INTEGRASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH: Model Bottom-up dan Top-down dalam Perspektif Administrasi Publik

   

Abstrak

Buku Integrasi Perencanaan Pembangunan Daerah mengkaji secara komprehensif salah satu isu paling krusial dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia, yaitu bagaimana menyinergikan pendekatan perencanaan top-down dan bottom-up guna mewujudkan pembangunan yang efektif, merata, dan partisipatif. Buku ini berangkat dari argumen utama bahwa dikotomi antara perencanaan yang diarahkan oleh pemerintah pusat (top-down) dan perencanaan yang berbasis aspirasi masyarakat (bottom-up) bukanlah dua pendekatan yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya perlu diintegrasikan secara sinergis. Integrasi tersebut dipandang sebagai kunci untuk mengatasi persoalan klasik pembangunan daerah, seperti kesenjangan pusat–daerah, tumpang tindih kebijakan dan program, lemahnya sinkronisasi perencanaan–penganggaran, serta rendahnya kualitas partisipasi masyarakat. Pada akhirnya, integrasi perencanaan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Ditulis dari perspektif administrasi publik, buku ini tidak hanya membahas teori dan konsep perencanaan pembangunan, tetapi juga mengulas secara mendalam kerangka regulasi, mekanisme kelembagaan, serta tantangan implementatif dalam konteks Indonesia. Analisis mencakup berbagai instrumen kebijakan dan regulasi strategis, mulai dari Undang-Undang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), Undang-Undang Pemerintahan Daerah, hingga peran Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan pemanfaatan digitalisasi perencanaan melalui Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD). Dengan demikian, buku ini menyajikan peta jalan yang jelas tentang bagaimana integrasi perencanaan dapat dirancang dan dioperasionalkan. Bab-bab akhir buku memperkaya pembahasan melalui studi kasus empiris, baik yang menunjukkan praktik keberhasilan maupun kegagalan integrasi perencanaan di berbagai daerah di Indonesia, serta perbandingan dengan praktik internasional. Pembelajaran dari kasus-kasus tersebut menjadi dasar bagi perumusan rekomendasi kebijakan yang bersifat aplikatif dan kontekstual. Dengan pendekatan tersebut, buku ini tidak hanya relevan sebagai referensi akademik, tetapi juga sebagai panduan praktis bagi para pengambil keputusan dalam membangun model integrasi perencanaan yang kolaboratif, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi masa depan. Pokok Bahasan Utama Tiap Bab • Bab 1–3 (Dasar Teori) Menguraikan konteks strategis pembangunan daerah, problem kesenjangan pusat–daerah, serta membahas secara kritis kelebihan dan kelemahan mendasar pendekatan top-down dan bottom-up. • Bab 4 (Regulasi) Menjembatani teori dan praktik melalui analisis landasan hukum serta dokumen perencanaan pembangunan dalam sistem pemerintahan Indonesia. • Bab 5–6 (Proses dan Model Integrasi) Menjadi inti buku dengan memetakan tahapan integrasi, aktor-aktor kunci, hambatan struktural, dan peluang inovasi, sekaligus menawarkan model integrasi perencanaan yang divisualisasikan secara sistematis. • Bab 7 (Aplikasi dan Studi Kasus) Menguji model dan teori melalui studi kasus empiris di dalam dan luar negeri, serta menarik pelajaran dari praktik nyata integrasi perencanaan. • Bab 8–9 (Kesimpulan dan Arah Masa Depan) Merangkum temuan utama, menyajikan rekomendasi strategis kebijakan, serta menguraikan agenda penelitian dan implikasi praktis bagi akademisi dan praktisi.


Judul: INTEGRASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH:

Model Bottom-up dan Top-down dalam Perspektif Administrasi Publik

Penulis: Rustan IR; Ahmad Al Yakin; Hamdan

ISBN: 978-634-96452-7-0

Tahun Terbit: 2026

Penerbit: CV. Cemerlang Publishing

Dokumen Tersedia (Full-text):

DOWNLOAD PDF (NASKAH LENGKAP)

Format: PDF | Ukuran: [10 MB]

Daftar Pustaka

  • Andrews, M. (2013). The limits of institutional reform in development. Cambridge University Press.

    Asian       Development         Bank.   (2018). Capacity development for development effectiveness. ADB.

    Blair, H. (2018). Planning and governance in decentralized contexts. World Development, 108, 12– 25. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2018.03.009

    Cheema, G. S., & Rondinelli, D. A. (2007). Decentralizing governance: Emerging concepts and practices. Brookings Institution Press.

    Cornwall, A. (2008). Unpacking ‘Participation’: Models, meanings and practices. Community Development        Journal,            43(3),   269–283. https://doi.org/10.1093/cdj/bsn010

    Fung, A. (2015). Putting the public back into governance: The challenges of citizen participation and its future. Public Administration Review, 75(4), 513–522. https://doi.org/10.1111/puar.12361

    Handayani, R. (2019). Permasalahan data dalam perencanaan pembangunan daerah. Jurnal Kebijakan Publik, 14(2), 110–123.

    Juniawan, W. D. (2019). Implementasi sistem perencanaan pembangunan terintegrasi melalui e- planning [Tesis]. Universitas Brawijaya.

    Kementerian Dalam Negeri. (2019). Permendagri Nomor 70 Tahun 2019 tentang Sistem Informasi Pemerintahan Daerah.

    Kusmanto, H., & Ginting, B. (2021). Peran pemerintah daerah dalam integrasi perencanaan pembangunan. Jurnal Ilmu Administrasi, 18(1), 55–70.

    Lumbantobing, S. L., Kusmanto, H., & Ginting, B. (2022). Implementasi Permendagri No. 70 Tahun 201

    Saputro, A. D. (2021). E-Musrenbang sebagai Instrumen Penguatan Partisipasi Publik dalam Perencanaan Pembangunan di Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, 25(2), 204–223.

    Setyono, D. A., Darmawan, A. B., & Kurniawan, A. (2022). Collaborative Governance dalam Musrenbang: Studi atas Inovasi Layanan Musrenbang Corner di Kota Surabaya. Jurnal Ilmu Administrasi Negara, 20(1), 1–15.

    Shah, A. (Ed.). (2007). Participatory Budgeting. The World Bank.

    Watanabe, S. (2016). Machizukuri in Japan: A Historical Perspective on Participatory Community Planning. In C. Hein (Ed.), The Routledge Handbook of Planning History. Routledge.

    Yuliani, F. (2020). Disfungsi Musrenbang dalam Perencanaan Pembangunan Daerah: Studi pada Kabupaten Dharmasraya. Jurnal Politico, 9(3), 1–15.

  • Bappenas. (2017). Studi Kebijakan Pengembangan Produk Unggulan Daerah: Lesson Learned dari Program OTOP Thailand. Kementerian PPN/Bappenas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar