidak dibangkitkan, lama-lama padam. Padahal, kalau sudah menyala, efeknya bisa panjang—dari kemampuan berpikir, rasa percaya diri, sampai peluang masa depan. Nah, tulisan ini mengajak kamu menengok kenapa minat baca anak muda bisa turun, dan lebih penting lagi: bagaimana cara menyalakannya lagi dengan cara yang nyambung sama kehidupan mereka.

 

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

Kenapa kita perlu peduli?

Beberapa tahun terakhir, ada data yang menunjukkan betapa cepatnya minat baca di kalangan anak dan remaja turun, terutama di negara-negara maju. Misalnya, laporan dari National Literacy Trust di Inggris menemukan bahwa pada 2025 cuma sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun yang mengatakan mereka menikmati membaca di waktu senggang—angka terendah dalam 20 tahun. Bahkan tingkat membaca harian turun tajam menjadi kurang dari 1 dari 5 anak usia 8–18 tahun. National Literacy Trust

Lebih detail lagi, mereka yang tidak terlalu menikmati membaca ternyata tetap punya motivasi kalau materi bacaannya relevan dengan film atau serial favorit, hobi, atau minat mereka. Sekitar 38% menyebut ini sebagai motivasi, dan 37% karena sesuai minat atau hobi. Cover buku yang menarik juga punya peran, sekitar 31% memilih karena tertarik oleh judul atau sampul. National Literacy Trust

Dari sisi lain, laporan media besar menyebutkan penurunan ini cukup mengkhawatirkan, terutama di kalangan remaja laki-laki. Tetapi data yang sama memberi petunjuk: kalau bacaan dikaitkan dengan minat atau media lain yang sudah dekat dengan anak muda, kemungkinan mereka tergugah untuk membaca lebih besar. The Guardian

Intinya: masalahnya nyata, tapi ada petunjuk jelas tentang apa yang dapat memicu minat. Dengan kata lain, tantangannya bukan cuma: bagaimana membuat anak muda membaca? tapi bagaimana membuat bacaan terasa relevan, menarik, dan gampang diakses?

 

Penyebab yang sering muncul di lapangan

Selain data internasional tadi, ada juga pandangan praktisi di Indonesia yang menggarisbawahi faktor sosial dan lingkungan. Seorang pustakawan mencatat bahwa lingkungan sosial seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan sistem pendidikan yang memberi akses literatur beragam memegang peranan besar dalam minat baca. Selain itu, teknologi visual dan hiburan digital kerap jadi pesaing berat yang mengubah fokus anak muda. KOMPAS.com

Dari pengamatan tersebut, untuk membangun minat baca tidak cukup hanya menyediakan buku. Dibutuhkan pendekatan holistik: fasilitas, lingkungan sosial, kampanye literasi, dan tentu pemanfaatan teknologi yang tepat. KOMPAS.com

 

Cara praktis menyalakan kembali minat baca

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh sekolah, komunitas, orang tua, penerbit, atau anak muda sendiri. Gaya nonformal, tapi bisa langsung dipakai.

1) Sambungkan bacaan dengan dunia mereka—film, game, hobi, genre populer

Jika data internasional menunjukkan anak dan remaja cenderung tertarik saat bacaan relevan dengan apa yang sudah mereka sukai, kita bisa memanfaatkan itu. Misalnya:

  • Rekomendasi buku berdasarkan film/serial: saat ada film populer atau serial yang sedang naik daun, tampilkan daftar buku yang punya tema serupa; bukan harus adaptasi resmi, tapi setidaknya tema, genre, atau latar yang mirip.
  • Komik, novel ringan, fan fiction, atau tulisan pendek digital yang berkaitan dengan hobi anak muda—misalnya sepak bola, musik, teknologi, e-sports. Semakin dekat dengan dunia mereka, semakin besar kemungkinan mereka buka halaman pertama.

Tujuannya: menurunkan sekat bahwa membaca itu tugas yang membosankan. Kalau mereka sudah tertarik karena ada kaitan dengan hal yang mereka sukai, halaman pertama jadi lebih mudah dibuka.

2) Berikan ruang pilihan, bukan paksaan

Data NLT juga menyebut kebebasan memilih sebagai salah satu motivator. Jadi, di ruang kelas, perpustakaan, atau kelompok baca:

  • Sediakan banyak opsi: buku fiksi, nonfiksi, majalah, artikel pendek, bahkan lirik lagu atau tulisan kreatif. Biarkan anak muda memilih sendiri apa yang ingin dibaca.
  • Jangan memaksa genre tertentu. Kalau seseorang suka cerita misteri atau fantasi, biarkan itu; kemudian perlahan baru dikenalkan pada genre lain.

Kalau terlalu dipaksa, mereka malah menutup diri. Pilihan memberi rasa kontrol, yang meningkatkan rasa senang saat membaca.

3) Jadikan membaca sebagai pengalaman sosial yang ringan, bukan tugas formal

Banyak program literasi mengira klub baca formal adalah kunci. Padahal, hasil survei menunjukkan beberapa cara konvensional kurang efektif di kalangan yang tidak suka membaca. Kita perlu interaksi sosial yang tidak menekan.

Contohnya:

  • Ngobrol santai tentang cerita, bukan ujian: ketika anak muda selesai baca, ajak mereka cerita apa yang paling mereka suka, atau sebaliknya, apa yang bikin mereka bingung atau heran. Bukan soal menjawab soal atau membuat ringkasan panjang.
  • Baca bareng di kafe, taman, atau ruang publik: dengan suasana nyaman, musik ringan, kopi atau teh, membaca bisa terasa seperti aktivitas nongkrong biasa.
  • Challenge atau mini-game: misalnya, siapa yang bisa menemukan kata-kata unik, atau siapa yang bisa merekomendasikan satu buku dengan alasan paling gokil, bukan paling serius.

Strategi ini membantu membaca tidak lagi diidentikkan dengan beban atau kewajiban sekolah, tapi pilihan seru yang bisa dinikmati bersama.

4) Manfaatkan teknologi sebagai pintu masuk, bukan musuh

Teknologi bukan musuh; malah bisa jadi jembatan. Praktisnya:

  • Aplikasi baca gratis atau murah dengan konten yang variatif: e-book, webtoon, artikel pendek. Pastikan ada rekomendasi sesuai minat pengguna.
  • Video pendek tentang buku: review 1–2 menit, atau cuplikan cerita. Ketika anak muda melihat video tentang buku yang menarik, kemungkinan besar mereka penasaran membuka bukunya sendiri.
  • Notifikasi menarik: bukan reminder tugas, tapi kata-kata bikin penasaran—misalnya kutipan lucu atau misteri dari buku.

Dengan cara ini, gadget tidak hanya digunakan untuk scrolling tanpa tujuan, tapi bisa memunculkan peluang membaca, tetap di dunia digital mereka.

5) Perkuat lingkungan yang mendukung secara nyata

Pustakawan di Indonesia menyarankan, selain fasilitas, perlu dukungan keluarga, teman sebaya, dan lembaga yang mengedukasi tentang manfaat membaca. Berasal dari lingkungan yang mendorong, anak muda cenderung akan melihat membaca sebagai hal yang normal dan penting. KOMPAS.com

Praktiknya:

  • Orang tua atau kakak yang membaca di rumah. Anak muda biasanya meniru kebiasaan yang mereka lihat di sekitar.
  • Sekolah yang punya ruang baca nyaman, bukan hanya buku di rak yang tertutup. Layout ruang dan pencahayaan memengaruhi kenyamanan.
  • Komunitas lokal yang adakan acara singkat: misalnya bedah buku 10 menit, review buku ala stand-up comedy, atau cerita 1 menit tentang buku favorit.

Lingkungan seperti ini membuat membaca jadi sesuatu yang terlihat dan diidamkan, bukan dicaci atau disepelekan.

6) Gunakan cerita nyata sebagai contoh, bukan hanya teori manfaat

Anak muda sering kebal dengan nasihat. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh cerita nyata. Contoh:

  • Testimoni anak muda yang berhasil mengembangkan keterampilan atau usaha kecil setelah membaca buku tertentu.
  • Cerita lucu atau dramatis tentang pengalaman membaca; misalnya buku yang bikin kegirangan, jatuh cinta, atau malah bingung, lalu akhirnya jadi pembelajaran hidup.

Dengan cerita nyata, membaca tak lagi abstrak. Mereka bisa melihat, cerita itu memang terjadi pada orang seperti mereka.

 

Apa yang bisa dilakukan oleh penerbit atau pihak lain?

  • Desain sampul yang eye-catching: data menunjukkan sampul menarik memengaruhi niat membaca. Sebuah cover unik atau judul yang memancing rasa penasaran dapat menjual perhatian. National Literacy Trust
  • Kolaborasi dengan kreator digital: penulis konten, influencer, atau kreator yang digemari anak muda. Mereka bisa mempromosikan buku lewat konten yang relevan, tanpa terkesan memaksa.
  • Format pendek: buku atau cerita yang bisa dibaca cepat di perjalanan atau saat jeda cepat. Anak muda cenderung bisa lebih konsisten jika bacaan tidak terlalu panjang, apalagi di awal.

 

Penutup: dari hal kecil, minat baca bisa tumbuh besar

Meningkatkan minat baca di kalangan anak muda bukan soal satu kampanye besar saja. Ini soal menyentuh dunia mereka—film favorit, hobi, gaya hidup digital—lalu membawa buku ke dalamnya secara natural. Kalau lingkungan men-support, teknologi dipakai dengan pintar, pilihan dibebaskan, dan suasana sosial dibuat nyaman, kemungkinan anak muda membuka buku akan meningkat.

Mulai dari hal kecil: satu poster menarik di kampus, satu video singkat tentang buku, satu sesi ngobrol santai soal bacaan dengan teman. Dari langkah-langkah sederhana itu, minat baca yang tadinya redup bisa menyala kembali—pelan tapi pasti.

Kalau kita semua ikut ambil peran, bukan hanya buku yang semakin dibaca, tapi juga generasi muda yang semakin percaya diri, kreatif, dan siap menghadapi masa depan. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, mereka akan jadi penulis, penerbit, atau pembaca setia yang membagikan energi positif itu ke orang lain.

Selamat mencoba, dan semoga gerakan kecil ini menumbuhkan kebiasaan besar: membaca dengan hati.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar