Oleh: Tim Redaksi CV. Cemerlang Publishing
Pernahkah Anda terbayang untuk menulis buku sejarah?
Mungkin Anda merasa terintimidasi. Banyak penulis pemula merasa takut salah
menuliskan tahun, keliru menyebutkan nama tokoh, atau khawatir para sejarawan
akan mengkritik karya mereka habis-habisan . Ketakutan ini wajar, namun
tidak seharusnya mematikan kreativitas.
Menulis buku sejarah—baik fiksi sejarah maupun
non-fiksi populer—menuntut penulis untuk menyeimbangkan imajinasi liar dengan
akurasi data yang ketat agar cerita tetap kredibel . Namun, jangan salah
sangka. Buku sejarah yang baik bukanlah sekadar memindahkan data statistik dan
tanggal ke dalam paragraf narasi . Tujuan utama Anda tetaplah menyampaikan
peristiwa masa lalu dengan cara yang hidup, menarik, dan mudah dipahami oleh
pembaca awam. Bukankah sejarah terasa membosankan jika hanya berisi deretan
angka tahun dan nama?
Bagaimana cara menulis buku sejarah yang tetap akurat
namun juga memikat? Mari kita telusuri bersama.
Memahami Esensi Penulisan Sejarah Populer
Sebelum mulai menulis, penting untuk menanamkan pola
pikir yang benar. Anda mungkin sedang menulis buku sejarah populer, atau
mungkin novel berlatar sejarah. Bedanya, tulisan populer adalah karya kreatif
yang dapat dikonsumsi oleh seluruh masyarakat umum, disampaikan dengan bahasa
sederhana sehingga mudah dipahami . Tulisan sejarah populer harus disampaikan
secara menarik dan persuasif sehingga digemari banyak orang .
Dalam konteks ini, fakta sejarah berfungsi
sebagai panggung atau latar tempat cerita
atau analisis Anda bermain, bukan sebagai tokoh utamanya . Sejarah sebagai
disiplin ilmu memang meneliti, menganalisis, dan mempertanyakan peristiwa masa
lalu melalui narasi atau cerita yang didukung oleh bukti . Tetapi ketika
ditulis dengan pendekatan populer, sejarah menjadi jembatan yang membawa
pembaca merasakan atmosfer masa lalu—mencium bau mesiu, merasakan lapar di masa
pendudukan, atau mendengar deru semangat di rapat-rapat rakyat .
Sejarawan Peter Carey, misalnya, butuh bertahun-tahun
meneliti perjalanan Pangeran Diponegoro hingga akhirnya berhasil menerbitkan
buku yang menjadi best-seller . Ini membuktikan bahwa riset
yang mendalam, jika dikemas dengan narasi yang kuat, bisa menjangkau pembaca
luas.
Langkah 1: Riset yang Melampaui Buku Teks Sekolah
Riset adalah sesuatu yang wajib dilakukan
bagi penulis buku sejarah . Buku sejarah di sekolah sering kali hanya
menyajikan garis besar: tanggal, nama tokoh, dan lokasi . Untuk menulis
buku yang "berdarah dan berdaging", penulis perlu menggali sumber
yang lebih intim.
Sumber Primer dan Sekunder
Sumber primer adalah "emas murni" bagi
penulis sejarah. Dokumen ini berasal langsung dari periode waktu yang sedang
Anda tulis: surat pribadi, buku harian, foto lama, koran yang terbit pada
tanggal kejadian, atau rekaman wawancara pelaku sejarah .
Saya pernah membaca pengalaman seorang penulis yang
menghabiskan waktu berjam-jam membaca iklan di koran lawas tahun 1940-an. Iklan
memberitahu banyak hal: apa merek sabun yang populer, berapa harga beras, film
apa yang sedang tayang di bioskop, hingga bahasa gaul yang anak muda gunakan.
Detail kecil inilah yang akan membuat tulisan sejarah Anda terasa hidup .
Sementara itu, sumber sekunder adalah buku sejarah,
biografi, atau artikel yang ditulis oleh sejarawan di masa kini tentang masa
lalu. Gunakan sumber sekunder untuk membangun kerangka struktur cerita, lalu
gunakan sumber primer untuk mengisi detail emosional dan sensorik .
Wawancara dan Observasi Lokasi
Jika Anda menulis tentang era yang masih memiliki
saksi hidup, cari dan ajak mereka bicara. Dengarkan bukan hanya fakta
kejadiannya, tetapi juga emosi mereka. Tanyakan apa yang mereka takutkan saat
itu, apa yang mereka makan, atau lagu apa yang sering mereka nyanyikan .
Selain itu, kunjungi lokasi kejadian jika
memungkinkan. Rasakan kontur tanahnya, lihat pencahayaannya, dan perhatikan
arsitektur yang tersisa. Pengalaman sensorik ini akan Anda transfer ke dalam
tulisan, membuat pembaca ikut merasakan suasana yang Anda gambarkan .
Langkah 2: Menulis dengan Akurasi dan Daya Tarik
Setelah riset terkumpul, saatnya menuangkan semua data
ke dalam tulisan yang menarik. Berikut adalah prinsip-prinsip kunci yang perlu
Anda pegang.
Prinsip "Gunung Es"
Pegang prinsip "Gunung Es" dalam menulis
sejarah populer. Penulis harus melakukan riset sebanyak mungkin—katakanlah
100%—namun yang masuk ke dalam naskah cukup 10% atau 20% saja. Sisanya yang 80%
akan mengendap di bawah permukaan, memberikan kepercayaan diri pada penulis
saat mendeskripsikan dunia cerita .
Kesalahan fatal penulis pemula biasanya terletak pada
keinginan untuk memamerkan semua hasil temuan mereka. Mereka membanjiri pembaca
dengan tanggal, nama jenderal, dan urutan peristiwa politik yang membosankan
(yang disebut info-dumping). Hindari hal ini. Biarkan fakta
sejarah melayani cerita, bukan sebaliknya .
Menangkap Atmosfer dengan Panca Indra
Jangan hanya menyebutkan fakta. Hidupkan masa lalu
dengan detail sensorik. Pembaca ingin merasakan imersi total .
Apa yang karakter atau subjek buku Anda makan? Di era
kolonial, menu sarapan priyayi pasti berbeda dengan menu kuli pelabuhan.
Pakaian juga menjadi penanda status sosial yang penting. Jangan hanya menyebut
"dia memakai kebaya". Jelaskan jenis kainnya. Apakah kasar? Apakah
halus buatan luar negeri?
Satu hal yang sering dilupakan adalah bau. Setiap
zaman memiliki aroma khasnya. Jakarta modern berbau knalpot dan aspal panas.
Namun, Batavia abad ke-19 mungkin berbau kanal yang kotor, rempah-rempah yang
dijemur, dan kotoran kuda. Masukkan unsur bau ini ke dalam deskripsi
Anda .
Menghidupkan Tokoh: Manusia, Bukan Patung Batu
Salah satu kesalahan terbesar dalam menulis sejarah
(terutama biografi atau narasi sejarah) adalah terjebak pada pengkultusan
tokoh. Realitas sejarah selalu abu-abu . Berikan dimensi kemanusiaan pada
tokoh Anda:
- Berikan Kelemahan: Tidak ada manusia yang sempurna. Tunjukkan rasa
takut, keraguan, atau kelelahan mereka. Kelemahan inilah yang membuat
keberanian mereka bermakna .
- Nuansa Abu-abu: Hindari menggambarkan pihak "baik"
sebagai malaikat dan pihak "jahat" sebagai iblis. Mereka semua
memiliki motif, ketakutan, dan keluarga yang menunggu di rumah.
Penggambaran yang bernuansa akan mengangkat kualitas tulisan Anda .
Langkah 3: Mewaspadai Jebakan Anakronisme
Anakronisme adalah kesalahan menempatkan
sesuatu tidak sesuai dengan waktunya. Kesalahan ini bisa sangat fatal dan
merusak kredibilitas Anda sebagai penulis sejarah populer. Pembaca yang teliti
akan langsung "keluar" dari cerita jika menemukan hal janggal .
Beberapa contoh anakronisme yang sering terjadi:
- Teknologi: Karakter menyalakan lampu listrik di desa yang
baru dialiri listrik sepuluh tahun kemudian. Atau menggunakan ritsleting
pada pakaian di era ketika orang masih menggunakan kancing .
- Bahasa: Jangan biarkan karakter tahun 1800-an
mengatakan dia sedang "depresi" atau "stres", karena
istilah psikologi tersebut belum populer. Gunakan kata seperti
"masygul" atau "jiwanya terguncang" . Istilah
"stres" dalam konteks psikologi populer belum lazim digunakan
masyarakat umum pada masa itu . Panggilan "Bung",
"Tuan", atau "Den" lebih tepat daripada
"Kak" atau "Gan" untuk era 1940-an .
- Pemikiran: Memberikan pola pikir modern abad ke-21 kepada
karakter yang hidup dalam kungkungan budaya tradisional abad ke-18.
Karakter boleh saja progresif, tetapi progresivitasnya harus tetap berakar
pada konteks zamannya .
Untuk menghindari hal ini, Anda harus meneliti fakta
sekecil apa pun. Jika ragu apakah benda A sudah ada di tahun X, cek ulang.
Jangan malas memverifikasi detail remeh-temeh .
Langkah 4: Menyusun Narasi yang Rapi
Setelah semua bahan terkumpul dan Anda memahami cara
menuangkannya, susunlah narasi dengan struktur yang jelas:
- Tentukan Ruang Lingkup: Putuskan apakah buku Anda
berupa narasi sejarah, biografi, atau fiksi sejarah. Tentukan batasan tema
dan periodisasi agar tulisan tidak melebar .
- Buat Garis Waktu: Buatlah dua garis waktu yang berdampingan:
garis waktu sejarah (fakta) dan garis waktu cerita (alur buku Anda). Ini
membantu menjaga konsistensi .
- Mulai Menulis: Mulailah dengan pembukaan yang menarik. Jangan
langsung menyodorkan data. Mulailah dengan adegan, pertanyaan, atau cerita
kecil yang menggugah rasa ingin tahu pembaca .
- Penyampaian yang Baik: Susun peristiwa secara
berurutan agar mudah diikuti. Pemaparan setiap bagian harus mengimbangi
kecepatan pemahaman pembaca—supaya mereka tidak merasa bingung .
- Pemaparan Analisis: Sebuah buku sejarah yang baik
tidak hanya menceritakan "apa" yang terjadi, tetapi juga
"mengapa" hal itu terjadi. Berikan analisis dan penafsiran Anda,
berdasarkan data yang Anda kumpulkan .
Kesimpulan
Menulis buku sejarah adalah tanggung jawab besar. Anda
merekam jejak masa lalu dan menyampaikannya kepada generasi sekarang .
Namun, ini juga adalah kesempatan kreatif yang luar biasa. Dengan riset yang
cermat, narasi yang hidup, dan perhatian pada detail, Anda dapat menciptakan
buku sejarah yang tidak hanya akurat, tetapi juga memikat dan menginspirasi
pembaca.
Ingatlah, pembaca mencari pengalaman,
bukan sekadar data. Mereka ingin tahu bagaimana rasanya hidup di era revolusi
kemerdekaan, mencium bau mesiu, atau merasakan kegelisahan menunggu kabar dari
radio gelap . Tugas Anda sebagai penulis adalah menjembatani jurang waktu
tersebut. Selamat menulis dan merekam sejarah!
Daftar Pustaka
Detak Pustaka Toko. (2024). Tips Menulis Buku Sejarah
yang Baik: Merekam Jejak Masa Lalu. Detak Pustaka Toko.
Dalman, H. (2021). Penulisan Populer. PT.
RajaGrafindo Persada.
Penerbit Kolofon. (2026). Cara Menulis Novel Sejarah:
Riset, Fakta, dan Imajinasi. Penerbit Kolofon.
Penerbit Kolofon. (2026). Menulis Novel Sejarah
Kemerdekaan: Panduan Menulis Kisah Masa Lalu dengan Hati-hati dan Memikat
Pembaca. Penerbit Kolofon.
Storey, W. K. (2025). Sejarah Penulisan.
Research Press.
SuaraBaru.id. (2024). Penulis Tionghoa Alex Cheung
Berbagi Ilmu Menulis Buku kepada Mahasiswa Sejarah. SuaraBaru.id.
Universitas Airlangga. (2024). FIB UNAIR Gelar Kuliah
Tamu Dari UMS Malaysia. Fakultas Ilmu Budaya UNAIR.