Menjadi penulis bukan berarti punya waktu luang berhari-hari buat duduk
nulis. Banyak penulis—apalagi yang bekerja, kuliah, atau punya keluarga—nyaris
selalu kejar-kejaran dengan waktu. Kalau tidak hati-hati, rencana menulis bisa
lenyap karena sibuk mengejar deadline lain, tugas, atau urusan rumah.
Nah, artikel ini ngajak kamu ngobrol ringan soal cara mengatur waktu
menulis yang realistis dan kreatif, supaya penulis sibuk tetap bisa
produktif. Bukan teori kaku, tapi trik yang bisa langsung dipakai sehari-hari,
bahkan kalau cuma punya 10–20 menit per hari.
Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)
1) Pahami dulu: kenapa kita sering
kehabisan waktu menulis?
Sebelum masuk ke tips, ada baiknya tahu sedikit konteks. Banyak penulis yang
merasa terhambat bukan hanya karena sibuk, tapi juga karena ada rasa takut,
perfeksionisme, atau emosi negatif yang nggak disadari.
Sebuah ulasan jurnal populer meringkas penelitian klasik dari Yale di era
1970–an sampai 80–an. Peneliti menemukan bahwa penulis yang mengalami writer’s
block umumnya tidak bahagia; blok itu terkait kombinasi
depresi, kecemasan, dan rasa tidak percaya diri. Mereka juga membagi penulis
yang stuck ke beberapa tipe: penulis yang cemas dan terlalu kritis, yang marah
atau takut dibandingkan dengan orang lain, yang apatis karena aturan terasa
terlalu ketat, serta yang mencari pengakuan eksternal. Inc.com
Artinya, ketika kita kalah cepat dengan tugas lain, tekanan internal semacam
ini bisa makin memperburuk situasi. Waktu terasa sedikit, tapi pikiran malah
sibuk menghakimi diri sendiri, bukan menulis. Maka, mengatur waktu bukan hanya
soal jam di kalender, tetapi juga soal mengakali rasa takut dan menjaga mood
menulis tetap baik.
2) Strategi pertama: buat jatah waktu
super pendek tapi konsisten
Kalau kamu sibuk sampai tidak punya satu jam pun, jangan langsung patah
arang. Mulai dari 10–15 menit per hari, lalu perlahan tambah.
Kenapa ini efektif?
·
10 menit tidak terkesan
berat. Otak tidak sempat menolak karena berpikir terlalu panjang.
·
Semakin sering kamu menulis
dalam waktu singkat, kamu memaksa diri membangun kebiasaan. Waktu 10 menit itu
cepat berlalu, tapi catatan atau paragraf kecil hasilnya terasa nyata.
·
Dari pengalaman banyak
penulis, kunci kebiasaan bukan seberapa panjang menulis, tetapi seberapa
konsisten. Satu halaman kecil tiap hari jauh lebih berguna daripada tiga jam
sekali sebulan.
Praktiknya: tentukan jam tetap, misalnya:
·
sebelum mandi pagi;
·
saat istirahat makan siang;
·
sebelum tidur.
Set alarm 10 menit. Setelah bunyi, kamu boleh berhenti. Kalau mood lagi
bagus, lanjut; kalau tidak, cukup 10 menit lagi besok. Buat kotak centang di
kalender. Rasanya sederhana, tapi seringkali lebih ampuh dari rencana ambisius
yang tidak pernah dijalankan.
3) Strategi kedua: temukan slot waktu nyelip di jadwal harian
Penulis sibuk punya banyak celah waktu yang tidak dimanfaatkan karena
dianggap terlalu pendek. Padahal, celah 5–20 menit bisa dipakai menulis atau
merencanakan tulisan.
Misalnya:
·
Saat menunggu kopi di
dispenser kantor;
·
Di dalam kendaraan umum;
·
Menunggu kelas atau meeting
dimulai;
·
Saat menunggu anak/gadget
selesai kegiatan.
Agar efektif:
1. Bawa catatan kecil atau pakai aplikasi catatan di HP.
2. Tulis minimal satu kalimat, satu ide, atau satu garis besar
topik.
3. Kalau perlu, rekam ide pakai suara lalu tulis ulang nanti.
Tips tambahan: kalau kamu sering lupa, pasang reminder pendek di HP sebelum
jadwal sibuk dimulai. Misalnya: Catat satu ide naskah!
Dengan cara ini, kamu tidak tergantung pada slot besar. Waktu kecil pun jadi
kumpulan batu bata yang membangun tembok tulisanmu.
4) Strategi ketiga: atur
prioritas tugas dengan trik blok waktu
sederhana
Banyak orang pakai metode time blocking yang menyusun hari menjadi
beberapa blok waktu. Tidak perlu rumit:
·
Pilih satu blok kecil untuk
menulis: misalnya 20 menit di awal hari.
·
Tandai blok itu seperti
janji penting. Tidak boleh diganggu kecuali darurat.
·
Jika benar-benar tidak
memungkinkan, pindahkan ke blok lain pada hari yang sama, bukan dibatalkan.
Kalau kamu bekerja di kantor, blok ini bisa sebelum jam kerja dimulai atau
saat jam makan siang. Kalau di rumah, blok bisa setelah memastikan anak-anak
sudah tidur atau setelah tugas rumah selesai. Intinya, definisikan batas
waktu, lalu beri prioritas setara tugas penting lain.
Satu trik tambahan: saat menulis, jelaskan dulu apa posisi tulisanmu—misalnya,
apakah kamu menulis bab baru, memperbaiki paragraf, atau membuat outline.
Dengan begitu, walau hanya 20 menit, kamu langsung tahu fokusnya, tidak buang
waktu mikir mau apa.
5) Strategi keempat: siapkan kerangka atau prompt
lebih dulu
Banyak penulis yang kehilangan waktu karena bingung mulai. Agar waktu
singkat lebih optimal, siapkan kerangka minimal di luar jam menulis:
·
Buat daftar topik yang mau
kamu tulis minggu ini;
·
Tuliskan satu kalimat
tujuan tulisan setiap topik;
·
Siapkan beberapa pertanyaan
yang ingin kamu jawab lewat tulisan.
Kerangka ini bisa kamu susun di malam hari atau saat weekend, lalu dipakai
selama minggu berjalan. Saat waktu menulis tiba, kamu tinggal mengisi—bukan
memikirkan ide lagi dari nol. Cara ini membuat waktu 10–20 menit terasa seperti
30–40 menit karena efisiensi yang meningkat.
6) Strategi kelima: gunakan ritual singkat untuk memicu mood menulis
Banyak penulis punya ritual kecil: minum teh, dengarkan lagu tertentu, atau
duduk di kursi tertentu. Ritual ini bukan sekadar kebiasaan—dia memberi sinyal
ke otak bahwa saatnya menulis.
Kamu bisa membuat ritual sederhana:
·
Buka jendela, tarik napas
dalam, lalu buka dokumen;
·
Letakkan satu benda favorit
di meja;
·
Nyalakan lampu meja atau
lilin kecil.
Ritual idealnya 1–2 menit. Tujuannya: menandai awal menulis, memberi
transisi dari aktivitas lain. Ketika ritual diulang, otak akan lebih siap untuk
menulis, bahkan ketika waktu terbatas.
7) Strategi keenam: atur lingkungan supaya gangguan minimal
Studi di Indonesia tentang mahasiswa yang mengalami writer’s block
memberikan petunjuk penting. Penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa sering
mengalami blok karena ketakutan kritik, hilangnya kesenangan, atau
ketidaktertarikan terhadap topik. Mereka mengatasi ini dengan mengurangi
pikiran negatif dan menciptakan lingkungan menulis yang sesuai,
seperti di perpustakaan atau kafe yang tenang—guna menghindari gangguan dan
kelesuan. UIN Jakarta Repository
Walau studi tersebut fokus ke mahasiswa, intinya bisa diterapkan ke penulis
sibuk:
·
Cari tempat yang membuat
kamu fokus.
·
Kurangi gangguan, misalnya
mematikan notifikasi atau letakkan HP di tempat lain.
·
Kalau harus menulis di
rumah, beri tanda ke orang di rumah bahwa kamu sedang sesi menulis—agar tidak
diganggu.
Lingkungan gampang berubah; jika kamu sering berpindah tempat menulis,
simpan hal-hal penting di satu folder atau aplikasi. Jadi, saat kamu pindah ke
lokasi lain, kamu tetap bisa langsung menulis tanpa repot.
8) Strategi ketujuh: buat sistem reward sederhana
Menulis kadang terasa berat, apalagi saat dibatasi waktu. Sistem reward bisa
jadi motivasi kecil yang efektif:
·
Setelah 10–15 menit
menulis, kamu boleh baca artikel ringan atau minum kopi.
·
Setelah berhasil
menyelesaikan satu paragraf atau satu bagian, beri diri kamu pujian mini,
misalnya Yay, selesai! di catatan.
·
Setiap minggu, jika kamu
berhasil konsisten menulis selama X hari, berikan reward yang lebih besar—makan
malam enak, nonton film, atau beli buku.
Reward tidak perlu mahal. Yang penting, otak tahu ada sesuatu yang
menyenangkan setelah usaha menulis. Dengan begitu, meski jadwal padat, kamu
tetap termotivasi untuk membuka dokumen.
9) Strategi kedelapan: evaluasi mingguan tapi tetap ringan
Akhiri minggu dengan review singkat:
1. Apa yang kamu capai dalam menulis?
2. Di mana waktu menulis paling efektif?
3. Satu hal apa yang bisa diperbaiki minggu depan?
Evaluasi ini tidak harus panjang. Cukup 5–10 menit. Tujuannya supaya kamu
melihat progres, bukan hanya fokus pada apa yang belum selesai. Kalau kamu
melihat perkembangan—meski sedikit—kamu lebih termotivasi untuk terus menyediakan
waktu, walau sibuk.
10) Jangan takut menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan
Tidak ada satu teknik yang cocok untuk semua penulis. Mungkin kamu sudah
mencoba 10 menit per hari tapi merasa masih kurang. Cobalah:
·
Menggabungkan beberapa
strategi;
·
Memperpanjang atau
mempersingkat waktu;
·
Mengubah jam menulis;
·
Menggunakan alat bantu baru
(timer, aplikasi catatan, papan tulis kecil).
Jika strategi terasa membebani, ganti. Tujuannya adalah menemukan cara
yang berkelanjutan, bukan yang memaksa hingga membuat kamu berhenti.
Ingat: kamu adalah penulis sibuk; waktu bukan musuh, melainkan hal yang bisa
kamu retas dengan cara kreatif.
Penutup: menulis bukan hanya soal waktu
panjang, tapi tentang menggunakan
waktu yang ada
Penulis sibuk mungkin tidak punya hari kosong. Tapi dengan strategi di
atas—jatah waktu pendek, slot nyelip, blok waktu, kerangka rapi, ritual,
lingkungan mendukung, dan evaluasi ringan—menulis bisa tetap berjalan. Bahkan
kamu bisa menyelesaikan naskah panjang dengan cara ini, asal konsisten dan
tetap kreatif mengatur waktu.
Pada akhirnya, yang penting bukan seberapa lama kamu duduk menulis, tetapi
seberapa sering kamu membuka dokumen, menyentuh keyboard atau pena, dan
menuliskan sesuatu—walau hanya satu kalimat. Dari satu kalimat, bisa jadi satu
paragraf, bab, bahkan buku. Selamat mencoba, dan semoga tips ini bikin jadwalmu
lebih ramah buat menulis di tengah kesibukan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar