Minat baca kadang terasa seperti bakat tersembunyi: kalau tidak dibangkitkan, lama-lama padam. Padahal, kalau sudah menyala, efeknya bisa panjang—dari kemampuan berpikir, rasa percaya diri, sampai peluang masa depan. Nah, tulisan ini mengajak kamu menengok kenapa minat baca anak muda bisa turun, dan lebih penting lagi: bagaimana cara menyalakannya lagi dengan cara yang nyambung sama kehidupan mereka.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
Kenapa kita
perlu peduli?
Beberapa
tahun terakhir, ada data yang menunjukkan betapa cepatnya minat baca di
kalangan anak dan remaja turun, terutama di negara-negara maju. Misalnya,
laporan dari National Literacy Trust di Inggris menemukan bahwa pada 2025 cuma
sekitar 1 dari 3 anak dan remaja usia 8–18 tahun yang mengatakan mereka
menikmati membaca di waktu senggang—angka terendah dalam 20 tahun. Bahkan tingkat
membaca harian turun tajam menjadi kurang dari 1 dari 5 anak usia 8–18 tahun. National Literacy Trust
Lebih detail
lagi, mereka yang tidak terlalu menikmati membaca ternyata tetap punya motivasi
kalau materi bacaannya relevan dengan film atau serial favorit, hobi, atau
minat mereka. Sekitar 38% menyebut ini sebagai motivasi, dan 37%
karena sesuai minat atau hobi. Cover buku yang menarik juga punya peran,
sekitar 31% memilih karena tertarik oleh judul atau sampul. National Literacy Trust
Dari sisi
lain, laporan media besar menyebutkan penurunan ini cukup mengkhawatirkan, terutama
di kalangan remaja laki-laki. Tetapi data yang sama memberi petunjuk: kalau
bacaan dikaitkan dengan minat atau media lain yang sudah dekat dengan anak
muda, kemungkinan mereka tergugah untuk membaca lebih besar. The Guardian
Intinya:
masalahnya nyata, tapi ada petunjuk jelas tentang apa yang dapat memicu
minat. Dengan kata lain, tantangannya bukan cuma: bagaimana membuat anak
muda membaca? tapi bagaimana membuat bacaan terasa relevan, menarik, dan
gampang diakses?
Penyebab
yang sering muncul di lapangan
Selain data
internasional tadi, ada juga pandangan praktisi di Indonesia yang
menggarisbawahi faktor sosial dan lingkungan. Seorang pustakawan mencatat bahwa
lingkungan sosial seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan sistem
pendidikan yang memberi akses literatur beragam memegang peranan besar dalam
minat baca. Selain itu, teknologi visual dan hiburan digital kerap jadi pesaing
berat yang mengubah fokus anak muda. KOMPAS.com
Dari
pengamatan tersebut, untuk membangun minat baca tidak cukup hanya menyediakan
buku. Dibutuhkan pendekatan holistik: fasilitas, lingkungan sosial, kampanye
literasi, dan tentu pemanfaatan teknologi yang tepat. KOMPAS.com
Cara praktis
menyalakan kembali minat baca
Berikut beberapa
strategi yang bisa diterapkan oleh sekolah, komunitas, orang tua, penerbit,
atau anak muda sendiri. Gaya nonformal, tapi bisa langsung dipakai.
1)
Sambungkan bacaan dengan dunia mereka—film, game, hobi, genre populer
Jika data
internasional menunjukkan anak dan remaja cenderung tertarik saat bacaan
relevan dengan apa yang sudah mereka sukai, kita bisa memanfaatkan itu.
Misalnya:
- Rekomendasi buku berdasarkan film/serial: saat
ada film populer atau serial yang sedang naik daun, tampilkan daftar buku yang
punya tema serupa; bukan harus adaptasi resmi, tapi setidaknya tema,
genre, atau latar yang mirip.
- Komik, novel ringan, fan fiction, atau tulisan
pendek digital yang berkaitan dengan hobi anak muda—misalnya
sepak bola, musik, teknologi, e-sports. Semakin dekat dengan dunia mereka,
semakin besar kemungkinan mereka buka halaman pertama.
Tujuannya:
menurunkan sekat bahwa membaca itu tugas yang membosankan. Kalau mereka sudah
tertarik karena ada kaitan dengan hal yang mereka sukai, halaman pertama jadi
lebih mudah dibuka.
2) Berikan
ruang pilihan, bukan paksaan
Data NLT
juga menyebut kebebasan memilih sebagai salah satu motivator. Jadi, di ruang
kelas, perpustakaan, atau kelompok baca:
- Sediakan banyak opsi: buku
fiksi, nonfiksi, majalah, artikel pendek, bahkan lirik lagu atau tulisan
kreatif. Biarkan anak muda memilih sendiri apa yang ingin dibaca.
- Jangan memaksa genre tertentu. Kalau
seseorang suka cerita misteri atau fantasi, biarkan itu; kemudian perlahan
baru dikenalkan pada genre lain.
Kalau
terlalu dipaksa, mereka malah menutup diri. Pilihan memberi rasa kontrol, yang
meningkatkan rasa senang saat membaca.
3) Jadikan
membaca sebagai pengalaman sosial yang ringan, bukan tugas formal
Banyak
program literasi mengira klub baca formal adalah kunci. Padahal, hasil survei
menunjukkan beberapa cara konvensional kurang efektif di kalangan yang tidak
suka membaca. Kita perlu interaksi sosial yang tidak menekan.
Contohnya:
- Ngobrol santai tentang cerita, bukan ujian:
ketika anak muda selesai baca, ajak mereka cerita apa yang paling mereka
suka, atau sebaliknya, apa yang bikin mereka bingung atau heran. Bukan
soal menjawab soal atau membuat ringkasan panjang.
- Baca bareng di kafe, taman, atau ruang publik:
dengan suasana nyaman, musik ringan, kopi atau teh, membaca bisa terasa
seperti aktivitas nongkrong biasa.
- Challenge atau mini-game:
misalnya, siapa yang bisa menemukan kata-kata unik, atau siapa yang bisa
merekomendasikan satu buku dengan alasan paling gokil, bukan paling
serius.
Strategi ini
membantu membaca tidak lagi diidentikkan dengan beban atau kewajiban sekolah,
tapi pilihan seru yang bisa dinikmati bersama.
4)
Manfaatkan teknologi sebagai pintu masuk, bukan musuh
Teknologi
bukan musuh; malah bisa jadi jembatan. Praktisnya:
- Aplikasi baca gratis atau murah dengan konten
yang variatif: e-book, webtoon, artikel pendek. Pastikan ada
rekomendasi sesuai minat pengguna.
- Video pendek tentang buku:
review 1–2 menit, atau cuplikan cerita. Ketika anak muda melihat video
tentang buku yang menarik, kemungkinan besar mereka penasaran membuka
bukunya sendiri.
- Notifikasi menarik: bukan
reminder tugas, tapi kata-kata bikin penasaran—misalnya kutipan lucu atau
misteri dari buku.
Dengan cara
ini, gadget tidak hanya digunakan untuk scrolling tanpa tujuan, tapi bisa
memunculkan peluang membaca, tetap di dunia digital mereka.
5) Perkuat
lingkungan yang mendukung secara nyata
Pustakawan
di Indonesia menyarankan, selain fasilitas, perlu dukungan keluarga, teman
sebaya, dan lembaga yang mengedukasi tentang manfaat membaca. Berasal dari lingkungan
yang mendorong, anak muda cenderung akan melihat membaca sebagai hal yang
normal dan penting. KOMPAS.com
Praktiknya:
- Orang tua atau kakak yang membaca di rumah. Anak
muda biasanya meniru kebiasaan yang mereka lihat di sekitar.
- Sekolah yang punya ruang baca nyaman, bukan hanya
buku di rak yang tertutup. Layout ruang dan pencahayaan memengaruhi
kenyamanan.
- Komunitas lokal yang adakan acara singkat:
misalnya bedah buku 10 menit, review buku ala stand-up comedy, atau cerita
1 menit tentang buku favorit.
Lingkungan
seperti ini membuat membaca jadi sesuatu yang terlihat dan diidamkan, bukan
dicaci atau disepelekan.
6) Gunakan
cerita nyata sebagai contoh, bukan hanya teori manfaat
Anak muda
sering kebal dengan nasihat. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh cerita nyata.
Contoh:
- Testimoni anak muda yang berhasil mengembangkan
keterampilan atau usaha kecil setelah membaca buku tertentu.
- Cerita lucu atau dramatis tentang pengalaman
membaca; misalnya buku yang bikin kegirangan, jatuh cinta, atau malah bingung,
lalu akhirnya jadi pembelajaran hidup.
Dengan
cerita nyata, membaca tak lagi abstrak. Mereka bisa melihat, cerita itu memang
terjadi pada orang seperti mereka.
Apa yang
bisa dilakukan oleh penerbit atau pihak lain?
- Desain sampul yang eye-catching: data
menunjukkan sampul menarik memengaruhi niat membaca. Sebuah cover unik
atau judul yang memancing rasa penasaran dapat menjual perhatian. National Literacy Trust
- Kolaborasi dengan kreator digital:
penulis konten, influencer, atau kreator yang digemari anak muda. Mereka
bisa mempromosikan buku lewat konten yang relevan, tanpa terkesan memaksa.
- Format pendek: buku atau cerita yang bisa dibaca cepat di
perjalanan atau saat jeda cepat. Anak muda cenderung bisa lebih konsisten
jika bacaan tidak terlalu panjang, apalagi di awal.
Penutup:
dari hal kecil, minat baca bisa tumbuh besar
Meningkatkan
minat baca di kalangan anak muda bukan soal satu kampanye besar saja. Ini soal menyentuh
dunia mereka—film favorit, hobi, gaya hidup digital—lalu membawa buku ke
dalamnya secara natural. Kalau lingkungan men-support, teknologi dipakai dengan
pintar, pilihan dibebaskan, dan suasana sosial dibuat nyaman, kemungkinan anak
muda membuka buku akan meningkat.
Mulai dari
hal kecil: satu poster menarik di kampus, satu video singkat tentang buku, satu
sesi ngobrol santai soal bacaan dengan teman. Dari langkah-langkah sederhana
itu, minat baca yang tadinya redup bisa menyala kembali—pelan tapi pasti.
Kalau kita
semua ikut ambil peran, bukan hanya buku yang semakin dibaca, tapi juga
generasi muda yang semakin percaya diri, kreatif, dan siap menghadapi masa
depan. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, mereka akan jadi penulis, penerbit,
atau pembaca setia yang membagikan energi positif itu ke orang lain.
Selamat
mencoba, dan semoga gerakan kecil ini menumbuhkan kebiasaan besar: membaca
dengan hati.
.png)