Bayangkan Anda telah menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, menulis sebuah naskah. Jari-jari lelah mengetik, pikiran terkuras habis, dan akhirnya Anda mengetik kata "TAMAT." Perasaan lega bercampur bangga memenuhi dada. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah naskah ini sudah siap untuk dikirim ke penerbit?
Jawabannya mungkin: belum. Naskah pertama yang baru
selesai ditulis sering kali masih berupa bahan mentah. Di sinilah peran self-editing atau swasunting menjadi
sangat penting. Self-editing adalah proses di mana penulis memeriksa dan
memperbaiki hasil tulisannya sendiri sebelum naskah tersebut dilihat oleh orang
lain, terutama editor profesional . Ini adalah tahap krusial yang membedakan
naskah yang amburadul dengan naskah yang layak terbit.
Mengapa Self-Editing Itu Penting?
Banyak penulis, terutama pemula, merasa karyanya sudah
sempurna setelah draf pertama selesai. Ini adalah jebakan subjektivitas.
Memposisikan diri sebagai editor untuk tulisan sendiri memang diakui lebih
sulit daripada mengedit tulisan orang lain . Namun, manfaatnya sangat
besar:
- Meningkatkan Kualitas Naskah: Self-editing memastikan
tulisan lebih rapi, bebas dari kesalahan dasar, dan pesan tersampaikan
dengan jelas .
- Memperbesar Peluang Diterima Penerbit: Naskah yang sudah disunting sendiri menunjukkan profesionalisme
penulis. Penerbit rata-rata sangat ketat menyaring naskah; naskah yang
banyak kesalahan rentan ditolak .
- Menghemat Biaya: Naskah yang sudah rapi akan mengurangi
beban kerja editor profesional, sehingga biaya editing profesional pun
bisa lebih efisien .
Langkah-Langkah Self-Editing yang Efektif
Proses self-editing yang baik bergerak dari hal-hal
besar (struktur dan isi) menuju ke hal-hal kecil (ejaan dan tanda baca) .
Anda tidak bisa langsung memeriksa koma dan titik jika alur cerita atau argumen
masih kacau. Berikut adalah langkah-langkah sistematis yang bisa Anda ikuti:
1. Istirahatkan Naskah Anda
Langkah pertama yang paling penting namun sering diabaikan: beri
jeda. Setelah menyelesaikan draf pertama, istirahatkan naskah selama
beberapa hari, bahkan seminggu . Dengan memberi jarak waktu, Anda akan
membaca ulang naskah dengan sudut pandang yang lebih segar dan objektif,
seolah-olah Anda adalah pembaca baru . Kesalahan yang tidak terlihat saat
mata masih "panas" akan lebih mudah ditemukan.
2. Periksa Hal-Hal Besar (Struktural dan Isi)
Pada tahap ini, Anda menjadi editor struktural dan
pengembang. Fokus pada gambaran besar naskah.
- Kesesuaian Judul: Apakah judul sudah menarik dan mencerminkan
isi naskah secara akurat? Hindari judul clickbait yang
bisa mengecewakan pembaca .
- Struktur dan Alur: Untuk fiksi, apakah alur
cerita mudah diikuti? Adakah bagian yang membingungkan atau plot
hole? Untuk nonfiksi, apakah alur pembahasan sudah logis dan
sistematis? .
- Gaya Bahasa: Apakah gaya bahasa Anda konsisten dan
sesuai dengan jenis tulisan dan target pembaca? Gaya bahasa untuk novel
remaja jelas berbeda dengan buku ilmiah .
3. Periksa Hal-Hal Sedang (Paragraf dan Kalimat)
Setelah struktur utama kokoh, saatnya menyelami lebih
dalam.
- Keefektifan Kalimat: Periksa apakah ada
kalimat yang bertele-tele atau tidak efektif. Kalimat dan paragraf pendek
umumnya lebih dianjurkan untuk meningkatkan kenyamanan pembaca .
- Pemilihan Kata (Diksi): Pastikan setiap kata yang
Anda pilih sudah tepat dan sesuai konteks. Hindari pengulangan kata yang
terlalu sering agar tulisan tidak monoton . Anda bisa
memanfaatkan Tesaurus untuk mencari sinonim kata .
- Konsistensi Istilah: Jika Anda menggunakan
istilah asing, pastikan penggunaannya konsisten dari awal hingga akhir.
Jangan mencampur padanan bahasa Indonesia dan istilah asing untuk hal yang
sama karena akan membingungkan pembaca .
4. Periksa Hal-Hal Kecil (Detail dan Tata Bahasa)
Ini adalah tahap proofreading, yaitu
pemeriksaan akhir terhadap detail-detail kecil .
- Ejaan dan Tanda Baca: Pastikan semua penulisan
sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) .
- Kesalahan Ketik (Typo): Satu typo saja bisa
menurunkan kenyamanan pembaca dan bahkan mengubah makna kalimat. Misalnya,
"yang" menjadi "uang" .
- Referensi (untuk Nonfiksi): Jika Anda menulis buku
ilmiah, periksa kembali semua kutipan dan daftar pustaka. Pastikan semua
sumber yang dirujuk tercantum, dan penulisannya sesuai dengan gaya sitasi
yang Anda gunakan (misalnya, APA Style) secara konsisten .
Teknik Membaca Nyaring
Salah satu teknik paling sederhana namun sangat ampuh
dalam self-editing adalah membaca nyaring. Dengan mengeluarkan
suara saat membaca naskah, Anda akan lebih mudah menangkap:
- Kalimat yang janggal atau tidak enak didengar.
- Kesalahan ketik yang terlewat saat membaca dalam hati.
- Penggunaan tanda baca yang salah, karena secara alami Anda akan
berhenti atau mengubah intonasi .
Tools Pendukung Self-Editing
Teknologi dapat menjadi asisten andal dalam proses
self-editing. Beberapa alat yang bisa Anda manfaatkan antara lain:
- Google Docs: Memiliki fitur koreksi ejaan otomatis yang
dapat mendeteksi kesalahan ketik dan kata tidak baku .
- Sipebi (Sistem Pengecekan Bahasa): Dikembangkan oleh Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, alat ini khusus untuk menyunting ejaan
dalam bahasa Indonesia. Fungsinya mirip dengan Grammarly, tetapi untuk
bahasa Indonesia .
- KBBI Daring: Untuk memeriksa makna dan bentuk baku suatu
kata .
- Tesaurus: Untuk menemukan sinonim dan memperkaya
diksi, sehingga tulisan Anda tidak monoton .
Kesimpulan
Self-editing bukanlah pilihan, melainkan keharusan bagi
setiap penulis yang profesional. Ini adalah wujud tanggung jawab Anda terhadap
karya sendiri dan pembaca. Proses ini mungkin terasa menantang pada awalnya,
tetapi dengan latihan, Anda akan semakin terampil. Bambang Trim dalam
bukunya Menulispedia bahkan menempatkan swasunting sebagai
salah satu tahapan penting dalam proses kreatif menulis, bersama dengan
pramenulis, menulis draf, merevisi draf, dan mempublikasikan karya .
Ingatlah, draf pertama adalah bongkahan marmer;
self-editing adalah pahat yang akan mengubahnya menjadi patung yang indah.
Jadi, luangkan waktu, ikuti langkah-langkahnya, dan saksikan naskah Anda berubah
menjadi karya yang siap memukau pembaca dan diterbitkan oleh CV. Cemerlang
Publishing.
Referensi
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2021). Sipebi:
Sistem Pengecekan Bahasa. Kemdikbudristek.
Diandra Kreatif. (2025). Panduan Menulis Buku untuk Pemula
– Part 2: Proses Editing hingga Penerbitan.
Kwantlen Polytechnic University. (2018). Self-Edit
Your Work. In University 101: Study, Strategize and Succeed.
NSCC. (2024). Self-Edit Your Work. In NSCC
College 101 3e.
Penerbit Deepublish. (2024). 7 Hal yang Harus
Diperhatikan saat Melakukan Self Editing.
Penerbit Deepublish. (2024). Software & Cara
Editing Buku Sendiri dalam 5 Langkah.
Penerbit Kolofon. (2025). 5 Cara Efektif Menghemat
Anggaran Self-Publishing.
Trim, B. (2016). Menulispedia: Panduan Menulis
untuk Mereka yang Insaf Menulis. Nuansa Cendekia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar